kisah

Sperma selundupan dari balik sel Zionis

Teknik kehamilan in-vitro digemari tahanan Palestina dengan masa hukuman lama atau seumur hidup.

13 Maret 2015 07:03

Ketika ditangkap tentara Israel pada 2007, Tamir al-Zanin masih pengantin baru. Usia pernikahannya satu bulan setengah. Istrinya, Hana, masih kuliah jurusan syariah di Universitas Islam Gaza, Kota Gaza.

Israel memvonis suaminya 12 tahun penjara dengan tuduhan menjadi anggota Jihad Islam. Karena banyak waktu luang dan belum memiliki anak, Hana memutuskan kuliah lagi mengambil jurusan matematika setelah menjadi sarjana syariah.

Namun dia bakal tidak memiliki banyak waktu lagi setelah pertengahan Januari 2014 melahirkan. Bayi lelaki diberi nama Hasan itu merupakan hasil kehamilan dengan teknik in-vitro. Ini kasus pertama di Gaza setelah enam kelahiran serupa di Tepi Barat beberapa tahun belakangan.

Pembuahan sel telur oleh sperma dengan teknik in-vitro ini berlangsung di luar rahim. Setelah menjadi zigot (sel dibuahi), dibiarkan 2-6 hari dalam tabung gelas berukuran sedang. Kemudian disuntikkan ke dalam rahim untuk proses kehamilan selanjutnya.

“Saya tidak bisa menggambarkan betapa senangnya saya,” kata ibu 26 tahun berabaya dan bercadar serba hitam ini kepada stasiun televisi Al-Jazeera. Sejumlah kerabat duduk di sekeliling ranjang dalam rumah keluarganya di Kota Bait Hanun, utara Gaza. “Perasaan sulit dilukiskan setelah tujuh tahun suami saya ditahan, saya melahirkan lewat sperma selundupan.”

Biasanya teknik ini dipakai bagi pasangan tidak subur. Namun kehamilan in-vitro menjadi salah satu pemecah masalah bagi tahanan Palestina bermasa hukuman lama atau seumur hidup. Mereka berkesempatan memiliki anak dengan menyelundupkan sperma mereka keluar dari penjara Israel.

Saat berselancar di Internet, Hana Zanin membaca berita soal kelahiran bayi hasil sperma selundupan milik tahanan asal Kota Nablus, Tepi Barat. Dia ingin mengikuti gagasan itu dan memutuskan memberitahu suaminya.

“Selama berpekan-pekan saya memikirkan hal itu dan mempertimbangkan reaksi keluarga saya,” ujarnya. “Paling penting, saya tidak tahu bagaimana reaksi Tamir, suami saya, apakah dia bakal senang atau marah.”

Tamir direncanakan bebas dua tahun lagi. “Saya bersemangat ingin memberitahu dia setelah keluarga saya dan ayah Tamir menerima usulan itu,” tutur Hana.

Pada 2013 Israel mengizinkan Hana untuk pertama kali menjenguk suaminya sejak ditahan. Dalam pertemuan itu, dia memberitahu Tamir ide memiliki anak lewat sperma selundupan. “Jantung saya terasa lemas ketika dia termenung beberapa detik, tapi saya kembali bersemangat setelah melihat dia tersenyum di balik jendela kaca memisahkan kami.” Tamir mengangguk tanda setuju.

Namun sejumlah tantangan muncul. Bagaimana bisa menyelundupkan sperma keluar dari dalam penjara lantaran Israel tidak membolehkan kontak fisik antara tahanan dan keluarga? Lalu bagaimana menjamin sperma tetap hidup paling tidak selama enam jam, waktu dibutuhkan keluarga untuk kembali ke Gaza setelah menjenguk?

Kebijakan Israel membolehkan anak berumur di bawah delapan tahun buat memeluk ayah mereka memuluskan rencana pasangan Tamir dan Hana. Dua kakak lelaki Hana juga mendekam di Penjara Ramon di Kota Ashkelon, selatan Israel, bareng Tamir dan salah satu dari mereka mempunyai anak. Lantas Rami, putra Farid, dipesan untuk menyembunyikan kotak kaca berisi sperma Tamir di kantung jaketnya dalam sebuah kunjungan.

Di perlintasan Erez membatasi Jalur Gaza dan Israel, Hana tidak sabar menunggu sperma suaminya datang. “Saya merasa waktu berjalan begitu cepat,” kata Hana mengenang.

Dr Abdil Karim Hindawi, ahli kandungan dari Basma IVF Center di Kota Gaza, bercerita sperma itu masih hidup dan dalam kondisi sangat bagus. Setelah menjalani proses pembuahan in-vitro, zigot kemudian disuntikkan ke dalam rahim Hana. “Kami sangat senang bisa mewujudkan impian perempuan sepanjang itu tidak bertentangan dengan hukum dan syariat Islam,” ujarnya.

Hindawi mengungkapkan saat ini terdapat empat perempuan Gaza tengah hamil dari sperma selundupan suami mereka di penjara Israel. Dia menekankan sperma dari banyak tahanan berumur terlalu lemah sehingga tidak bisa membuahi sel telur istri mereka.

Hasan dilahirkan dengan selamat dan dalam keadaan sehat. Beratnya 3,1 kilogram. Hana mengatakan Tamir mendengar tangisan pertama putra sulungnya itu melalui telepon.

Kabar itu disambut gembira banyak pihak. Tamu dari pelbagai faksi dan pejabat berdatangan mengucapkan selamat atas kelahiran Hasan. Namun Hana menolak melahirkan anak selanjutnya dengan sperma selundupan suaminya. “Saya ingin menunggu hingga Tamir keluar penjara.”

Kereta cepat Haramain menghubungkan Makkah dan Madinah di Arab Saudi beroperasi mulai 24 September 2018. (Saudi Gazette)

Suap proyek kereta dua kota suci

Eks Raja Spanyol Juan Carlos menerima uang suap US$ 100 juta dari mendiang Raja Abdullah terkait proyek kereta cepat Makkah-Madinah.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz tiba di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, 1 Maret 2017. Dia bersama rombongan berjumlah 1.500 orang akan berada di Indonesia selama 1-12 Maret. (Dokumentasi Albalad.co)

Tawa Israel air mata Palestina

Usai penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dengan UEA dan Bahrain, Trump bilang ada 7-9 negara lagi siap berdamai. Arab Saudi, Oman, dan Sudan masuk dalam antrean.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bintang Daud dalam dekapan Bin Salman

Bin Salman sudah dua kali bertemu Netanyahu.

Presiden Chad Idris deby mengadakan pertemuan dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota N'Djamena, 20 Januari 2019. (Twitter/@netanyahu)

Antre berdamai dengan Israel

Turki menjadi negara muslim pertama mengakui Israel tapi puncak keberhasilan diplomasi Netanyahu kalau mampu menggaet Arab Saudi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Suap proyek kereta dua kota suci

Eks Raja Spanyol Juan Carlos menerima uang suap US$ 100 juta dari mendiang Raja Abdullah terkait proyek kereta cepat Makkah-Madinah.

18 September 2020

TERSOHOR