kisah

Merasakan eksekusi bohongan ISIS

"Dapatkah kamu bayangkan sakitnya saat leher ini dipotong? Sakitnya tidak terbayangkan," kenang Espinoza.

16 Maret 2015 11:06

Beginilah cara the Beatles menakut-nakuti 23 sandera ISIS ditahan dalam penjara bawah tanah di Kota Raqqah, Suriah. Mereka amat senang saban hari mengancam para tawanan dan menggelar penyembelihan bohongan.

The Beatles adalah nama diberikan para sandera terhadap tiga sipir berdialek Inggris. Mereka adalah Jihadi John, Jihadi George, dan Jihadi Harrison. Surat kabar the Washington Post akhirnya berhasil mengungkap identitas sebanarnya dari Jihadi John. Dia aslinya bernama Muhammad Imwazi, sulung dari enam bersaudara anak dari pasangan imigran asal Kuwait. Dia tadinya tinggal bersama keluarganya di barat Ibu Kota London, Inggris.

Wartawan Spanyol Javier Espinoza pun pernah menjalani eksekusi pura-pura. ISIS sempat menyandera jurnalis koran El Mundo ini bersama rekannya, Ricardo Garcia Vilanova, enam bulan sebelum dibebaskan Maret tahun lalu. Dia dilepas setelah Spanyol membayar uang tebusan.

"The Beatles menyukai drama ini," tulis Espinoza di surat kabar the Sunday Times. "Mereka mendudukkan saya di lantai, bertelanjang kaki, berkepala gundul, berjenggot tebal, dan berseragam oranye mirip tahanan Guantanamo."

Dia menceritakan Jihadi John ingin sandiwara penggorokan itu berlangsung sangat menegangkan. Buat eksekusi tipuan ini, dia memakai sebilah pedang sepanjang satu meter dan bergagang warna perak. Espinoza menggambarkan pedang itu antik dan biasa digunakan kaum muslim di Abad Pertengahan.

"Dia lantas memeluk leher saya dengan pedang namun tetap berbicara, 'Kamu bisa merasakan? Dingin bukan? Dapatkah kamu bayangkan sakitnya saat leher ini dipotong? Sakitnya tidak terbayangkan,'" kata Espinoza.

Setelah selesai dengan pedang, Jihadi John mengeluarkan pistol Glock dari sarungnya. Dia meletakkan di kepala Espinoza dan menarik pelatuknya tiga kali. "Klik, klik, klik. Itu disebut sandiwara eksekusi. Meski bohongan, intimidasi amat mengerikan ini memuaskan mereka," ujar Espinoza.

Lain waktu semua tahanan diancam untuk menggali kubur insinyur Rusia Sergei Gorbunov dan tidur disamping mayatnya. Dia tewas dengan lubang di kepala setelah ditembak dari jarak dekat. "Mereka senang menakut-nakuti para sandera dan memaksa kami memandangi foto-foto mayat Sergei Gorbunov," kenang Espinoza.

Tawanan-tawanan ISIS ini, menurut Espinoza, biasa terbangun tengah malam lantaran teriakan menyayat ketika ada sandera tengah disiksa.

Bendera Amerika Serikat dan Israrl dijadikan keset di pintu masuk sebuah masjid di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran. (Twitter)

Benci Khamenei, muak Mullah

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim.

Gambar ilustrasi Imam Husain, syahid di Karbala, tengah memeluk mendiang komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di surga. Sulaimani tewas akibat serangan udara Amerika Serikat di Baghdad, 3 Januari 2020. (Khamenei.ir)

Maut jemput syuhada hidup

Mencari tahu lokasi Sulaimani telah lama menjadi prioritas bagi intelijen dan militer Amerika serta Israel, terutama saat dia sedang berada di Irak.

Foto dan nama 15 warga Arab Saudi diduga terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi. (Sabah)

Mahkamah sandiwara bagi mendiang Khashoggi

Saudi mulanya berbohong. Mereka membantah Khashoggi dibunuh. Setelah banyak bukti diungkap oleh Turki, Riyadh mengakui Khashoggi tewas karena berkelahi. Lalu mereka mengoreksi Khashoggi memang dibunuh secara keji dan terencana.

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Benci Khamenei, muak Mullah

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim.

17 Januari 2020

TERSOHOR