kabar

Iklan di Maroko sarankan orang bunuh diri jika tidak bisa bahasa Inggris

Pihak sekolah akhirnya mencabut iklan tersebut dan meminta maaf melalui laman Facebooknya.

13 Agustus 2017 05:52

Sebuah papan iklan di pinggir jalan di Kota Kasablanka, Maroko, memicu polemik. Sebab kata-kata dalam pariwara ini kontroversial.

IKlan itu bilang, "Kalau Anda masih tidak dapat berbahasa Inggris, lebih baik bunuh diri."

Iklan aneh ini dibiayai oleh sebuah sekolah swasta mengajarkan bahasa Inggris kepada murid-muridnya.

Para pengguna media sosial heboh. Pihak sekolah akhirnya mencabut iklan tersebut dan meminta maaf melalui laman Facebooknya.  

Bahasa Arab merupakan bahasa resmi di Maroko. Sebagai bekas jajajan Prancis, negara Arab maghribi ini juga menjadikan Prancis sebagai bahasa kedua.

Jafar Muhammad, sopir tuk-tuk tiap hari membantu mengevakuasi demonstran luka di Baghdad, Irak. (NBC News)

Seliwer tuk-tuk di Midan Tahrir

Sopir tuk-tuk menjadi jawaban atas kebuntuan dihadapi ambulans dan truk pemasok logistik kerap terjebak di tengah lautan massa menuntut Perdana Menteri Irak Adil Abdul Mahdi mundur.

Ulama Arab Saudi Syekh Awad al-Qarni. (Twitter)

Ulama tersohor Arab Saudi diracuni obat dalam penjara

Pihak penjara sengaja memberikan obat keliru kepada Syekh Awad. Pemberian obat itu berakhir bulan lalu. 

Pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah dan putranya, Jawad Nasrallah. (Arabi21)

Twitter tutup akun milik putra pemimpin Hizbullah

Amerika memasukkan Jawad dalam daftar teroris bulan lalu. Washington DC menyatakan dia bertanggung jawab atas serangan teror terhadap Israel di Tepi Barat.

Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner. (Twitter)

Prancis bersedia terima sebelas kombatan ISIS dideportasi dari Turki

Castaner mengatakan sekitar 250 warga Prancis bergabung dengan ISIS telah dipulangkan sejak 2014. 





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Seliwer tuk-tuk di Midan Tahrir

Sopir tuk-tuk menjadi jawaban atas kebuntuan dihadapi ambulans dan truk pemasok logistik kerap terjebak di tengah lautan massa menuntut Perdana Menteri Irak Adil Abdul Mahdi mundur.

15 November 2019

TERSOHOR