kisah

Tantang kerajaan hilang tiga pangeran

Pangeran Sultan bin Turki, Pangeran Turki bin Bandar, dan Pangeran Saud bin Saif hilang setelah menjadi pembelot.

30 Maret 2016 20:18

Beginilah risiko bila berani menentang penguasa Arab Saudi. Tiga pangeran asal negara Kabah itu tidak diketahui nasibnya hingga kini karena menentang pemerintah.

Kasus terakhir menimpa Pangeran Sultan bin Turki. Seorang stafnya bilang majikannya itu telah dipulangkan paksa dari Eropa ke Arab Saudi.

Sang pangeran, mendapat kawalan ketat 24 jam, tengah mengajukan gugatan hukum di Swiss terhadap pemerintah Arab Saudi atas penculikan dirinya pada 2003. Gara-gara kejadian itu, Pangeran Sultan bin Turki mengaku mengalami masalah kesehatan serius dan masih terasa sakit.

Pada 1 Februari tahun lalu, Pangeran Sultan bin Turki dan rombongannya terbang dengan pesawat Saudi dari Ibu Kota Paris, Prancis, menuju Ibu Kota Kairo, Mesir. Dia memang berencana mengunjungi teman-temannya dan menjenguk ayahnya, kakak kandung dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. Seorang ajudan telah memasan kamar bagi bosnya itu di Hotel Kempinski di kawasan Garden City, Kairo. Namun Pangeran Sultan bin Turki tidak pernah tiba.

"Ada sebuah pesawat Saudi dengan jadwal penerbangan ke Kairo tapi pesawat itu tidak terbang ke Kairo," kata seorang kolega menemani sang pengeran saat di Paris. "Ada bendera Saudi di ekornya. Pesawat ini dari sana."

Seorang teman dari Pangeran Sultan bin Turki menduga satu pangeran senior dari Saudi menelepon korban dua atau tiga kali untuk meyakinkan dia agar mau terbang ke Kairo menggunakan pesawat itu.

"Dia bahkan mengirim uang buat sang pangeran," ujarnya. "Ketika Sultan memutuskan untuk terbang dari Paris ke Kairo, pangeran senior itu bilang 'Jangan khawatir, kami akan mengatur segalanya buat kamu' hingga akhirnya dia merasa nyaman. Namun itu kesalahan besar dan dia telah menerima akibatnya."

Temannya yang lain menunggu kedatangan Pangeran Sultan bin Turki mengatakan terakhir kali menelepon sang pangeran tertawa seraya berseloroh, "Saya mestinya ke Kairo pekan ini dengan pesawat kerajaan. Jika kamu tidak bertemu saya berarti mereka telah membawa saya ke Riyadh. Cobalah melakukan sesuatu."

Pangeran Sultan bin Turki adalah pangeran Saudi ketiga hilang karena membelot.  

Dua anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi lainnya - Pangeran Turki bin Bandar bin Muhammad bin Abdurrahman as-Saud dan Pangeran Saud bin Saif an-Nasr bin Saud bin Abdul Aziz as-Saud - juga giat mengkritik pemerintah sebelum akhirnya tidak diketahui nasibnya.

Pangeran Turki bin Bandar tadinya perwira polisi Saudi sebelum kalah dalam sengketa harta warisan, memaksa dia akhirnya pindah ke Prancis.

Di Paris, dia mengajukan suaka politik dan pada 2009 mulai mengkampanyekan perubahan politik di tanah airnya. Pada Maret 2011, dia muncul di media Iran dan mulai menerbitkan selusin rekaman video di YouTube, berisi kritikan terhadap pemerintah Arab Saudi. Dia berjanji menulis sebuah buku soal kebobrokan rezim Bani Saud.

Seperti pembangkang lainnya, dia cuma menyerukan reformasi politik tanpa kekerasan.   

Rekaman video terakhir dia publikasikan Juli tahun lalu. Sehabis itu, dia pergi ke Maroko untuk urusan bisnis dan hilang. Keberadaannya masih misterius.

