kisah

Tantang kerajaan hilang tiga pangeran

Pangeran Sultan bin Turki, Pangeran Turki bin Bandar, dan Pangeran Saud bin Saif hilang setelah menjadi pembelot.

31 Maret 2016 03:18

Beginilah risiko bila berani menentang penguasa Arab Saudi. Tiga pangeran asal negara Kabah itu tidak diketahui nasibnya hingga kini karena menentang pemerintah.

Kasus terakhir menimpa Pangeran Sultan bin Turki. Seorang stafnya bilang majikannya itu telah dipulangkan paksa dari Eropa ke Arab Saudi.

Sang pangeran, mendapat kawalan ketat 24 jam, tengah mengajukan gugatan hukum di Swiss terhadap pemerintah Arab Saudi atas penculikan dirinya pada 2003. Gara-gara kejadian itu, Pangeran Sultan bin Turki mengaku mengalami masalah kesehatan serius dan masih terasa sakit.

Pada 1 Februari tahun lalu, Pangeran Sultan bin Turki dan rombongannya terbang dengan pesawat Saudi dari Ibu Kota Paris, Prancis, menuju Ibu Kota Kairo, Mesir. Dia memang berencana mengunjungi teman-temannya dan menjenguk ayahnya, kakak kandung dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. Seorang ajudan telah memasan kamar bagi bosnya itu di Hotel Kempinski di kawasan Garden City, Kairo. Namun Pangeran Sultan bin Turki tidak pernah tiba.

"Ada sebuah pesawat Saudi dengan jadwal penerbangan ke Kairo tapi pesawat itu tidak terbang ke Kairo," kata seorang kolega menemani sang pengeran saat di Paris. "Ada bendera Saudi di ekornya. Pesawat ini dari sana."

Seorang teman dari Pangeran Sultan bin Turki menduga satu pangeran senior dari Saudi menelepon korban dua atau tiga kali untuk meyakinkan dia agar mau terbang ke Kairo menggunakan pesawat itu.

"Dia bahkan mengirim uang buat sang pangeran," ujarnya. "Ketika Sultan memutuskan untuk terbang dari Paris ke Kairo, pangeran senior itu bilang 'Jangan khawatir, kami akan mengatur segalanya buat kamu' hingga akhirnya dia merasa nyaman. Namun itu kesalahan besar dan dia telah menerima akibatnya."

Temannya yang lain menunggu kedatangan Pangeran Sultan bin Turki mengatakan terakhir kali menelepon sang pangeran tertawa seraya berseloroh, "Saya mestinya ke Kairo pekan ini dengan pesawat kerajaan. Jika kamu tidak bertemu saya berarti mereka telah membawa saya ke Riyadh. Cobalah melakukan sesuatu."

Pangeran Sultan bin Turki adalah pangeran Saudi ketiga hilang karena membelot.  

Dua anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi lainnya - Pangeran Turki bin Bandar bin Muhammad bin Abdurrahman as-Saud dan Pangeran Saud bin Saif an-Nasr bin Saud bin Abdul Aziz as-Saud - juga giat mengkritik pemerintah sebelum akhirnya tidak diketahui nasibnya.

Pangeran Turki bin Bandar tadinya perwira polisi Saudi sebelum kalah dalam sengketa harta warisan, memaksa dia akhirnya pindah ke Prancis.

Di Paris, dia mengajukan suaka politik dan pada 2009 mulai mengkampanyekan perubahan politik di tanah airnya. Pada Maret 2011, dia muncul di media Iran dan mulai menerbitkan selusin rekaman video di YouTube, berisi kritikan terhadap pemerintah Arab Saudi. Dia berjanji menulis sebuah buku soal kebobrokan rezim Bani Saud.

Seperti pembangkang lainnya, dia cuma menyerukan reformasi politik tanpa kekerasan.   

Rekaman video terakhir dia publikasikan Juli tahun lalu. Sehabis itu, dia pergi ke Maroko untuk urusan bisnis dan hilang. Keberadaannya masih misterius.

"Seseorang memberi kesan kepada Turki bin Bandar seolah Maroko aman bagi dirinya," tutur seorang anggota kelompok oposisi Saudi sempat berkomunikasi dengan sang pangeran tidak lama sebelum dia lenyap. "Jadi dia terbang ke Maroko buat sejumlah urusan, lalu pemerintah Maroko menangkap dia dan menyerahkan kepada Saudi."

Pangeran Saud bin Saif mulai membangkang di awal 2014. Pada Maret di tahun itu, dia membuka akun Twitter dan mulai berkampanye anti-Saudi. Dia menyerukan agar para pejabat Saudi diadili karena menyokong kudeta di Mesir. Dia menuding miliaran dolar bantuan Saudi buat Mesir telah dimanipulasi di tahun-tahun terakhir pemerintahan Raja Abdullah bin Abdul Aziz.    

Dia secara terbuka menyerukan pencopotan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif dan Wakil Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, merupakan anak kesayangan Raja Salman.

Pada 5 September 2015, ketika seorang pangeran Saudi menyebarluaskan surat menuntut Raja Salman mundur, Pangeran Saud bin Saif satu-satunya anggota keluarga kerajaan secara terbuka mendukung desakan itu.

Beberapa hari kemudian, pada 9 September, akun Twitternya tiba-tiba saja lenyap dan sang pengaran juga hilang. Spekulasi muncul di media sosial dia sudah diculik.

"Saud bin Saif didekati oleh sebuah konsorsium bisnis Rusia-Italia. Mereka mengirim jet pribadi untuk menerbangkan dia buat menghadiri sebuah pertemuan dia kira di Italia," kata seorang sahabat dari Pangeran Saud bin Saif. "Dia berakhir di Saudi."

Arab Saudi sudah lama bermasalah dalam menangani para pembelot dalam keluarga kerajaan. Pada 1975, Raja Faisal dibunuh oleh seorang pangeran memberontak, namun sampai sekarang tidak ada klaim rezim Saudi melancarkan kampanye menyasar para pembelot dan pemberontak.

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."





comments powered by Disqus