kisah

Bungkam Mina

Dengan harapan dibarengi keyakinan mereka mati syahid, keluarga korban tragedi Mina bungkam.

06 November 2015 11:07

Di sebuah maktab di Kota Mina, Arab Saudi, saat takbir berkumandang merayakan Idul Adha, September lalu. Kehebohan langsung meruap. Terjadi tabrakan arus jamaah haji di jalan menuju tempat pelemparan jumrah.

Insiden ini terjadi dua pekan setelah sebuah derek raksasa jatuh di Masjid Al-Haram, Kota Makkah. Peristiwa ini menewaskan 111 jamaah haji dan mencederai lebih dari 200 lainnya.

Sumber Albalad.co di Arab Saudi ikut memantau pelaksanaan haji bercerita dia bergegas ke lokasi. Dia tiba setengah jam kemudian. "Lokasi kejadian sudah disterilisasi oleh polisi Arab Saudi dan wartawan dilarang meliput," katanya saat dihubungi melalui WhatsApp kemarin.

Bukan sekadar menutup tempat peristiwa, pemerintah Arab Saudi juga sangat kentara berupaya merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga lebih dari sebulan setelah tragedi Mina itu meletup, pemerintah negara Kabah ini belum melansir perkembangan terbaru.

Beberapa hari kemudian sumber yang sama datang lagi ke lokasi tragedi. "Terlihat CCTV di bawah jembatan dekat tempat kejadian," ujarnya.

Dua hari setelah petaka Mina terjadi, dalam jumpa pers pemerintah Saudi bilang jumlah korban tewas 769 dan 934 lainnya luka. Sampai sekarang angka itu belum berubah.

Namun hasil investigasi kantor berita Associated Press menyebut korban meninggal dalam tragedi Mina 2.117 orang. Angka ini baru dari 30 negara, padahal ada lebih dari 180 negara memberangkatkan warganya untuk berhaji. Kesimpulan ini diperkuat oleh penyelidikan dilakoni kantor berita Reuters, yakni lebih dari dua ribu orang wafat.

Logikanya memang seperti itu. Sebab jalur menuju tempat pelemparan jumrah di mana musibah itu berlangsung dalam sejam bisa menampung 300 ribu jamaah. Artinya, di menit bencana ini datang ada sekitar lima ribu orang di jalan itu. Jadi sangat mungkin korbannya ribuan, bukan ratusan.

Menjadi negara terbanyak korbannya, 400-an orang, Iran paling lantang menyuarakan protes terhadap Saudi. Negara Mullah ini tidak sekadar menuntut Raja Salman bin Abdul Aziz meminta maaf kepada seluruh kaum muslim dan keluarga korban. Iran juga mendesak para pejabat Saudi bertanggung jawab soal haji diadili di pengadilan internasional.

Tapi Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar sejagat dengan kuota haji terbanyak di planet ini, bungkam. Setelah menggelar jumpa pers bareng Menteri Luar Negeri Finlandia Timo Soini di Jakarta awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menolak menjawab pertanyaan Albalad.co soal sikap Saudi berusaha menutupi tragedi Mina. "Saya harus pergi," ucapnya seraya melangkah ke arah pintu keluar gedung Pancasila di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta.

Sebelumnya, beberapa hari setelah petaka Mina, Retno menyatakan melalui WhatsApp, "Pemerintah meminta kiranya investigasi dapat segera diselesaikan dan hasilnya disampaikan secara transparan."

Tentu saja sulit meyakini negeri Dua Kota Suci itu bakal bersikap terbuka soal tragedi Mina. Di negara kerajaan - di mana pers amat dikontrol - berita yang keluar seragam dan dari sumber resmi. Hingga kini mereka tidak menjelaskan alasan ada jamaah berbalik arah sehingga terjadi tabrakan dengan jamaah lainnya.

Surat kabar berbahasa Arab terbitan Libanon, Ad-Diyar, mengklaim ratusan jamaah balik arah karena semua jalan menuju tempat pelemparan jumrah ditutup. Sebab ada rombongan anak raja, yakni Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, lewat dengan kawalan 200 tentara dan 150 polisi.

Ad-Diyar menulis sehari setelah kejadian Raja Salman memerintahkan semua kamera pengawas CCTV di lokasi kejadian dikumpulkan di tempat dirahasiakan. Kemungkinan besar dimusnahkan.

Di tengah sorotan, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adil al-Jubair terbang ke Jakarta menemui Retno Marsudi dan Presiden Joko Widodo. Dia memastikan pemerintahnya akan mengumumkan hasil investigasi secara transparan.

Sekali lagi ini meragukan. Karena penyelidikan dilakukan tidak melibatkan negara-negara yang jamaah hajinya wafat dalam tragedi itu. Apalagi Riyadh secara rahasia membagikan sekitar 1.100 foto korban tewas kepada para diplomat asing untuk proses identifikasi.

Bahkan mufti agung Arab Saudi ikut membela pemerintah. Syekh Abdul Aziz asy-Syekh menyatakan tragedi Mina adalah musibah sehingga pemerintah Saudi tidak pantas disalahkan.

Saudi memang diuntungkan oleh keadaan. Tragedi kemanusiaan merenggut nyawa ribuan orang itu berlangsung saat pelaksanaan rukun Islam kelima. Kalangan awam merasa diberkahi meninggal di saat sedang berhaji meski cara seperti itu tidak diinginkan.

Dengan harapan dibarengi keyakinan mereka mati syahid, keluarga korban tragedi Mina bungkam.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR