kisah

Petaka Mina

Fars melansir pengadilan Saudi secara tertutup menetapkan 28 petugas haji bersalah atas kejadian memilukan itu. Mereka divonis hukuman mati dan pelaksanaannya hari ini.

25 September 2015 14:13

Tragedi itu begitu menakutkan bagi sebagian jamaah haji. Sampai-sampai Hasan, asal Mesir, ketakutan buat melaksanakan lempar jumrah.

"Tentu saja kami takut (insiden serupa) berlaku besok (hari ini)," katanya. "Saya ingin melempar jumrah malam saja. Saya tanya kepada seorang ulama, dia bilang oke."

Petaka itu berlangsung kemarin, sehari setelah wukuf di Padang Arafah, di hari pertama dari tiga hari prosesi melempar jumrah. Pemerintah Saudi menyebut musibah itu menewaskan paling tidak 717 jamaah haji dan melukai 863 lainnya.

Tiga pejabat Arab Saudi menyalahkan jamaah sebagai penyebab tragedi. Ketua Komite Haji Pusat sekaligus Gubernur Makkah Pangeran Khalid al-Faisal menuding jamaah haji asal Afrika dalangnya.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mayor Jenderal Mansyur at-Turki bilang bencana itu berlaku lantaran ribuan jamaah memaksakan diri melempar jumrah pagi, sehingga jalan menuju ke lokasi pelemparan kelebihan kapasitas.

Menteri Kesehatan Khalid al-Falih menuduh jamaah melanggar panduan dan instruksi telah diberikan pihak berwenang.

Tapi sejumlah saksi balik menyalahkan aparat berwenang. Menurut Ahmad, jamaah haji dari Mesir, pelaksanaan ibadah haji tidak terorganisir dengan baik. "Mereka bisa membuat sebuah jalan menuju tempat pelemparan jumrah dan satunya lagi untuk yang balik dari sana," ujarnya. "Bila satu polisi saja berdiri di mulut tiap jalan dan mengatur jamaah, petaka ini tidak akan terjadi."

Muhammad Hasan pun menuding polisi berjaga-jaga kelihatan tidak berpengalaman. Sehingga dia mencemaskan tragedi serupa bisa terulang. "Anda hanya akan menyaksikan para tentara itu berkumpul di satu tempat tanpa berbuat apa-apa."

Cerita beredar terjadi tabrakan karena ada rombongan jamaah diminta memutar balik sebab semua jalan ditutup. "Polisi menutup semua pintu masuk dan keluar ke kamp para jamaah, cuma menyisakan satu jalan," tutur Ahmad Abu Bakar, 45 tahun, jamaah haji asal Libya bareng ibunya selamat dari tragedi.

Barangkali inilah jawaban kenapa para jamaah tengah berjalan ke arah tempat pelemparan jumrah disuruh berputar balik, yakni kehadiran rombongan Wakil Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, juga putra dari Raja Salman bin Abdul Aziz, di tengah ribuan pengunjuk rasa tengah menuju lokasi pelemparan jumrah.

Mengutip surat kabar berbahasa Arab terbitan Libanon, Ad-Diyar, stasiun televisi Press TV melaporkan konvoi Pangeran Muhammad itu memaksa dikawal 200 tentara dan 150 polisi. Akibatnya dua jalan ditutup dan para jamaah haji sedang berjalan ke tempat pelemparan jumrah dipaksa memutar balik.

Menyadari akibat tragis dari kehadirannya, rombongan Pangeran Muhammad segera meninggalkan lokasi. Namun keberadaan konvoi anak Raja Salman ini sengaja dirahasiakan dari liputan media.

Kantor berita Fars melansir pengadilan Saudi secara tertutup menetapkan 28 petugas haji bersalah atas kejadian memilukan itu. Mereka divonis hukuman mati dan pelaksanaannya hari ini.

Petaka Mina itu berlangsung dua pekan setelah sebuah derek raksasa jatuh di Masjid Al-Haram, Kota Makkah. peristiwa ini menewaskan 111 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Isyarat Bin Salman menyerah terhadap Iran

Kurang pengalaman dan kalah strategi membikin Saudi kedodoran dalam palagan di Suriah dan Yaman. 

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

11 Oktober 2019

TERSOHOR