kisah

Pelantun Yahudi idola Arab

Lewat musik A-Wa berhasil menyatukan selera para penggemar dari beragam latar. Yahudi dan Arab membaur melalui Habib Galbi.

08 Januari 2016 23:16

Sebagian orang meyakini musik mampu menerobos sekat etnik, agama, budaya, dan sosial. A-Wa, bahasa Arab gaul untuk aiwah (berarti ya) telah membuktikan hal itu.

Kelompok musik ini terdiri dari tiga gadis Yaman berdarah Yahudi dan kini menetap di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. Tiga saudara kandung ini - Tair, Liron, dan Tagel Haim - menyanyikan lagu-lagu Arab usang dengan dialek Yaman. Bahkan ketiganya tampil dengan jalabiya, pakaian tradisional Arab berupa gaun panjang hingga di bawah lutut dan berlengan panjang.

Lirik mereka lantunkan berasal dari puisi-puisi kuno Yaman hampir lenyap, diiringi musik hip-hop dan hentakan elektronik.

Lagu pertama mereka berjudul Habib Galbi (Kekasih Hatiku) adalah versi terbaru dari sebuah lagu kuno diturunkan dari generasi ke generasi perempuan Yaman. Dirilis tahun lalu, klip video diunggah di YouTube telah ditonton lebih dari dua juta kali dan mendapat ribuan komentar dari seluruh dunia.

A-Wa sudah melakukan konser di Israel dan Eropa. Tiket pertunjukan mereka selalu ludes terjual. National Public Radio memasukkan mereka dalam daftar sepuluh grup musik dunia terfavorit tahun lalu.

Penggemar mereka di dunia Arab tidak terhitung, tentu saja paling banyak di Yaman dan negara Arab lainnya tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel.

Mereka sekarang mengincar Amerika Serikat.

"Kami belum memiliki label tapi kami sedang mengupayakan itu," kata tiga saudara kandung ini hampir berbarengan, saat berbincang dengan surat kabar the Washington Post akhir Desember lalu di atas bubungan atap rindang di apartemen Tair nan trendi di Tel Aviv.

A-Wa berharap bisa melansir album pertamanya di negara adikuasa itu dalam beberapa bulan ke depan. Mereka pun merencanakan tur keliling di sana musim semi mendatang.

Ketiganya dibesarkan di Shaharut, kota kecil di Israel berisi 30 keluarga, dekat dengan perbatasan Mesir. Mereka biasa bermain dikelilingi unta dan bukit-bukit pasir di daerah gurun. "Kami tumbuh di gurun dan kami pikir itu tempat wajar untuk mulai menceritakan kisah kami," ujar Tair, 32 tahun, anggota tertua A-Wa.

Mereka sebenarnya enam saudara kandung, tiga lainnya lelaki. Sejak kecil mereka senang bernyanyi dan direkam oleh sang ayah. Mereka pun dikenal dengan julukan "Keluarga Jackson dari Shaharut.

"Kami sudah menjadi grup band sejak lama tapi kami tidak menyadari itu," tutur Tagel, 26 tahun, anggota A-Wa termuda. "Kami menertawai itu sekarang."

Keputusan buat bernyanyi dalam bahasa Arab, menurut ketiganya, adalah hal wajar. Sangat diilhami oleh para penyanyi Yaman berdarah Yahudi di masa lalu, mereka belajar bahasa Arab dialek Yahudi Yaman melalui lagu-lagu mereka dengar saat menghadiri acara-acara keluarga, pernikahan, dan khususnya kunjungan kakek nenek mereka, pindah ke Israel dari Yaman pada 1949.

Selama 1949-1950, sekitar 50 ribu orang Yahudi asal Yaman diterbangkan ke Israel dalam sebuah operasi rahasia bersandi Karpet Ajaib. Sebuah perkiraan menyebutkan terdapat 350 ribu orang Yahudi dari Yaman kini tinggal di Israel dan beberapa ratus lainnya masih ada di Yaman.

"Mulanya kami tidak memberitahu kami dari Israel, kami baru saja melansir video Habib Galbi," kata Tagel. "Kami ingin orang-orang mendengarkan dan menanggapi secara wajar."

Liron, anggota A-Wa berusia 30 tahun, menambahkan mereka menerima banyak komentar dari Yaman karena Habib Galbi merupakan lagu lama Yaman. "Tapi yang mengejutkan dan mengagumkan kami mendapat komentar dari negara-negara Arab lainnya juga," ujarnya. "Bahkan ketika orang akhirnya tahu kami dari Israel, komentar diterima masih tetap baik dan mereka bilang menyukai musik kami."

"Para penggemar dari Yaman bilang kepada kami betapa mereka merindukan saudara-saudara mereka berdarah Yahudi," tutur Tagel. "Mereka merasa kami sedang menyebarluaskan tradisi mereka."

A-Wa tidak mau pusing menanggapi komentar negatif, termasuk dari warga Israel, mengecam karena mereka bernyanyi dengan bahasa Arab, dianggap sebagai bahasa musuh. "Kami kira solusinya adalah membawa getaran bagus dan berfokus pada kesamaan kita punya ketimbang perbedaan," kata Liron.

Lewat musik A-Wa berhasil menyatukan selera para penggemar dari beragam latar. Yahudi dan Arab membaur melalui Habib Galbi.

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Gonta ganti Tuhan di Hagia Sophia

Di waktu subuh pada 1 Juli, untuk pertama kali dalam 85 tahun, azan dikumandangkan dari dalam Hagia Sophia.

Syekh Khalifah bin Zayid bin Sultan an-Nahyan, sejak November 2004 menjabat Presiden Uni Emirat Arab. (Wikipedia)

Pangeran kebanyakan rumah

Karena kebanyakan rumah, Emir Abu Dhabi sekaligus Presiden UEA Syekh Khalifah bin Zayid an-Nahyan tidak pernah mengunjungi vilanya di Spanyol sejak dibeli pada 2003.

Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Miri Regev mengunjungi Masjid Agung Syekh Zayid di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 29 Oktober 2018. (Courtesy Chen Kedem Maktoubi)

Relasi Tel Aviv-Abu Dhabi

Menjalin relasi dengan Israel tidak akan membikin UEA dimusuhi negara-negara Arab dan muslim. Mesir, Yordania, dan Turki contohnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Buru Jabri incar dokumen

"Dia memiliki semua dokumen mengenai segala hal dan menyangkut semua orang penting di Saudi," tutur seorang eks pejabat keamanan regional.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Gonta ganti Tuhan di Hagia Sophia

Di waktu subuh pada 1 Juli, untuk pertama kali dalam 85 tahun, azan dikumandangkan dari dalam Hagia Sophia.

10 Juli 2020

TERSOHOR