kisah

Lelah janin Fatimah

Dari seratus perempuan pengungsi Suriah, 20 atau 30 persennya tengah mengandung.

05 Oktober 2015 15:06

Ketika serombongan pengungsi Suriah melintas dari Yunani masuk ke wilayah Makedonia, suatu hari di awal musim panas ini, beberapa di antara mereka memetik sejumlah buah anggur di sebuah kebun di utara daerah perbatasan. Kebanyakan langsung memuntahkan lagi karena belum matang.

Namun Fatimah Abu Ar-Rus terus menikmati. "Anggurnya masih asam," katanya. "Sebagai perempuan sedang hamil, saya perlu itu untuk mengurangi rasa mual."

Fatimah mengungsi bareng suaminya, Nasir, dan putranya baru berumur setahun, Hamuda. Keluarga ini berasal kamp pengungsi Yarmuk di pinggiran Ibu Kota Damaskus, Suriah.

Lebih dari 300 ribu pengungsi Suriah tahun ini nekat mengambil risiko menyeberang dari Turki menuju Yunani. Sebagian besar dari mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau naik bus melalui Makedonia, Serbia, dan Hungaria ke negara-negara di utara Eropa. Wajah-wajah lelah dan putus asa terlihat, termasuk Fatimah tengah mengandung empat bulan.

Mustahil menghitung berapa banyak pengungsi itu sedang menanti kelahiran anak mereka. Tapi di saban perlintasan sepanjang jalur dilalui pengungsi Suriah, selalu saja ada perempuan hamil.

Menurut UNHCR (badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi), ada 13 persen perempuan tengah hamil dalam rombongan pengungsi Suriah tiba di Eropa tahun ini.

"Benar-benar banyak," ujar Nevena Radovanovic, dokter tergabung dalam organisasi Médecins sans Frontières, mendirikan klinik berjalan bagi para pengungsi di sepanjang Balkan. Dia menambahkan dari seratus wanita, 20 atau 30 persennya tengah mengandung. "Biasanya hamil lima bulan, tapi ada pula yang sudah sembilan bulan atau dua hari lagi mau melahirkan."

Fatimah cuma bisa menangis saat ditanya kenapa dia nekat mengungsi. Jawabannya dilema. Kalau tetap tinggal di Suriah, Hamuda dan calon adiknya bakal hidup di daerah perang tanpa masa depan. Bertahan di Turki, dia atau suaminya tidak akan bisa bekerja secara sah karena berstatus pengungsi.

Perempuan tadinya bekerja sebagai guru ini sadar mungkin bakal kehilangan bayi dalam rahimnya. "Tapi saya dapat menyelamatkan anak saya satu lagi, Hamuda," kata Fatimah. "Saya bisa memberikan hidup bagus buat Hamuda dan itu sangat berharga."

Fatimah tidak bilang kepada suaminya, berprofesi sebagai perancang interior, ketika merasa janin dalam rahimnya sudah tidak bergerak lagi. Lapar dan haus adalah penyebabnya. Fatimah kesulitan menemukan makanan dan air selama perjalanan melelahkan itu. Kondisi ini kian berat lantaran dia mesti berjalan kaki beberapa kilometer sehari.

Dia bahkan pernah pingsan. Dia menangis karena perjalanan begitu berat menuju Swedia. Dia kerap tidur di pinggir jalan.

Setibanya di negara Skandinavia itu, Fatimah dan suaminya langsung ke rumah sakit memeriksa kehamilan. Dia masih beruntung. "Kemudian kami mendengar detak jantungnya masih ada."

Jalan di sekitar Masjid Al-Haram, Kota Makkah sepi dari kendaraan sejak Arab Saudi memberlakukan jam malam pada 23 Maret 2020. (Haramain Info)

Sejarah haji batal

Pada 1831, wabah penyakit dari India menewaskan tiga perempat dari jumlah jamaah sedang berhaji. Selama 1837 hingga 1892, penyakit menular membunuh ratusan jamaah saban hari.

Situasi Mataf ( tempat tawaf di sekitar Kabah) sebelum dan sesudah wabah virus corona Covid-19 datang. (Twitter)

Wabah Wuhan kosongkan rumah Tuhan

Virus Covid-19 membuat warga global kelabakan. Mulai urusan dunia sampai akhirat berantakan.

Puetra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan pamannya, Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz. (Middle East Eye)

Singgasana berdarah negara Kabah

Penangkapan dilakukan lantaran Pangeran Ahmad bersama Pangeran Muhammad bin Nayif kerap membahas soal bagaimana mencegah Bin Salman naik takhta.

Mataf (tempat bertawaf di sekitar Kabah) ditutup selama umrah dilarang. (Saudi Gazette)

Kabah resah jamaah gelisah

"Umrah Ramadan dan haji adalah ladang uang sangat banyak bagi Saudi. Mereka tentu tidak rela kalau dua momen itu terlewatkan," kata Dr. Irfan al-Alawi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sejarah haji batal

Pada 1831, wabah penyakit dari India menewaskan tiga perempat dari jumlah jamaah sedang berhaji. Selama 1837 hingga 1892, penyakit menular membunuh ratusan jamaah saban hari.

25 Maret 2020

TERSOHOR