kisah

Deg-degan bersepeda di Gaza

Hingga pertengahan 1980-an, perempuan mengayuh sepeda di Gaza pemandangan lumrah.

24 Februari 2016 15:09

Keempat perempuan itu langsung menggaet perhatian saat bersepeda di Jalan Salahuddin, jalan membentang mulai Rafah di selatan Jalur Gaza hingga Bait Hanun di utara, Jumat pagi pekan lalu.

Pengmudi tuk-tuk memperlambat laju kendaraan roda tiganya saat empat pesepeda perempuan itu melintas. Sedangkan seorang lelaki remaja penarik gerobak kuda berusaha mengimbangi kecepatan kayuhan mereka. Sebuah jip penuh dengan anggota Hamas membunyikan klakson dan menyoraki keempat perempuan itu.

Segerombolan pria bersepeda motor melintas sambil menggoda. Alaa, bocah lelaki sebelas tahun tengah menggembala domba di media jalan, mengira keempat perempuan bersepeda itu pelancong asing. Karena itu dia berteriak dalam bahasa Inggris terbatas: "Halo! Satu, dua, tiga!"

Keempat perempuan itu tidak mempedulikan perhatian banyak orang saat bersepeda, mulai dari Jabaliya hingga berhenti di depan perlintasan Bait Hanun, menghubungkan Jalur Gaza dan Israel. Mereka menggeletakkan sepeda mereka dekat pepohonan zaitun, lalu duduk dan menikmati bekal berupa roti isi keju.

Amna Sulaiman, perempuan lajang berusia 33 tahun, adalah pemimpin klub sepeda perempuan itu. Ketiga anggota klub satu dasawarsa lebih muda dibanding dirinya.

"Dengarlah para gadis, tidak ada yang tersisa di kebun buah milikku kecuali kayu bakar," kata Amna mengutip pepatah Palestina, merujuk pada seorang perawan tua. "Tapi kalian masih muda. Saya ingin kalian, ketika akan menikah, meminta syarat boleh bersepeda."

Seorang perempuan belia terbahak-bahak mendengar saran Amna itu. "Dia (suami) akan memukul saya!" ujar Asala, 21 tahun, meminta nama belakangnya tidak ditulis.

Keempat perempuan ini mulai bersepeda bareng sejak Desember tahun lalu. Mereka menjadi kaum hawa pertama di Gaza bersepeda setelah bertahun-tahun. Hamas memang membatasi perempuan untuk melakoni kegiatan olahraga.

Kelompok dibentuk Syekh Ahmad Yasin itu melarang perempuan ikut dalam marathon pada 2013, sehingga lomba lari jarak jauh itu dibatalkan. Perempuan juga tidak boleh dibonceng oleh lelaki bukan muhrim. Atlet-atlet wanita mesti berlatih di stadion tertutup.

Pada 2010, wartawan perempuan Asma al-Ghul diludahi dan diancam saat dia bersama tiga temannya bersepeda sejauh 24 kilometer mulai dari selatan Gaza hingga Kota Gaza. Kegiatan ini sebagai protes atas larangan tidak tertulis bagi perempuan pubertas bersepeda.

Ahmad Muhaisin, pejabat dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, membenarkan kaum hawa bersepeda di muka umum melanggar tradisi di Gaza. Namun dia bilang tidak akan menghentikan kegiatan Amna dan tiga anggotanya kecuali ulama mengeluarkan fatwa haram atas hal itu.

Di negara-negara Arab memang tidak lazim perempuan bersepeda. Meski begitu ada juga klub sepeda khusus kaum hawa di Kairo (Mesir) dan Amman (Yordania). Bahkan di Ibu Kota Beirut, Libanon, perempuan mengayuh sepeda sewaan di sepanjang pesisir pantai Laut Mediterania.

Atif Abu Saif, penulis tinggal di Gaza, mengungkapkan hingga pertengahan 1980-an perempuan mengayuh sepeda di Gaza pemandangan lumrah. "Mereka melakukan itu untuk bersenang-senang di tepi laut," ujarnya.

Amna, pindah ke Gaza saat remaja pada 1990-an, kerap bersepeda semasa kecil di Ibu Kota Damaskus, Suriah.

Ketika bersepeda dia hidupkan lagi di Gaza, mulanya karena bertaruh dengan dua teman perempuannya: siapa paling banyak turun berat badannya dalam dua pekan. Perempuan gemar berenang dan bermain keyboard ini menang uang taruhan US$ 75 setelah bobotnya melorot lima kilogram. Untuk mencapai itu, Amna mengurangi makan roti, beras, dan pasta.

Dia lalu memutuskan membeli sepeda agar bisa terus menurunkan berat tubuhnya. Selain itu, "Saya ingin mengenang masa kecil saya, bersepeda (di Damaskus) tanpa masalah."

Awalnya, dia hanya bersepeda di lingkungan tempat tinggalnya menjelang subuh. Dia kemudian mengajak Sara Salibi, 24 tahun, diajar naik sepeda oleh adik lelakinya.

Amna dan Sara sama-sama menentang pembatasan terhadap kaum hawa di Gaza, hanya saja cara mereka tempuh amat berbeda. Sara merokok diam-diam, membaca buku karya Milan Kundera, penulis Ceko. Dia juga ingin belajar menari.

"Bersepeda membikin Anda merasa seperti sedang terbang," tutur Amna, mengajar Al-Quran dan menjadi relawan di panti asuhan. "Saya merasa bebas," tambah Sara.

Jumat pagi itu, Amna dan Sara bersepeda ditemani Nur, 21 tahun (adik Sara), dan temannya, Asala.

Seorang anggota milisi Jihad Islam menilai perempuan bersepeda menjijikkan dan jelek. "Peran perempuan kami adalah menaati dan menyiapkan makanan bagiĀ  suami mereka, tidak meniru kaum adam dan bersepeda di jalan."

Tapi Abdussalam Husain, 53 tahun, berpendapat berbeda. "Memangnya salah perempuan bersepeda?" katanya. "Orang lain sudah tiba di bulan!"

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR