kisah

Gaduh novel kawin campur

Kawin campur Yahudi-Arab dinilai mengancam identitas Israel sebagai negara khusus bangsa Yahudi.

13 Januari 2016 09:41

Cinta keduanya terlarang lantaran berbeda etnik dan agama. Ditambah lagi mereka berasal dari dua bangsa saling bermusuhan. Lelakinya muslim Palestina dan perempuannya Yahudi Israel.

Kisah cinta terlarang dalam novel Gader Haya atau Borderlife (dalam bahasa Inggris) inilah telah memicu kegaduhan di Israel sejak pekan lalu. Kementerian Pendidikan Israel membatalkan buku setebal 344 halaman ini masuk dalam kurikulum sekolah menengah atas.

Mereka beralasan cinta terlarang dalam novel itu mengancam inti dari ide nasional, yakni Israel adalah negara bangsa Yahudi dan hanya akan tetap seperti itu bila orang-orang Yahudi tidak menjalin hubungan mesra dengan kaum non-Yahudi.

Borderlife dilansir pada 2014 merupakan novel ketiga bikinan Dorit Rabinyan. Borderlife tahun ini memperoleh Bernstein, penghargaan bergengsi tahunan digelar Israel untuk buku-buku terbaik.

Penulis 43 tahun itu dianggap pendatang baru terbaik karena mampu menghasilkan dua novel berkualitas saat dia berusia 20-an tahun. Kedua buku ini juga berdasarkan pengalamannya sebagai anak dari keluarga Yahudi Persia asal Iran.

Borderlife merupakan novel semiotobiografi. Bercerita mengenai pertemuan antara seorang perempuan Israel dan lelaki Palestina saat musim dingin di Kota New York, Amerika Serikat, tidak lama setelah serangan 11 September 2001. Keduanya lantas saling jatuh cinta.

Tapi keduanya tidak sanggup memperjuangkan cinta mereka. Gadis Yahudi itu kemudian pulang ke Ibu Kota Tel Aviv, Israel, dan pemuda Palestina kembali ke Kota Ramallah, Tepi Barat. Mereka menyerah dan sadar tidak akan mungkin menikah.

Sebagian kaum konservatif di Israel menilai kawin campur Yahudi-Arab sebagai "Holocaust Senyap" dan mengancam kelangsungan tradisi Yahudi di Israel. Lehava, kelompok sayap kanan menentang asimilasi Yahudi-Arab, tahun lalu berupaya membatalkan pernikahan lelaki Arab muslim dan perempuan Yahudi menjadi mualaf.

Ketakutan kalangan ini sebenarnya tidak sebanding dengan kenyataan di lapangan. Saban tahun hanya ada 20 pernikahan Yahudi-Arab di Israel. Bila pasangan orang Yahudi itu tidak mau berpindah agama menjadi penganut Yudaisme, mereka mesti menikah di luar negeri.

Rabinyan menganggap larangan atas novelnya menggelikan. Dia bilang cerita dalam Borderlife adalah kenyataan sehari-hari di Israel. "Saya menulis soal ketakutan ini (kawin campur Yahudi-Arab) dan menggunakan itu untuk potret karakter utama saya, takut berbaur oleh cinta," katanya.

Padahal dalam kurikulum sekolah menengah atas di Israel banyak buku-buku bertopik panas, termasuk Khirbet Khizeh, novel terbitan 1949 mengisahkan pengusiran orang-orang Arab dari sebuah desa (namanya fiktif) oleh pasukan Israel, dan A Trumpet in the Wadi, novel dirilis pada 1987 tentang kisah cinta antara seorang lelaki Yahudi dan perempuan Arab Kristen.

Namun Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett, pemimpin partai ultranasionalis Bayit Yehudi, beralasan Borderlife tidak layak dibaca pelajar sekolah menengah atas karena memotret kesadisan serdadu negara Zionis itu terhadap tahanan Palestina. "Haruskah saya memaksa anak-anak Israel membaca soal ini?"

Borderlife memicu perdebatan panas di parlemen dan antar politikus. Kelompok konservatif dan ultranasionalis memandang novel ini mengancam identitas Israel, sedangkan kaum liberal mengatakan Borderlife merupakan bentuk dari kebebasan berpendapat dan berdemokrasi.

Meski begitu, Rabinyan tidak percaya impian John Lennon, Yahudi dan Arab bisa bersatu dalam sebuah negara. Dia menuntut Israel segera mengakhiri penjajahan dan membiarkan bangsa Palestina mendirikan sebuah negara di Jalur Gaza serta Tepi Barat. "Saya tidak mau bangsa saya menguasai kehidupan bangsa lain tapi saya juga tidak mau dijajah," ujarnya.

Kehebohan Borderlife berpengaruh terhadap penjualan. Menurut agen Rabinyan, dalam sepekan novel ini terjual lima ribu eksemplar. Rencana penerbitan versi terjemahan di Amerika Serikat, Prancis, dan negara lain bakal dipercepat. Kesepakatan penjualan hak cipta di Hungaria, Spanyol, dan Brazil tengah dibahas.

Rabinyan berharap kegaduhan itu segera berakhir. "Saya ingin kembali ke kehidupan sunyi saya dan memperoleh kedamaian pikiran, bukan hanya buat tidur tapi juga untuk menulis novel lagi."

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."





comments powered by Disqus