kisah

Setangguh kebab Barbar

Barbar merupakan simbol stabilitas di sebuah tempat kerap diguncang kekerasan.

21 September 2015 17:03

Sejak dibuka pada 1979, ia tidak pernah tutup meski saat itu perang saudara di Libanon akhirnya padam pada 1990 telah berlangsung empat tahun. Ia juga tidak berhenti melayani pelanggan walau Israel menggempur negara itu.

Restoran Barbar dengan menu andalan kebab daging sapi atau ayam begitu tangguh. Mereka buka 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan. Bahkan saat sebuah roket menghantam pintu masuknya, rumah makan itu tidak berhenti beroperasi.

Para karyawan kebab Barbar bercerita ketika bentrokan pecah di lingkungan restoran itu pada 2008, para pejuang milisi Syiah Hizbullah tetap mendapat layanan istimewa.

Restoran berlokasi di Ibu Kota Beirut ini tidak pernah menolak pembeli. "Kebab Barbar selalu buka. Selalu, selalu, selalu," kata polisi sekaligus pelanggan bernama Bassim Abu Hamdan, 33 tahun.

Kebab Barbar sudah mendunia. CNN dua tahun lalu menempatkan Barbar sebagai restoran kebab nomor satu sejagat, mengungguli para pesaing dari Israel, Iran, dan Yunani. Stasiun televisi berita asal Amerika Serikat itu menyebut syawarma daging ayam dengan bumbu cair kapulaga dan kayu manis sebagai menu terlezat di kebab Barbar.

"Menunya begitu enak," ujar Nura Karkajian, 54 tahun, sambil mendorong daging ayam ke dalam mulutnya, saat ditemui baru-baru ini sedang makan malam di kebab Barbar. Harganya pun, menurut dia, terjangkau. Menu makan malam pesanannya, termasuk selada, kentang, dan hummus, seharga kurang dari US$ 10.

Menurut Amal Andari, penulis budaya di surat kabar Al-Akhbar terbitan Libanon, bagi banyak rakyat negara itu, Barbar merupakan simbol stabilitas di sebuah tempat kerap diguncang kekerasan. "Ia sebuah ikon tidak tergoyahkan," ucapnya.

Barbar begitu besar, menguasai hampir satu blok di kawasan Hamra. Di sekeliling restoran utama, berdiri lebih dari setengah lusin gerai Barbar. Ada yang khusus menjual jus, roti isi falafil, roti isi biasa, dan pizza.

Dari luar bangunan restoran Barbar kelihatan layu. Para pelayan bisa saja tiba-tiba marah. Namun meja-meja di sana jarang kosong.

Barbar begitu tersohor. Orang miskin, kalangan tajir, atau selebritas, semua datang ke Barbar. Saban Jumat malam, untuk mendapat satu kursi di kebab Barbar antrenya bisa bikin frustasi.

"Anda barangkali tidak percaya betapa besar tekanan saya terima bekerja di sini," kata pelayan bernama Muhammad Riziq, 46 tahun. Dia malam itu sedang sibuk melayani langganan.

Muhammad Husain, kepala koki falafil, bahkan sesumbar para penyanyi dan bintang film Arab, termasuk aktor asal Mesir Adil Imam, pernah makan di kebab Barbar. "Mereka semua datang kemari. Itu normal saja," ujar lelaki 47 tahun ini.

Beginilah sejarah berdirinya Barbar. Muhammad Ghaziri, lulusan kelas lima sekolah dasar, saat berusia 17 tahun nekat bekerja di kapal Yunani pada 1960-an, berkeliling dunia dan merasakan beragam restoran. Setelah merasa memiliki cukup fulus, satu dasawarsa kemudian dia pulang ke Libanon dan membuka sebuah toko kecil berjualan pizza.

Bisnisnya terus berkembang dan kini dikendalikan oleh putranya, Ali Ghaziri, 33 tahun, bareng seorang saudara kandung lelakinya.

Di Libanon, negara terpecah belah oleh sektarian dan aliran politik, Barbar menjadi tempat berkumpul semua kalangan dari berbagai latar. Saat perang saudara meletup, semua pejuang dari pelbagai faksi mengisi perut di sana. Untuk melindungi langganan, di pintu masuk dipasang barikade karung pasir setinggi tiga meter. "Pertempuran terjadi di mana-mana," kenang Ali.

Libanon sekarang tengah diguncang krisis sampah. Sebuah tumpukan sampah berlokasi tidak jauh dari kebab Barbar. Tapi para pelanggan rupanya tidak terganggu. Barbar benar-benar tangguh.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR