kabar

KJRI Jeddah paksa majikan bayar kompensasi kepada pembantu dianiaya

SW diberangkatkan LR dengan visa ziarah, menurut aturan berlaku di Arab Saudi tidak bisa digunakan untuk bermukim.

08 September 2019 06:51

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah, Arab Saudi memaksa seorang majikan membayar kompensasi senilai 50 ribu riyal atau setara Rp 185 juta kepada asisten rumah tangga berinisial SW. Kompensasi ini merupakan hasil kesepakatan setelah SW menyatakan bersedia memaafkan keluarga majikan telah menganiaya dirinya.

Selain itu, KJRI Jeddah juga berhasil memaksa majikan melunasi sisa gaji 12 bulan, nilainya mencapai 12 ribu riyal (Rp 44,4 juta), seperti dilansir dalam siaran pers KJRI Jeddah diterima Albalad.co hari ini.

KJRI Jeddah menemuka SW atas informasi dari polisi, menyebutkan ada seorang perempuan asal Indonesia dengan beberapa bekas luka di beberapa bagian tubuhnya. Kepada polisi, dia mengaku lari dari rumah majikannya.

"Kami memerintahkan tim petugas agar segera menjemput SW di kantor polisi," kata Konsul Jenderal Indonesia di Jeddah Mohamad Hery Saripudin. "Ini tindakan tidak berperikemanusiaan harus diproses secara hukum. Kami perintahkan agar kasus ini dikawal dan pelaku dibawa ke jalur hukum."

KJRI Jedah saat ini sedang berkoordinasi dengan instansi berwenang di tanah air untuk melakukan upaya hukum terhdap pihak-pihak terlibat dalam penganiayaan terhadap SW.

Berbekal surat keterangan dari polisi, Tim Pelayanan dan Pelindungan Warga KJRI Jeddah membawa SW ke rumah sakit untuk melakukan visum.

Kepada petugas, janda dua anak ini menuturkan dirinya dibawa majikan dari Abha ke Jeddah. Saat ada kesempatan, dia kabur dari rumah majikannya di Jeddah karena tidak tahan terhadap penyiksaaan oleh majikan lelaki dan perempuan, serta beban kerja berlebihan.

SW bercerita dia kemudian ditolong oleh seseorang dan dibawa ke kantor polisi, lalu dijemput oleh pihak KJRI Jeddah.

Menurut SW, tindakan kasar atas dirinya berawal dari majikan perempuan memergoki suaminya tengah mencoba melakukan pelecehan seksual terhadap SW. Sejak itu, setiap melakukan kesalahan kecil, dia mengalami kekerasan fisik, mulai dari tamparan, cambukan dengan kabel, hingga siraman air mendidih. Bahkan dia pernah dikasih makan dari sisa makanan di tong sampah.

Berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP), SW nekat berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja meski ada larangan pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Timur Tengah, termasuk Arab Saudi. SW mengaku tidak mengetahui soal larangan itu.

SW dipertemukan oleh temannya kepada seorang tekong berinisial LR, berjanji membantu mencarikan pekerjaan di Arab Saudi dan memberi dia uang Rp 3 juta. Namun LR mewanti-wanti SW agar ketika ditanya petugas imigrasi saat membuat paspor, dia harus bilang dirinya akan berangkat kerja ke Malaysia.

Sekitar satu bulan menunggu di rumah, akhirnya perempuan kelahiran Lombok Barat pada 1994 itu diantar oleh sopir LR pada 19 Desember 2017 untuk terbang ke Jakarta. Tiba di Bandar Udara Soekarno Hatta, dia dijemput oleh LR dan pada hari sama dia diterbangkan ke Riyadh Arab Saudi. Dari Riyadh, SW langsung diberangkatkan menuju Abha, ibu kota Provinsi Asir, berjarak sekitar 700 kilometer dari KJRI Jeddah.

"Di Riyadh, saya dijemput oleh orang Saudi. Saya tidak kenal. Terus saya diterbangkan lagi ke Abha," ujar SW kepada Konsul Tenaga Kerja KJRI Jeddah Mochamad Yusuf. "Setelah di Abha, saya dijemput orang dan dibawa ke rumah majikan."

Yusuf mengungkapkan SW merupakan korban perdagangan manusia bermodus pekerjaan. Selama di Arab Saudi, SW berstatus ilegal karena tidak memiliki izin tinggal. Dia diberangkatkan LR dengan visa ziarah, menurut aturan berlaku di Arab Saudi tidak bisa digunakan untuk bermukim.

Setelah menerima uang kompensasi dan gaji, SW dipulangkan ke tanah air kemarin.

 

KJRI Jeddah, Arab Saudi melepas pemulangan 21 perempuan Indonesia bermasalah karena bekerja di Arab Saudi memakai visa ziarah. (KJRI Jeddah buat Albalad.co)

KJRI Jeddah pulangkan 21 warga Indonesia berangkat bekerja ke Arab Saudi dengan visa ziarah

Karena tidak tahan terhadap kondisi kerja, mereka memilih kabur dari rumah majikan ke KJRI Jeddah.

Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Jeddah, Arab Saudi. (Facebook)

Mayat perempuan Indonesia dalam koper di Makkah meninggal karena sakit

Tiga bulan terakhir, korban menderita diabetes dan agak sesak napas sampai meninggal. Dua warga Indonesia pembuang mayat AS akan dideportasi.

Suasana Kota Makkah, Arab Saudi. (Gulf Business)

Polisi Makkah tangkap pembuang mayat perempuan Indonesia dalam koper

Kedua tersangka adalah lelaki dan perempuan warga Indonesia.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Saudi masih penjarakan imam dan khatib Masjid Al-Haram

Saudi juga masih memenjarakan orang-orang mengkritik keputusan Bin Salman untuk memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, meski relasi resmi itu sudah terjalin lagi pekan lalu.

16 Januari 2021

TERSOHOR