kisah

Tanpa Internet dan haram bercukur

"Informan ada di mana-mana. Rasanya seperti zaman Saddam Husain. Mereka mengawasi tiap orang dan segalanya."

10 April 2015 11:01

Saat pejuang ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan sejumlah kelompok pemberontak musim panas tahun lalu mencaplok sebagian besar wilayah utara dan tengah Irak, Sidiqa, penduduk Kota Mosul berusia setengah abad, kegirangan.

Seperti para tetangganya, Sidiqa, nama samaran, awalnya memandang para pejuang ISIS sebagai pembebas mereka dari cengkeraman pemerintah. Namun sejak bendera hitam ISIS berkibar di seantero Mosul, kota terbesar kedua di Irak dan berpenduduk sekitar dua juta orang, kehidupan menjadi kian sulit.

"Saya bahkan tidak bisa pergi berbelanja sendirian," kata Sidiqa, kini menetap di Kota Irbil dikuasai Kurdi. Dia menolak menyebut nama aslinya karena takut keluarganya masih tinggal di Mosul bakal jadi sasaran ISIS. "Sebagai perempuan, saya tidak boleh keluar rumah tanpa ditemani muhrim."

Papan-papan pengumuman terpacak di seluruh Mosul berisi aturan berpakaian bagi perempuan: berabaya, bersarung tangan, dan bercadar. Tapi bukan kaum hawa saja menjadi korban akibat penerapan hukum Islam versi kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu.

"Kami tidak bisa lagi pergi ke kedai-kedai kopi atau tempat wisata buat bersenang-senang, seperti bermain biliar atau mengisap syisya," ujar Faris, 18 tahun, putra Sidiqa. "Kami segera menyadari mereka amat tertarik merekrut para pemuda belia dan berarti kami target. Jadi kami memutuskan tinggal dalam rumah sesering mungkin agar tidak menarik perhatian mereka."

Kecemasan soal wajib militer ISIS inilah membikin Sidiqa dan keluarganya meninggalkan Mosul. Apalagi dua dari tiga putranya sudah beranjak remaja.

Sidiqa mengenang makin hari kehidupan di Mosul sehabis dicaplok ISIS kian sukar. "Listrik cuma menyala setengah jam sehari hingga waktu kami kabur dari Mosul," tuturnya. Karena itu, para penduduk lebih mengandalkan generator milik mereka bisa memasok listrik delapan jam saban hari.

Ideologi garis keras ISIS juga diajarkan di sekolah-sekolah. "Mereka menghapus pelajaran biologi, kimia, sejarah, dan bahkan agama Islam dari sekolah kami," ucap Faris. Dia berhenti karena frustasi setelah sebulan belajar di SMP. "Mereka mempertahankan matematika dan amat menekankan pada bahasa Arab serta mengenalkan pelajaran agama versi baru."

"Mereka ingin mencuci otak anak-anak kami," sambung Sidiqa.

Mutasam, juga bukan nama sebenarnya, tadinya bekerja sebagai relawan di organisasi bantuan kemanusiaan Mosul. Ketika ISIS masuk ke kota itu, pemuda 20-an tahun ini memutuskan tetap bekerja.

Sampai suatu malam ISIS menyerbu rumahnya dan dia akhirnya ditahan bareng orang-orang dengan beragam dakwaan kejahatan, mulai dari menenggak minuman beralkohol, merampok, hingga bekerja sama dengan pasukan anti-ISIS. Hakim menyatakan pekerjaan Mutasam tidak bisa diterima karena membantu pengungsi non-muslim dan Syiah.

"Mata saya ditutup tapi kepala saya dua kali diangkat sehingga saya bisa mengintip hakim berjenggot dan seorang penjaga dengan senapan serbu dan sebilah pedang," kata Mutasam kepada stasiun televisi Al-Jazeera. "Ketika hakim menilai pekerjaan saya tidak islami, saya mengutip beberapa ayat Al-Quran memerintahkan membantu orang membutuhkan."

