kabar

Segelap masa lalu presiden baru Iran

Hasil ini seolah pesan Raisi bakal menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran selanjutnya.

20 Juni 2021 20:24

Bagi dua mantan Presiden Iran sama-sama menjabat dua periode, Mahmud Ahmadinejad dan Muhammad Khatami, Jumat lalu adalah pemilihan terburuk sepanjang 42 tahun umur Republik Islam. Keduanya menilai presiden terpilih Ibrahim Raisi meiliki legitimasi rendah.

Meski Raisi meraup 61,9 persen suara, jumlah pemilih menggunakan haknya tidak sampai 50 persen. Menteri Dalam Negeri Iran Abdul Reza Rahmani Fazli kemarin mengumumkan dari 59.310.307 warga negara Mullah itu boleh memilih, hanya 28.933.094 menggunakan haknya itu atau 48,8 persen. Ini merupakan angka pemilih terendah sejak Republik Islam Iran itu dibentuk pada 1979.

Raisi juga memiliki masa lalu gelap dan kotor sebagai orang garis keras. Pada Juli 1988, pemimpin revolusi Islam sekaligus pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Khomeini mengeluarkan perintah untuk menghukum mati para pembangkang mendekam dalam penjara.

Kemudian dibentuklah sebuah komisi terdiri dari empat orang, dikenal dengan sebutan Komite Kematian. Salah satu anggotanya adalah Raisi.

Eksekusi massal itu berjalan selama lima bulan. Ribuan orang tewas, sebagian memperkirakan korbannya tiga ribu. Sebagian besar dieksekusi mati adalah anggota kelompok oposisi PMOI (Organisasi Mujahidin Rakyat Iran). Sampai sekarang, rezim Mullah menyangkal soal pembantaian itu.

"Raisi adalah pembunuh. Dia merupakan penjagal pada 1988," kata Ahmad Ibrahimi, pendukung PMOI mendekam selama 1981-1991 dalam Penjara Evin di Ibu Kota Teheran, sebelum mendapat suaka di Inggris.

Ibrahimi masih ingat ketika diadili oleh Komite Kematian dan bertemu Raisi di sana. Waktu itu, Agustus 1988 pukul sembilan pagi. Ibrahimi bareng 60 tahanan lainnya dibawa dengan kedua tangan dibogrgol dan kedua mata ditutup ke sebuah gedung tempat Komite Kematian bersidang.

Mereka diadili hingga pukul enam sore. Ketika sudah sampai ruang sidang, penutup mata mereka dilepas. Di sanalah Ibrahimi melihat raisi duduk berjejer dengan tiga koleganya.

Saat giirannya ditanya, Ibrahimi mengaku dia tidak pernah menjadi anggota penuh PMOI. "Jadi saya selamat dari eksekusi mati," ujarnya.

Dalam laporan setebal 130 halaman, pengacara hak asasi manusia tinggal di London, Geoffrey Robertson QC bercerita bagaimana ribuan anggota PMOI itu dihukum mati. "Ada yang digantung empat orang sekaligus menggunakan derek. Ada juga enam orang digantung sekaligus di depan balai pertemuan," tuturnya.

Korban lainnya dieksekusi malam hari oleh regu tembak. Setelah semua tahanan PMOI dihabisi, giliran selanjutnya adalah anggota Partai YTudeh berpaham komunis.

Dalam sebuah kuliah pada Mei 2018, Raisi mengakui dirinya hadir dalam pertemuan di 15 Agustus 1988, ketika Ketua Komite Kematian Ayatullah Husain Ali Muntazari mendesak agar panel itu dihentikan.

"Saya meyakini ini adalah kejahatan terbesar dilakukan dalam Republik Islam sejak revolusi (1979) dan sejarah bakal mengutuk kita," tutur Muntazari dalam sebuah rekaman audio bertanggal Agustus 1988. "Sejarah akan menulis kalian sebagai penjahat."

