kabar

Seruan boikot oleh Ahmadinejad sukses, jumlah pemilih Iran tidak sampai 50 persen

"Siapapun menang dalam pemilihan presiden ini nantinya akan mengatakan dia tidak dapat memperbaiki persoalan ekonomi karena campur tangan orang-orang berpengaruh," kata warga Teheran bernama Ali Husaini.

20 Juni 2021 09:30

Seruan untuk memboikot pemilihan presiden Iran digelar Jumat lalu berhasil. Jumlah warga Iran memilih empat calon tidak sampai 50 persen.

Menteri Dalam Negeri Iran Abdul Reza Rahmani Fazli kemarin mengumumkan dari 59.310.307 warga negara Mullah itu boleh memilih, hanya 28.933.094 menggunakan haknya itu atau 48,8 persen. Ini merupakan angka pemilih terendah sejak Republik Islam Iran itu dibentuk pada 1979.

Mantan Presiden Mahmud Ahmadinejad termasuk tokoh menyerukan kepada rakyat Iran untuk memboikot pemilihan presiden itu. Rasa apatis masyarakat karena buruk kondisi ekonomi dan wabah Covid-19 masih mengerikan kian menggunung setelah Dewan Pelindung, lembaga menyeleksi bakal kandidat, hanya meloloskan tujuh calon dari 562 rang mendaftar untuk bertarung.

Banyak kandidat populis, termasuk Ahmadinejad - dua kali menjabat pada 2005-2009 dan 2009-2013 - tidak lulus seleksi administrasi.

"Suara saya tidak akan mengubah apapun tidak pemilihan kali ini," kata Hadiyah, perempuan berumur seperempat abad sedang terburu-buru untuk menumpang taksi. "Tidak ada calon favorit saya."

Pengangguran bernama Ali Husaini juga tidak memakai hak pilihnya. Penduduk di selatan Ibu Kota Teheran ini bilang percuma saja. "Siapapun menang dalam pemilihan presiden ini nantinya akan mengatakan dia tidak dapat memperbaiki persoalan ekonomi karena campur tangan orang-orang berpengaruh," ujar lelaki 36 tahun itu. Dia kemudian melupakan janji-janjinya dan kami orang miskin akan kecewa lagi."

Angka pemilih memakai haknya dalam negara demokratis menentukan tingkat legitimasi sebuah pemerintahan. Referendum pertama digelar setelah revolusi Islam berhasil menumbangkan rezim Syah Reza Pahlevi memperlihatkan 98,2 persen frakyat Iran menyokong pembentukan Republik Islam.

"(Rendahnya jumlah pemilih) ini tidak bisa diterima," ujar Muhammad Khatami, juga pernah dua periode menjadi presiden di negeri Persia itu.

Seperti dugaan banyak pihak, Ketua Mahkamah Agung Ibrahim Raisi terpilih menggantikan Hasan Rouhani. 

Sebuah poster mengajak para pemilih menggunakan hak pilih mereka dalam pemilihan presiden digelar pada 18 Juni 2021, dipasang di tepi jalan di Ibu Kota Teheran, Iran. (Iran International)

Segelap masa lalu presiden baru Iran

Hasil ini seolah pesan Raisi bakal menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran selanjutnya.

Ibrahim Raisi, presiden terpilih Iran dari hasil pemilihan umum digelar pada 18 Juni 2021, ketika bertemu pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah di Libanon pada 2018. (Twitter)

Ibrahim Raisi terpilih sebagai presiden baru Iran

Jumlah pemilih menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan presiden kali ini terendah sejak Republik Islam Iran dibentuk pada 1979, yakni 48,8 persen.

Mantan Presiden Mahmud Ahmadinejad ketika mendaftar untuk menjadi calon dalam pemilihan presiden Iran pada 18 Juni 2021. Dia dinyatakan tidqk lolos pada 24 Mei 2021. (Iran International)

Tidak lolos pencalonan presiden, Ahmadinejad diminta bungkam

Ahmadinejad melawan dan bilang situasi ekonomi dan keamanan Iran saat ini mengerikan.

Mantan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. (commons.wikimedia.org)

Cari sokongan buat jadi presiden, Ahmadinejad temui putra Khamenei

Para pendukung Ahmadinejad getol berkampanye agar Mujtaba bisa menggantikan ayahnya menjadi pemimpin tertinggi Iran.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Iran larang warganya kunjungi Afghanistan

Pertempuran antara Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan dalam beberapa hari terakhir untuk memperebutkan tiga ibu kota provinsi, yakni Kandahar (Provinsi Kandahar), Herat (Provinsi Herat), dan Lasykargah (Provinsi Helmand).

01 Agustus 2021

TERSOHOR