kisah

Para pembelot dari negara Zionis

Banyak generasi muda Israel menolak wajib militer karena menentang penjajahan terhadap Palestina.

29 Mei 2015 11:20

Muda, cantik, dan molek. Dengan penampilan sememikat itu dan ditunjang tubuh ramping, dia lebih pantas menjadi seorang model. Berlenggak lenggok di atas panggung ketimbang memanggul senjata di medan tempur.

Omer Goldman, 18 tahun, memang bukan seorang model. Dia adalah salah satu pelajar kelas tiga SMA menolak ikut wajib militer. Bersama 40 rekannya dari organisasi Anarki Anti-Tembok Pemisah, dia pernah membagikan selebaran menentang penjajahan Israel terhadap Tepi Barat dan Jalur Gaza di gerbang sekolah.

Pada 2008 dia bareng 40 teman sekolahnya mengirim surat protes kepada Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, bakal mundur secara resmi setelah pemilu 10 Februari tahun depan. Surat protes pertama dikirimkan pelajar terjadi pada 1970 kepada Perdana Menteri Golda Meir.

Sikapnya bukan hal baru dan asing di negara Zionis itu. Sudah banyak generasi muda Israel menolak aturan ini. Mereka berpandangan wajib militer hanya makin menambah kebencian dan serangan teror oleh warga Palestina. Militer Israel mencatat di 2008 sekitar 58 persen usia wajib militer membangkang dan tidak mendaftar.

Sebagai negara hidup di pusaran konflik selama 67 tahun, Israel menerapkan wajib militer. Beleid ini mengharuskan lelaki dan perempuan berusia minimal 18 tahun ikut aturan itu. Bagi pria wajib militer berlangsung tiga tahun, sedangkan perempuan dua tahun.

Namun keputusan Omer itu sungguh mengejutkan dan menarik perhatian publik. Maklum saja, dia adalah putri mantan wakil direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Ayahnya dikenal dengan nama N adalah spesialis Iran. Dia berhenti pada Juni 2007 karena bertengkar dengan atasannya, Meir Dagan. Keluarganya hidup berkecukupan di kawasan elite Ramat Hasharon, Ibu Kota Tel Aviv.

Omer hidup dengan kawalan ketat aparat intelijen dan militer, pihak kini dia benci. Tapi dia sadar risiko akan dia hadapi. Penjara paling lama sembilan bulan dan diasingkan oleh masyarakat membenci dia karena dianggap tidak cinta tanah air. Karena itu, beberapa bulan sebelum memutuskan menolak, saban pekan dia pergi ke ahli jiwa untuk mempersiapkan hidup di tahanan militer.

Hari itu pun datang pada 23 September 2008. Omer menolak. Pengadilan militer lantas memenjarakan dia tiga pekan. Selepas itu pengadilan digelar kembali. Semua berlangsung hingga salah satu pihak menyerah. Namun dia bersikap tegas meski ayahnya tidak mendukung. “Dia dan saya mempunyai karakter sangat mirip. Saya juga akan berjuang sampai akhir atas apa yang saya yakini,” kata Omer.

Dia tidak sendirian. Bulan sebelumnya, pengadilan militer menghukum Sahar Vardi karena menolak mengikuti wajib militer. Perempuan 18 tahun ini adalah anggota Shminitism, gerakan pelajar kelas tiga SMA menolak kekejaman militer Israel terhadap rakyat Palestina. “Penjajahan itu kejam dan saya tidak akan membiarkan diri saya menjadi bagian dari kekejaman terhadap orang lain,” Sahar menegaskan.

Rakyat Israel boleh saja memandang mereka sebagai pembelot. Pastinya, para penolak wajib militer itu tidak mengkhianati prinsip kemanusiaan dan kemerdekaan.

Para aktivis pembela Palestina mendirikan tenda di kawasan Syekh Jarrah, Yerusalem Timur, Palestina. (Maydan al-Quds)

Bennett tidak akan usir sejumlah keluarga Palestina dari rumah mereka di Syekh Jarrah

The Nahalat Shimon Company mampu membuktikan di pengadilan mereka memiliki dokumen kepemilikan sah atas keempat rumah itu memang milik orang-orang Yahudi lari ketika terjadi Perang Arab -Israel pada 1948.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah bertemu pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Ibu Kota Teheran. (Khamenei.ir)

Roket Syiah, milisi Sunni, target Zionis

Kesamaan tujuan membikin Iran bisa lebih fleksibel dalam memberikan bantuan tanpa melihat perbedaan paham.

Shimon Peres menandatangani formulir pengajuan untuk menjadi warga negara Palestina pada 1937. (PIC)

Temu rahasia Gus Dur-Peres di Halim

Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus berdialog dengan kedua pihak. Indonesia juga harus dan pantas dilibatkan sebagai mediator dalam proses perdamaian Palestina-Israel.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mata-mata Gaza

Dua putra pemimpin Hamas juga ada yang menjadi informan Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

23 Juli 2021

TERSOHOR