kabar

Bin Salman diduga dukung rencana Israel untuk gulingkan raja Abdullah

Bin Salman dijanjikan mendapat kewenangan untuk mengurus situs-situs agama di Yerusalem, selama ini dipegang oleh Yordania.

21 April 2021 06:39

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman diduga ikut menyokong rencana Israel untuk menggulingkan Raja Yordania Abdullah bin Husain.

Mengutip seorang pejabat keamanan Yordania menolak disebut namanya, surat kabar Al-Akhbar terbitan Libanon melaporkan upaya melengserkan penguasa negara Bani Hasyim itu merupakan skema melibatkan Israel, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Dia menambahkan rencana kudeta di Yordania ini merupakan rancangan besar dan rumit, serta melibatkan banyak pihak. Namun Raja Abdullah berhasil menggagalkan persekongkolan itu dengan tenang, tetap menjaga keseimbangan internal dan regional.

"Kewaspadaan raja dan gerak cepat militer serta pasukan keamanan telah menggagalkan upaya kudeta untuk menggulingkan dirinya dan menggantikan dia dengan saudara tirinya, Pangeran Hamzah bin Husain," kata sumber itu.

Dia mengklaim rencana Israel itu disebabkan oleh penolakan Raja Abdullah terhadap proposal damai bikinan Presiden Donald Trump, digadang-gadang sebagai kesepakatan abad ini. Amman menuding proposal Trump itu sebagai usaha untuk mencari tanah air alternatif bagi Palestina dan gagasan Israel untuk mencaplok Lembah Yordania.

Bin Salman menyokong ide negara Zionis itu dengan imbalan mendapatkan kewenangan untuk mengurus situs-situs agama di Yerusalem, selama ini dipegang oleh Yordania.

Dengan persetujuan Amerika, Bin Salman menyuruh mantan kepala rumah tangga istana Raja Abdullah, Basim Awadallah, untuk membuat persiapan peralihan kekuasaan dari Raja Abdullah ke Pangeran Hamzah. Sedangkan eks komandan pasukan keamanan Palestina, Muhammad Dahlan sejak 2011 menetap di UEA, ditugaskan memobilisasi orang-orang Palestina di Yordania dan suku lokal untuk menentang Raja Abdullah.

Menurut laporan Al-Akhbar itu, Arab Saudi mempersenjatai beberapa suku di wilayah selatan Yordania, memberikan kewarganegaraan kepada mereka sebagai balasan untuk bersiap menyerang kalau diperlukan.

Yordania diguncang isu kudeta setelah awal bulan ini pasukan keamanan menangkap 20 orang, termasuk Pangeran Hamzah dikenai status tahanan rumah. Tapi dalam hitungan hari, perselisihan dalam keluarga kerajaan ini reda setelah eks putera mahkota Yordania itu berjanji setia terhadap Raja Abdullah. 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman ingin Saudi dan Iran menjalin hubungan baik dan istimewa

Bin Salman beberapa tahun lalu sesumbar ingin menciptakan perang di Iran. Sebaliknya, perang dilancarkan negara Kabah itu terhadap milisi Al-Hutiyun di Yaman sokongan Iran telah menyebabkan Saudi keteteran.

Keluarga kerajaan Yordania, termasuk Raja Abdullah bin Husain dan saudara tirinya, Pangeran Hamzah bin Husain, pada 11 April 2021, berziarah ke makam keluar di kompleks istana Raghdan di Ibu Kota Amman, Yordania. (Jordan's Royal Court)

Yordania masih tahan dua tersangka utama rencana kudeta, 16 orang lainnya dibebaskan

Dua tersangka utama, mantan kepala rumah tangga istana Bassam Awadallah dan bekas utusan khusus Yordania untuk Arab Saudi Syarif Hasan bin Zaid, tetap ditehan.

Sulaiman ad-Duwasy, ulama Saudi ditahan dalam penjara di istana milik Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman sejak 22 April 2016. (Twitter)

Ulama Saudi hilang sejak April 2016 dipaksa berlutut di hadapan Bin Salman

Sulaiman ad-Duwasy ditangkap gegara cuitan dianggap menyindir Bin Salman. Dia mendekam dalam penjara di istana Bin Salman.

Raja Yordania Abdullah bin Husain dan permaisuri Ratu Nur. (Royal Palace)

Setelah dituduh ingin kacaukan Yordania, Pangeran Hamzah akhirnya bersumpah setia kepada Raja Abdullah

"Saya menyerahkan diri saya kepada Yang Mulia Raja Abdullah," kata Pangeran Hamzah.





comments powered by Disqus