kabar

Para pembangkang Saudi bikin partai politik

"Tiap warga Saudi telah dewasa berhak mencalonkan diri atau memilih wakil-wakilnya di parlemen mempunyai kekuasaan membuat undang-undang dan mengawasi lembaga-lembaga eksekutif di Saudi."

24 September 2020 02:24

Para aktivis Arab Saudi tinggal di luar negeri kemarin mengumumkan telah membentuk sebuah partai politik bernama Partai Perkumpulan Nasional. Partai ini dibuat untuk mengonsolidasi para aktivis antirezim Bani Saud dalam memperjuangkan penegakan demokrasi dan hak asasi di negara Kabah itu.

"Kami mengumumkan Partai Perkumpulan Nasional bertujuan membangun sebuah jalan ke arah demokrasi sebagai sistem pemerintahan di Arab Saudi," kata para aktivis Saudi itu melalui keterangan tertulis.

Pembentukan partai ini sebagai bentuk perlawanan kaum pegiat politik dan hak asasi Saudi terhadap rezim brutal dan represif dipimpin Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. Dokumen pembentukan Partai Perkumpulan Nasional itu antara lain ditandatangani oleh sejumlah aktivis Saudi tersohor, seperti Madawi ar-Rasyid (profesor menetap di London) dan Abdullah al-Audah, putra dari Syekh Salman al-Audah, ulama telah dipenjara Saudi semena-semena sejak September 2017.

Sila baca: We will remove Al Saud regime

Dalam pidato peresmian, partai bikinan ativis Saudi ini menekankan semua warga negara memiliki kedudukan sama di depan hukum tanpa ada diskriminasi. Sumber-sumber daya alam di negara Kabah itu juga menjadi milik rakyat Saudi.

"Tiap warga Saudi telah dewasa berhak mencalonkan diri atau memilih wakil-wakilnya di parlemen mempunyai kekuasaan membuat undang-undang dan mengawasi lembaga-lembaga eksekutif di Saudi."

Partai Perkumpulan Nasional menyerukan pemisahan kekuasaan dan pembentukan sistem hukum independen berdasarkan konstitusi hasil referendum. Namun partai ini tidak menjelaskan mengenai nasib bentuk negara kerajaan dan peran apa akan dimainkan keluarga Bani Saud setelah demokrasi terbentuk di Saudi.

Partai itu juga mengkritik kebijakan-kebijakan luar negeri agresif dijalankan oleh penguasa Saudi.

Peluncuran Partai Perkumpulan Nasional ini berlangsung menjelang peringatan dua tahun pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis surat kabar the Washington Post. Dia dihabisi di dalam kantor Konsulat Saudi di Kota Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.

Umar Abdul Aziz, aktivis Saudi bermukim di Monteral, Kanda, mengakui pengumumkan terbentuknya Partai Perkumpulan Nasional ini sangat membahayakan kaum oposisi. "Kami meyakini bergabung ke dalam partai ini berbahaya bagi kami tapi saya tahu banyak warga Saudi sudah kehilangan kebebasan dan nyawa mereka," katanya melalui Twitter.

Sejak Bin Salman menjadi putera mahkota tiga tahun lalu, Saudi getol menangkapi ulama, aktivis, wartawan, akademisi, pejabat, konglomerat, dan pangeran dianggap menentang kebijakan-kebijakannya.

Faisal Assegaf/Middle East Eye

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan pamannya, Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz. (Middle East Eye)

Bin Salman bebaskan pamannya dari tahanan

Di kalangan keluarga Bani Saud, Pangeran Ahmad dipandang lebih pantas menjadi raja Saudi berikutnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman tangkap mantu Raja Abdullah atas tuduhan rencanakan kudeta

Sejak menjabat putera mahkota, Bin Salman getol menangkapi kerabatnya dianggap sangat berpengaruh dan bisa mengganjal ambisinya menuju singgasana. Keluarga mendiang Raja Fahad dan Raja Abdullah termasuk menjadi sasaran.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Saudi Gazette)

Bin Salman dan dilema Biden

Bin Salman makin percaya tidak ada yang bisa membantah atau mencegah kuasa mutlaknya, sekalipun negara sebesar Amerika.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat menyampaikan strategi baru PIF (Dana Investasi Pemerintah) untuk periode 2021-2025. . (Saudi Gazette)

Nasib Bin Salman, naik takhta atau terdepak

Sejak dia masuk jalur suksesi pada April 2015, dua putera mahkota tersingkir.





comments powered by Disqus