"Seseorang memberi kesan kepada Turki bin Bandar seolah Maroko aman bagi dirinya," tutur seorang anggota kelompok oposisi Saudi sempat berkomunikasi dengan sang pangeran tidak lama sebelum dia lenyap. "Jadi dia terbang ke Maroko buat sejumlah urusan, lalu pemerintah Maroko menangkap dia dan menyerahkan kepada Saudi."

Pangeran Saud bin Saif mulai membangkang di awal 2014. Pada Maret di tahun itu, dia membuka akun Twitter dan mulai berkampanye anti-Saudi. Dia menyerukan agar para pejabat Saudi diadili karena menyokong kudeta di Mesir. Dia menuding miliaran dolar bantuan Saudi buat Mesir telah dimanipulasi di tahun-tahun terakhir pemerintahan Raja Abdullah bin Abdul Aziz.    

Dia secara terbuka menyerukan pencopotan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif dan Wakil Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, merupakan anak kesayangan Raja Salman.

Pada 5 September 2015, ketika seorang pangeran Saudi menyebarluaskan surat menuntut Raja Salman mundur, Pangeran Saud bin Saif satu-satunya anggota keluarga kerajaan secara terbuka mendukung desakan itu.

Beberapa hari kemudian, pada 9 September, akun Twitternya tiba-tiba saja lenyap dan sang pengaran juga hilang. Spekulasi muncul di media sosial dia sudah diculik.

"Saud bin Saif didekati oleh sebuah konsorsium bisnis Rusia-Italia. Mereka mengirim jet pribadi untuk menerbangkan dia buat menghadiri sebuah pertemuan dia kira di Italia," kata seorang sahabat dari Pangeran Saud bin Saif. "Dia berakhir di Saudi."

Arab Saudi sudah lama bermasalah dalam menangani para pembelot dalam keluarga kerajaan. Pada 1975, Raja Faisal dibunuh oleh seorang pangeran memberontak, namun sampai sekarang tidak ada klaim rezim Saudi melancarkan kampanye menyasar para pembelot dan pemberontak.

Gudang tempat penyimpanan dokumen rahasia program nuklir Iran di kawasan Shorabad, selatan Ibu Kota Teheran, Iran, dicuri oleh sekitar 20 agen Mossad pada 31 Januari 2018. (Peime Minister's Office)

Mossad dan pengkhianatan di negara Mullah

Mantan Direktur Mossad Yossi Cohen untuk pertama kali bercerita bagaimana para agennya berhasil mencuri berton-ton dokumen nuklir Iran dari gudang penyimpanan di Teheran.

Sebanyak 41 mahasiswa Indonesia pada 8 Juni 2021 menjalani tes PCR sebelum terbang meninggalkan Israel pada 10 Juni 2021. Mereka kembali ke tanah air setelah belajar pertanian di kampus AICAT di selatan Israel. (Albalad.co)

Belajar bertani di negara Zionis

Sayangnya tidak ada keterlibatan pemerintah Indonesia. Alhasil, setiap lulusan AICAT tidak tersalurkan ilmu dan pengalamannya.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Pangeran Saudi divonis dua tahun penjara dan denda Rp 382 juta karena palsukan ijazah

Dalam putusan lainnya, seorang mayor jenderal dihukum penjara delapan tahun dan denda Rp 611 juta.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah bertemu pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Ibu Kota Teheran. (Khamenei.ir)

Roket Syiah, milisi Sunni, target Zionis

Kesamaan tujuan membikin Iran bisa lebih fleksibel dalam memberikan bantuan tanpa melihat perbedaan paham.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Mossad dan pengkhianatan di negara Mullah

Mantan Direktur Mossad Yossi Cohen untuk pertama kali bercerita bagaimana para agennya berhasil mencuri berton-ton dokumen nuklir Iran dari gudang penyimpanan di Teheran.

14 Juni 2021

TERSOHOR