kisah

Simbol kecantikan Irak

"Pesan kami adalah untuk menunjukkan kepada dunia...kami ini negara beradab."

21 Desember 2015 07:09

Dipenuhi asap rokok, tanpa alkohol, dan tidak ada perempuan cantik dan seksi tampil berbikini. Begitulah pemandangan final Miss Irak 2015 digelar Sabtu malam lalu dalam sebuah ruangan besar di sebuah hotel di Ibu Kota Baghdad, Irak.

Penyelenggara menyebut kontes ratu kecantikan Irak pertama dalam empat dasawarsa itu sebagai sebuah kemenangan atas tirani perang. "Apa yang kami harapkan untuk menyelesaikan acara ini adalah untuk membuat suara Irak terdengar, menunjukkan Irak masih hidup, jantungnya masih berdetak," kata Sinan Kamil, direktur artistik dalam panitia Miss Irak 2015.

"Sejumlah orang di luar sana berpikir kami tidak memiliki kehidupan," ujar Humam al-Ubaidi, direktur penjualan grup media Al-Mada, penyelenggara kontes Miss Irak 2015. "Pesan kami adalah untuk menunjukkan kepada dunia...kami ini negara beradab."

Syaima Qasim Abdurrahman, mahasiswi jurusan ekonomi berusia 20 tahun, akhirnya dinobatkan sebagai Miss Irak 2015. Gadis asal Kota Kirkuk, utara Irak, ini menjadi ratu kecantikan Irak pertama sejak lomba itu terakhir digelar pada 1972.

Irak memang memiliki sejarah panjang dalam lomba ratu kecantikan. Pada 1930-an kaum hawa mengikuti beragam kontes kecantikan digelar saban bulan, termasuk Miss Baghdad dan Baghdad's Queen of Beauty, menurut sebuah artikel dilansir majalah Nina Iraq.

Wijdan Burhanuddin, pemenang Miss Irak 1972, mewakili negaranya di tahun sama untuk mengikuti perlombaan Miss Universe.

Sejak itu kontes-kontes kecantikan dilangsungkan di negara Dua Sungai ini bahkan tidak memenuhi standar Miss Arab, apalagi Miss World. Dengan terpilihnya Syaima, Irak bisa mengirimkan wakil dalam kontes serupa di tingkat global.

Keputusan dewan juri ini sesuai harapan penonton, terutama di barisan belakang, di mana para pemuda berpakaian serba ketat dengan brewok tipis berdiri di atas kursi meneriakkan nama Syaima.

"Saya sangat senang melihat Irak terus berkembang," kata Syaima seraya menjaga diri dari para pengagum berusaha merangsek ke arah dirinya. "Acara ini benar-benar luar biasa dan membuat seluruh rakyat Irak tersenyum."

Dengan mengenakan gaun malam panjangnya di bawah lutut, para peserta lebih banyak berbicara soal rencana kegiatan kemanusiaan mereka ketimbang berlenggak lenggok saat malam final. Kontes Miss Irak 2015 ini dirancang untuk memenuhi kriteria internasional, termasuk tidak perlu berjilbab dan berbikini. Pose tanpa bikini juga mulai berlaku dalam ajang Miss World tahun ini.

Syaima bilang dia bakal menggunakan ketenarannya untuk mengkampanyekan pentingnya pendidikan, terutama di kalangan pengungsi.

Seorang peserta lainnya mengatakan dia akan memperbaiki bendungan Mosul, dam terbesar di Irak dan dilaporkan perlu perbaikan segera. "Karena waduk itu mengancam seantero negeri."

Di pekan terakhir menjelang malam penobatan, delapan finalis disibukkan oleh padatnya kegiatan, termasuk mengunjungi sebuah kamp pengungsi di Baghdad.

Berbicara ketika acara penanaman sebuah pohon di lokasi reruntuhan kota kuno zaman Babilonia Kamis pekan lalu, Suzan Amir, finalis berumur 22 tahun dari Kota Sulaimaniyah di wilayah Kurdistan, kontes Miss Irak 2015 lebih dari sekadar selingan. "Ini pertama kali saya melakoni hal seperti ini tapi itu pengalaman ingin saya rasakan. Saya kira Irak perlu kegiatan-kegiatan semacam ini," ujarnya.

Irak memang luluh lantak oleh perang sejak invasi Amerika Serikat pada 2003, akhirnya menjungkalkan rezim Saddam Husain. Negeri Al-Furat ini sekarang tengah memerangi milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Situasi di Irak kian diperparah oleh mengakarnya konflik sektarian dan korupsi.

Seperti kebanyakan penduduk Irak, Syaima juga menjadi korban konflik berkepanjangan itu. Dua sepupunya, anggota kepolisian nasional Irak, terbunuh saat bertempur melawan milisi. Lima temannya sesama kontestan Miss Irak tahun lalu terpaksa pindah rumah karena kota tempat tinggal mereka, Mosul, dicaplok ISIS.

Ketidakstabilan itulah memaksa final Miss Irak rencananya berlangsung Oktober lalu diundur dua bulan. Sebanyak 15 dari 150 lebih peserta mundur karena takut ancaman pembunuhan.

Hingga akhirnya mahkota Miss Irak 2015 ditaruh di kepala Syaima. Kegembiraan para peserta, panitia, dan hadirin meruap diiringi lagu Ode to Joy karya Beethoven.

"Saya pikir ini menyenangkan, membikin Anda merasa segalanya telah kembali normal," tutur pegiat hak asasi manusia Hana Edwar.

Aura kecantikan Irak seolah bersinar lagi dan Syaima adalah simbolnya.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Isyarat Bin Salman menyerah terhadap Iran

Kurang pengalaman dan kalah strategi membikin Saudi kedodoran dalam palagan di Suriah dan Yaman. 

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

11 Oktober 2019

TERSOHOR