Akhirnya hakim memutuskan Mutasam mesti berjanji tidak akan balik ke pekerjaan lamanya itu. Karena ingin segera keluar dari penjara, dia meneken surat perjanjian itu dan dibebaskan besoknya. Mutasam sekarang termasuk satu dari puluhan ribu warga Mosul kini mendiami wilayah Kurdistan.

Mutasam ingat kios tukang cukur milik tetangganya ditutup sementara dan pemiliknya dikenai denda besar. ISIS beralasan pencukur itu menggunting rambut pelangganya dengan gaya tidak islami. "Itu potongan marinir dan dia sudah mencukur beberapa orang dengan gaya seperti ini. Polisi ISIS tidak suka," ujar Mutasam. "Orang-orang juga diminta menumbuhkan jenggot dan brewok mereka."

Lantaran makin tidak suka dengan pembatasan-pembatasan diterapkan ISIS, Mutasam dan keluarganya dari kelas menengah pindah ke Irbil Oktober tahun lalu.

"Mereka musuh terbesar kaum muslim," tutur Mutasam mengungkapkan rasa frustasinya mendalam. "Mereka sudah menghancurkan tempat-tempat suci kami, seperti kubur Nabi Yunus dan meledakkan masjid-masjid."

ISIS Juli tahun lalu menghancurkan makam Nabi Yunus dan Nabi Syith, putra dari Nabi Adam dan Hawa. "Itu seperti sebuah kabar duka bagi masyarakat," kenang Sidiqa.

Khawatir sistem telekomunikasi dapat membantu musuh-musuh mereka berhubungan dengan orang-orang anti-ISIS di Mosul, kelompok Islam radikal ini memutus layanan telepon seluler dan Internet. Kondisi ini kian membikin penduduk merasa makin terisolasi.

ISIS pun makin keras memerintah. Menurut Faris, bila ada orang masih berjalan-jalan di pasar saat waktu salat wajib tiba, Hisba (polisi syariah ISIS) bakal memaksa mereka pergi ke masjid. "Tentu saja kami merasa kami salat bukan karena kemauan sendiri," tutur Faris.

Mutasam mengakui sejak kedatangan ISIS angka kejahatan melorot jauh, tapi bukan karena keamanan terjamin. "Informan ada di mana-mana. Rasanya seperti zaman Saddam Husain. Mereka mengawasi tiap orang dan segalanya."

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

Kuasa Erdogan jaya ISIS

Ada kesepakatan antara ISIS dan intelijen Turki untuk membuka perbatasan bagi jihadis-jihadis ISIS cedera untuk dirawat di Turki.

Struktur ISIS diambil dari dokumen bikinan Haji Bakar. (derspiegel.de)

Ramadan dan kebangkitan ISIS

Kebangkitan ISIS bukan sekadar jumlah serangan mereka lakukan kian banyak. Namun serbuan mereka lakoni berakibat fatal dan serangan mereka bervariasi.

Daftar nama warga Indonesua terkait ISIS di kamp Ain Isa. (Rojava Information Center)

Menengok para pemuja ISIS asal Indonesia di Suriah

Terdapat 450 warga Indonesia di kamp Ain isa dan 300 orang lainnya di kamp Al-Haul.

Amir Muhamnad Abdurrahman al-Mauli as-Salbi, pemimpin baru ISIS. (Courtesy)

Berkenalan dengan pemimpin baru ISIS

Muhammad al-Mauli bergelar sarjana syariah lulusan dari Universitas Mosul. Dia memiliki satu putra. Dia bertemu Baghdadi ketika pada 2004 mendekam dalam tahanan Amerika di Kamp Bucca, Irak.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Garuda dan Bintang Daud nyaris berdekapan

Pertemuan rahasia Indonesia-Israel itu berlangsung sebelum Natal tahun lalu di Singapura. "Yang hadir masing-masing tiga orang dari Indonesia dan Israel, serta dua dari Amerika," kata sumber Albalad.co

22 Januari 2021

TERSOHOR