kisah

Guantanamo versi negara Bintang Daud

Keluarga dan pengacara dilarang menjenguk tahanan.

03 Februari 2016 22:03

Saking rahasianya, hampir semua peta dilansir pemerintah Israel tidak menyebutkan nama dan lokasi Kamp 1391. Hanya beberapa peta dikeluarkan Otoritas Perlindungan Alam dan Taman Nasional menunjukkan lokasi penjara rahasia itu dengan sebuah huruf tanpa penjelasan lebih lanjut.

Padahal Kamp 1391 bukan berlokasi di daerah gurun tanpa manusia. Juga tidak dalam sebuah gua sangat sulit dijangkau. Penjara ini berada di wilayah permukiman penduduk dilewati sebuah jalan utama berlajur tiga. Hanya saja, tidak ada papan petunjuk menuju bangunan itu.

Sebab itu, masyarakat Israel menjuluki Kamp 1391 sebagai Guantanamo. Nama ini merujuk pada penjara ada di pangkalan militer Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Guantanamo, Kuba. Kompleks itu dibangun sejak 2001 untuk menampung para tersangka teroris diduga terlibat jaringan Al-Qaidah dan Taliban.

Bahkan lantaran kelewat rahasia, dua mantan menteri kehakiman Israel, David Libai dan Dan Meridor, mengaku tidak mengetahui di mana dan bagaimana kondisi Kamp 1391. "Saya tidak akan mengucapkan satu kata pun mengenai hal itu karena alasan sederhana saja: saya memang tidak tahu. Ini pertama kalinya saya mendengar soal itu (Kamp 1391)," kata Libai, menjabat menteri kehakiman semasa pemerintahan Perdana Menteri Yitzhak Rabin.

Kamp 1391 menjadi satu-satunya penjara di Israel terlarang bagi Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Pihak keluarga dan pengacara juga dilarang menjenguk keluarga mereka ditahan di sana.

Kamp 1391 memang berada di lingkungan markas Korps Intelijen IDF (Pasukan Pertahanan Israel) bernama Unit 504. Lembaga ini hanya memiliki sedikit personel dengan kemampuan khusus. Terdiri dari "Katamim", agen bertugas melaksanakan misi rahasia di luar negeri dan "Hakshabim", ahli interogasi.

Bangunan warisan Inggris ini dikelilingi dua pagar kawat berduri dialiri listrik. Di antara barikade itu, patroli berlangsung saban hari. Menara pengawas di empat penjuru juga tidak pernah sepi dari penjaga. Kamp ini memiliki dua gerbang terbuat dari besi. Lepas dari pintu masuk kedua, terdapat sebuah aula. Sel-sel dan ruang interogasi terletak tidak jauh dari sana.

Di sini terdapat dua jenis sel. Kategori pertama sering disebut vila, dihuni oleh tahanan sudah selesai diperiksa. Berukuran sepuluh meter persegi dengan penerangan dan air memadai.

Ruang tahanan model kedua bagi orang-orang sedang diinterogasi. Luasnya hanya 1,25×1,25 meter persegi dengan tembok bercat hitam atau merah. Tanpa jendela dan lampu, bahkan tidak ada kakus. Tahanan membuang kotorannya dalam satu kantong plastik besar dibuang petugas sekali dalam beberapa hari.

Semua tahanan mendapatkan makan tiga kali sehari. Menunya sama dengan yang dinikmati para sipir. Namun mereka hanya boleh keluar sejam selepas interogasi. Selebihnya, mereka menghabiskan waktu dalam sel biasanya dihuni satu atau dua orang.

Penyiksaan dan pelecehan seksual sering terjadi di Kamp 1391. Para tahanan masuk tanpa diadili atau tuduhan apa pun. Mereka dibawa masuk dengan tangan diborgol dan mata ditutup. Kalau bertanya di mana mereka dikurung, sipir hanya menjawab di luar angkasa, di bulan, atau di luar Israel.

Seperti dialami oleh Mustafa Dirani, ditahan sejak 1994. Kepala divisi keamanan kelompok Syiah Amal di Libanon ini mengaku disodomi dan sipir memasukkan tongkat kayu ke dalam anusnya. Tahanan lainnya, Ahmad Ali Banjak, menyatakan pernah dipaksa minum kopi bercampur abu rokok dan makan bawang merah dicampur air dalam jumlah banyak.

Kamp 1391 akan terus menjadi horor bagi para pejuang anti-Israel. Apalagi keberadaannya masih misterius bagi masyarakat.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR