kisah

Diplomasi satu kaki buat Palestina

"Sangat tidak rasional, Anda ingin mendamaikan dua pihak bertikai tapi cuma berhubungan dengan satu pihak saja."

13 Maret 2016 20:47

Setelah menemui ganjalan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kemarin akhirnya terpaksa melantik pengusaha perempuan Palestina, Maha Abu Shusha, sebagai konsul kehormatan pertama Indonesia buat Palestina. Bukan di Kota Ramallah, Tepi Barat, seperti dijadwalkan semula.

Dalam sambutannya, Retno bilang pelantikan dan pembukaan kantor Konsul Kehormatan Indonesia di Ramallah merupakan bukti nyata dukungan terhadap Palestina. "Dukungan Indonesia kepada perjuangan rakyat Palestina tidak pernah padam dan hari ini (kemarin) kita maju satu langkah lagi dengan pelantikan Konsul Kehormatan Indonesia di Ramallah," katanya dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri diterima Albalad.co kemarin.

Retno meminta Maha dapat berperan aktif meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. "Saya harap konsul kehormatan di Ramallah dapat menjadi penyambung tali persaudaraan rakyat Indonesia dan Palestina." ujarnya.

Namun bagi Israel, segala diplomasi telah dilakoni Indonesia dinilai berat sebelah. Inilah menjadikan alasan negara Zionis itu menolak mengizinkan Retno ke Tepi Barat, seperti pernah mereka lakukan empat tahun lalu terhadap Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

"Kementerian Luar Negeri Israel dan kantor perdana menteri menolak memberi izin kepada Retno Marsudi ke Tepi Barat," kata sumber Albalad.co dalam pemerintahan Israel saat dihubungi melalui WhatsApp semalam. "Karena dia menolak berkunjung ke Yerusalem dan bertemu para pejabat Israel."

Indonesia telah memainkan diplomasi satu kaki dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Padahal Israel berharap kalau ingin efektif berperan sebagai mediator, Indonesia mesti pula berhubungan dengan Israel. "Sangat tidak rasional, Anda ingin mendamaikan dua pihak bertikai tapi cuma berhubungan dengan satu pihak saja," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon kepada Albalad.co akhir tahun lalu. "Bagaimana bisa dipercaya?"

Namanya juga satu kaki, diplomasi dijalani Indonesia ini berjalan pincang. Sehingga hasilnya pun tidak sempurna. Kalau dihitung sejak negara Israel berdiri, usia penjajahan atas Palestina cuma tiga lebih muda ketimbang umur negara Indonesia.

Jakarta memang berhasil membantu hingga Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui Palestina sebagai sebuah negara pada 2012 dan tahun lalu bendera Palestina untuk pertama kali dikibarkan di markas besar PBB di Kota New York, Amerika Serikat. Namun praktek di lapangan, Palestina belum menjadi negara merdeka dan berdaulat.

Otoritas Israel masih mengpntrol Tepi Barat dan memblokade Jalur Gaza. Jangankan Retno, izin keluar masuk Tepi Barat bagi Presiden Mahmud Abbas dan pejabat Palestina lainnya juga tergantung Israel. Akibat paling mengerikan, penjajahan Israel atas Palestina seolah telah menghilangkan semangat hidup bangsa Palestina. Mereka seperti frustasi dan tidak punya masa depan. Inilah memicu intifadah ketiga berlangsung di Tepi Barat sejak awal Oktober tahun lalu.

Indonesia tentunya sadar, pengakuan sebagai sebuah negara menurut mekanisme PBB hanya berlaku bila ada resolusi Dewan Keamanan, bukan keputusan Sidang Majelis Umum. Faktanya, Amerika Serikat, satu dari lima pemegang hak veto di Dewan Keamanan, menolak mengakui hasil sidang umum itu. Bagi Amerika dan Israel, negara Palestina hanya bisa lahir lewat perundingan, sebuah proses sudah berkali-kali mandek sehingga membikin kian banyak orang pesimistis akan berhasil.

Namanya satu kaki, diplomasi Indonesia tidak bisa berjalan cepat apalagi berlari. Diplomasi satu kaki Indonesia buat Palestina seolah kian jauh tertinggal dengan cita-cita kemerdekaan Palestina. Bahkan mulai dilupakan orang. Retno pun mengakui hal ini. Dia mengatakan konferensi internasional soal Yerusalem digelar di Jakarta Desember tahun lalu, untuk mengangkat kembali isu Palestina ke panggung politik internasional.

Jakarta seolah berkejaran dengan waktu. Ruwetnya masalah Palestina bisa membuat isu ini tenggelam oleh persoalan-persoalan global mengancam peradaban manusia, seperti terorisme, perubahan iklim dunia, dan wabah penyakit mematikan.

Kalau sudah begini, bisa jadi penjajahan Israel atas Palestina bakal langgeng sepanjang masa. Dan keyakinan ini sudah meracuni banyak pihak.

Pemandangan pada Selasa sore, 31 Mei 2016, di pusat belanja Lale di Ibu Kota Teheran, Iran. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Eksodus kaum jenius dari negara Mullah

Sebanyak 43 persen atlet olimpiade, 30 persen profesor di berbagai disiplin ilmu, seperti mekanik dan komputer di sejumlah universitas, dan tiga ribu dokter sudah dan siap keluar dari Iran.

Menteri Energi Israel Karin Elharrar, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) Mariam al-Muhairi, dan Menteri Air Yordania Muhammad an-Najjar pada 22 November 2021 di Dubai, UEA, menandatangani kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Yordania. (Courtesy)

Kalah air dekap Israel

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania.

Mordy dan Natali Oknin ( keduanya duduk) didampingi dua pejabat konsuler Kementerian Luar Negeri Israel di dalam pesawat pribadi akan mengantar mereka pulang ke Israel setelah dibebaskan dqri penjara. (Israel's Ministry of Foreign Affairs)

Natali dan azan di Istanbul

Penahanan keduanya menjadi ujian terberat bagi pemerintahan Bennett. Pemimpin dari Partai Yamina ini sudah bertekad untuk membebaskan empat warga Israel masih dalam tawanan Hamas di Jalur Gaza.

Saif al-Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, pada 14 November 2021 mendaftar sebagai calon presiden di Kota Sabha. Pemilihan presiden Libya akan digelar pada 24 Desember 2021. (Al-Marshad)

Relasi Libya-Israel

Selentingan beredar lama di kalangan rakyat Libya menyebutkan ibu dari Qaddafi adalah orang Yahudi telah masuk Islam.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Eksodus kaum jenius dari negara Mullah

Sebanyak 43 persen atlet olimpiade, 30 persen profesor di berbagai disiplin ilmu, seperti mekanik dan komputer di sejumlah universitas, dan tiga ribu dokter sudah dan siap keluar dari Iran.

29 November 2021
Kalah air dekap Israel
26 November 2021
Natali dan azan di Istanbul
19 November 2021
Relasi Libya-Israel
15 November 2021

TERSOHOR