kisah

Bertemu calon penghuni Mars dari Mesir

Muhammad Sallam sejak kecil bermimpi menjadi astronot.

04 Maret 2015 00:04

Dia selalu bermimpi bisa pergi ke Mars, namun tidak pernah membayangkan Planet Merah itu bakal segera menjadi tempat tinggal barunya.

Warga Mesir, Muhammad Sallam, terpilih sebagai calon peserta penghuni Mars. "Saya selalu bermimpi menjadi astronot dan sekarang kelihatannya akan terwujud," katanya kepada stasiun televisi Al-Arabiya.

Dia mendambakan itu sejak berusia muda. Baru pada 2013 kesempatan untuk mewujudkan cita-cita itu hadir. "Sejak kecil saya selalu terpesona terhadap planet-planet dan astrologi, tapi di Mesir amat tidak mudah menekuni bidang ini," ujarnya. "Saya mesti melupakan ambisi itu buat waktu lama."

Namun setelah revolusi 2011 melengserkan rezim Husni Mubarak, dia memutuskan membeli sebuah teleskop. Dia kembali mempelajari ilmu astronomi dan menggeluti penelitian di bidang perbintangan buat mencapai mimpinya. Dia mengaku sudah lebih dari sekali mencoba melamar ke NASA (badan antariksa Amerika Serikat).

"Ketika saya mendengar soal Mars One pada 2013, saya segera melamar dan terpilih dari sekian banyak pemohon," tuturnya.

Perusahaan asal Belanda Mars One dua tahun lalu menawarkan kesempatan bagi siapa saja dari seluruh dunia untuk menjadi peserta pertama sepanjang sejarah pergi dan menetap di Planet Merah.

Beberapa bulan kemudian, terpilih 50 lelaki dan 50 perempuan hasil saringan lebih dari 200 ribu pelamar. Mereka berlatih dan bersaing untuk menjadi orang pertama menjejakkan kaki di Mars. Dari seratus orang ini, hanya empat saja bakal dikirim ke Planet Merah itu dalam satu dasawarsa mendatang.

Saat menjalani proses seleksi, Sallam bilang dia mesti mengisi sebuah formulir, mengirim rekaman video berdurasi 70 detik, dan menjalani tes fisik.

Dia mengaku tidak masalah walau tidak akan pernah kembali ke Bumi. "Tujuan akhirnya adalah petualangan dan dampak dari perjalanan ini bagi kemanusiaan sudah cukup menyemangati saya."

Perjalanan ke Mars itu dijadwalkan pada 2015, namun dia sudah menyiapkan pelbagai rencana. "Jika terpilih, saya akan membawa bendera Mesir, Al-Quran, dan sebuah piano," kata Sallam. Selain keluarga, satu hal bakal paling dia rindukan bila nanti bermukim di Mars adalah cokelat.

Orang tua Sallam sudah meninggal dan dia sekarang tinggal bersama seorang adik lelakinya. "Situasi ini membikin saya sedikit lebih mudah buat pergi, terutama sejak kerabat saya sangat menyokong," ujarnya.

Dia mengaku bakal kecewa bila gagal terpilih dalam rombongan empat orang penghuni Mars pertama. Meski begitu, dia sudah cukup puas sampai tahap ini. Dia bilang, "Ini pengalaman tidak bisa dipercaya."

Dalam beberapa bulan mendatang, seratus kandidat itu bakal menjalani uji fisik dan kejiwaan, serta pelatihan. Perusahaan Mars One kemudian menyaring hingga terpilih 24 orang akan tampil dalam tayangan realitas seputar pelatihan mereka jalani buat ke Mars. Program televisi ini bakal membiayai misi seharga US$ 6 miliar atau Rp 77,8 triliun itu.

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Ron Prosor (berjas dan berdasi) berpose dengan latar barang-barang bantuan kemanusiaan dari Israel untuk korban tsunami Aceh di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, 11 Januari 2005.(Albalad.co)

Garuda dan Bintang Daud nyaris berdekapan

Pertemuan rahasia Indonesia-Israel itu berlangsung sebelum Natal tahun lalu di Singapura. "Yang hadir masing-masing tiga orang dari Indonesia dan Israel, serta dua dari Amerika," kata sumber Albalad.co

Peta lokasi Kedutaan Besar Israel di Ibu Kota Ankara, Turki. (Twitter)

Kokohnya hubungan diplomatik Turki-Israel

Para anggota Mossad bebas keluar masuk Turki dengan peralatan kerja mereka tanpa pemeriksaan keamanan dan paspor di perbatasan. 

DJ tersohor Palestina Sama Abdul Hadi memimpin pesta musik di dalam Masjid Nabi Musa, Kota Jericho, Tepi Barat, Palestina. (YouTube/Screenshot)

Pesta musik di kubur Nabi Musa

Pesta musik itu sudah mendapat izin dari Kementerian Pariwisata Palestina.

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Ron Prosor (berjas dan berdasi) berpose dengan latar barang-barang bantuan kemanusiaan dari Israel untuk korban tsunami Aceh di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, 11 Januari 2005.(Albalad.co)

Indonesia dan Saudi dua target utama normalisasi dengan Israel

Bin Salman berkepentingan mengamankan dirinya agar bisa naik takhta menggantikan ayahnya, karena itulah butuh sokongan Amerika. Sedangkan Indonesia saat ini membutuhkan aliran investasi buat memompa pertumbuhan ekonomi ambruk gegara pandemi Covid-19.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Garuda dan Bintang Daud nyaris berdekapan

Pertemuan rahasia Indonesia-Israel itu berlangsung sebelum Natal tahun lalu di Singapura. "Yang hadir masing-masing tiga orang dari Indonesia dan Israel, serta dua dari Amerika," kata sumber Albalad.co

22 Januari 2021

TERSOHOR