Rekaman audio ini diunggah di situs resmi Muntazari, dikelola oleh keluarga dan pengikutnya, pada Agustus 2016, namun tidak lama kemudian dihapus oleh Kementerian Intelijen Iran.

Raisi dilahirkan di Masyhad, kota kelahiran pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Ayahnya wafat ketika dia berusia lima tahun. Waktu terjadi revolusi islam pada 1979, dia sedang belajar di sekolah teologi di Kota Qom.

Tidak butuh waktu lama, Raisi lalu diangkat menjadi Kepala Kejaksaan Kota Karaj dalam usia 20 tahun, kemudian pindah ke Teheran.

Raisi menikah dengan Jamilah Alam al-Huda, putri dari Ayatullah Alam al-Huda, selama 1980-an menjadi orang kepercayaan Khamenei.

Baru satu dasawarsa lalu Raisi menjadi anak emas Khamenei. Pada 2016, dia diangkat untuk memimpin Astan Quds Razavi, lembaga agama tertua sekaligus terkaya di Iran. Setahun berselang, Khamenei merestui dia maju dalam pemilihan presiden buat mengalahkan Hasan Rouhani, namun calon petahana ini menang setelah meraup 57,1 persen dari jumlah suara masuk.

Kemudian pada Maret 2019, Khamenei menunjuk Raisi menjadi Ketua Mahkamah Agung. Setelah itulah, Amerika Serikat menerapkan sanksi terhadap dirinya atas pelanggaran hak asasi manusia.

Khamenei kembali menyokong Raisi pada pemilihan presiden Jumat lalu dan akhirnya menang seperti dugaan banyak pihak, setelah kandiat-kandidat populis seperti mantan Presiden Mahmud Ahmadinejad dan eks Ketua Parlemen Ali Larijani tidak lolos seleksi administrasi.

Hasil ini seolah pesan Raisi bakal menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran selanjutnya.

Pasukan Taliban menguasai rumah milik mantan komandan mujahidin Ismail Khan di Herat, ibu kota Provinsi Herat, Afghanistan. (Albalad.co/Supplied)

Iran larang warganya kunjungi Afghanistan

Pertempuran antara Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan dalam beberapa hari terakhir untuk memperebutkan tiga ibu kota provinsi, yakni Kandahar (Provinsi Kandahar), Herat (Provinsi Herat), dan Lasykargah (Provinsi Helmand).

Satu anggota ISKP (Negara Islam Provinsi Khorasan) merupakan ISIS cabang Afghanistan pada 29 Juli 2021 mengeksekusi seorang polisi lalu lintas di Provinsi Kunduz, utara Afghanistan. (Amaq)

ISIS di Afghanistan eksekusi polisi lalu lintas

Wilayah operasi ISIS di Afghanistan adalah di Kunduz, Kunar, Nangarhar, dan Kabul.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan Ibrahim Raisi, baru menang pemilihan presiden Iran digelar pada 18 Juni 2021. (Twitter)

Seruan boikot oleh Ahmadinejad sukses, jumlah pemilih Iran tidak sampai 50 persen

"Siapapun menang dalam pemilihan presiden ini nantinya akan mengatakan dia tidak dapat memperbaiki persoalan ekonomi karena campur tangan orang-orang berpengaruh," kata warga Teheran bernama Ali Husaini.

Ibrahim Raisi, presiden terpilih Iran dari hasil pemilihan umum digelar pada 18 Juni 2021, ketika bertemu pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah di Libanon pada 2018. (Twitter)

Ibrahim Raisi terpilih sebagai presiden baru Iran

Jumlah pemilih menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan presiden kali ini terendah sejak Republik Islam Iran dibentuk pada 1979, yakni 48,8 persen.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Iran larang warganya kunjungi Afghanistan

Pertempuran antara Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan dalam beberapa hari terakhir untuk memperebutkan tiga ibu kota provinsi, yakni Kandahar (Provinsi Kandahar), Herat (Provinsi Herat), dan Lasykargah (Provinsi Helmand).

01 Agustus 2021

TERSOHOR