kisah

Tumbal cinta di batas Golan

Seorang gadis Golan tidak diizinkan pulang oleh Israel karena menikah dengan lelaki Suriah.

18 Maret 2015 01:06

Cinta memang butuh pengorbanan. Setidaknya itulah sudah dialami Nihal Arina Safadi dari Desa Ain Quniya di Dataran Tinggi Golan dikuasai Israel. Lantaran ingin menikah dengan sepupunya dari Suriah, dia tidak diizinkan kembali ke kampungnya.

Sejatinya, pengorbanan gadis 25 tahun ini dipaksa oleh situasi politik lantaran tidak ada hubungan diplomatik antara Israel dan Suriah. Bahkan sebagai syarat melewati perbatasan, dia harus menyerahkan kartu izin tinggal tetap kepada otoritas negara Zionis itu.

Alhasil, pernikahan Nihal pada akhir September 2008 diliputi kesedihan. Dia terus menangis dalam mobil ayahnya saat perjalanan ke perbatasan di Qunaitra. Sang ibu duduk di sebelahnya, Hadia, juga berurai air mata. “Saya merasa sedih dan senang di saat sama tapi sungguh menyakitkan meninggalkan keluarga saya,” kata Nihal sambi mengusap air matanya.

Duka sudah terasa sejak Nihal menerima lamaran Rabia Mursyid Safadi melalui telepon pada Januari 2008. Keduanya bertemu dalam acara reuni keluarga besar Safadi di Yordania beberapa tahun lalu. Pihak keluarga gagal membujuk dia supaya membatalkan rencana pernikahan itu. “Rasanya benar-benar sulit. Saya telah memohon tapi dia menegaskan ingin menikah dengan Rabia,” kata Yahya Safadi, ayah Nihal.

Nihal bukan orang pertama mengambil keputusan seperti itu. Sejak 1987 sudah 50 perempuan dari keluarga Druze tidak dapat pulang karena menikah dengan lelaki Suriah. Israel hanya memberi kelonggaran bagi para ulama Druze berziarah ke sana dan para pelajar ingin menuntut ilmu ke Damaskus.

Druze merupakan kelompok sempalan dari Syiah Ismailiyah. Meski secara formal diakui, para ulama tidak menganggap Druze aliran dalam Islam. Salah satu ajarannya adalah para pengikut Druze tidak perlu berpuasa karena semua ditanggung oleh sang imam.

Sejak Israel mencaplok Golan dari Suriah sehabis Perang Enam Hari 1967, sekitar 20 ribu warga Druze di kawasan itu menolak menjadi warga negara Israel. Mereka hanya mendapatkan kartu izin tinggal tetap. Sedangkan 83 persen dari seratus ribu Druze di Israel terdaftar sebagai wajib militer selama tiga tahun.

Menjelang pukul 11.00 Nihal dan 40 anggota keluarganya tiba di kantor otoritas Israel dekat perbatasan. Di sana dia harus meneken sebuah dokumen bertulisan: “Saya menyerahkan hak saya menetap dan saya tahu mungkin tidak bisa kembali karena tidak ada hubungan diplomatik amtara Israel dan Suriah.”

Lantas rombongan melewati gerbang perbatasan. Sebuah truk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa membawa lima koper berisi pakaian, kado pernikahan, dan album foto milik Nihal juga ikut. Akad nikah dilaksanakan di wilayah bebas militer antara Israel dan Suriah. Semua serba cepat karena waktu diberikan hanya sejam.

Selepas itu tangis di keluarga Nihal pecah. Gerbang ditutup dan lambaian terakhir Nihal menghilang di kejauhan. “Saya membesarkan dan merawat dia,” kata Yahya Safadi dengan suara tercekat. “Saya tidak bisa tidur semalaman. Saya tidak akan pernah melihat cucu saya.”

Nihal akan memulai hidup baru di Jaramana, kota kecil dekat Damaskus, namun puluhan kilometer dari desanya.

Syekh Salman al-Audah, ulama tersohor Arab Saudi ditahan sejak 10 September 2017 tanpa proses hukum jelas. (Twitter/Prisoners of Conscience)

Kuasa Bin Salman nestapa Syekh Salman

Selama lima bulan pertama dalam penjara, Syekh Salman tidak diizinkan menghubungi keluarganya.

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Ron Prosor (berjas dan berdasi) berpose dengan latar barang-barang bantuan kemanusiaan dari Israel untuk korban tsunami Aceh di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, 11 Januari 2005.(Albalad.co)

Garuda dan Bintang Daud nyaris berdekapan

Pertemuan rahasia Indonesia-Israel itu berlangsung sebelum Natal tahun lalu di Singapura. "Yang hadir masing-masing tiga orang dari Indonesia dan Israel, serta dua dari Amerika," kata sumber Albalad.co

Peta lokasi Kedutaan Besar Israel di Ibu Kota Ankara, Turki. (Twitter)

Kokohnya hubungan diplomatik Turki-Israel

Para anggota Mossad bebas keluar masuk Turki dengan peralatan kerja mereka tanpa pemeriksaan keamanan dan paspor di perbatasan. 

DJ tersohor Palestina Sama Abdul Hadi memimpin pesta musik di dalam Masjid Nabi Musa, Kota Jericho, Tepi Barat, Palestina. (YouTube/Screenshot)

Pesta musik di kubur Nabi Musa

Pesta musik itu sudah mendapat izin dari Kementerian Pariwisata Palestina.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Kuasa Bin Salman nestapa Syekh Salman

Selama lima bulan pertama dalam penjara, Syekh Salman tidak diizinkan menghubungi keluarganya.

27 Januari 2021

TERSOHOR