kisah

Berdamai demi kubur Yesus

Perjanjian pada 22 Maret 2016 menyerukan renovasi senilai US$ 3,4 juta bakal dimulai bulan depan.

11 April 2016 21:37

Suatu hari di sekitaran kubur Yesus di Kota Tua, Yerusalem Timur. Satu grup paduan suara Yunani Orthodoks bernyanyi dalam sebuah ruangan menghadap bangunan bergaya abad ke-16. Namun suara mereka tenggelam oleh lagu gereja dinyanyikan para pendeta dan biarawan Kristen Armenia, juga berada di tempat itu.

"Kadang mereka saling baku pukul," kata Farah Atallah, salah satu penjaga Gereja Makam Yesus, tempat di mana kubur Yesus diyakini berada, seraya mengangkat kedua bahunya.

Atallah adalah saksi rutin terhadap persaingan sengit antara para peziarah Nasrani dari aliran Yunani Orthodoks, Armenia Orthodoks, dan Katolik Roma. Mereka saling iri dan kadang membikin batas di tempat mereka anggap paling subi bagi umat Kristen itu.

Di tengah persaingan ini, bangunan berusia 206 tahun dan disatukan dengan sebuah kandang besi berumur 69 tahun itu tidak elok. Bahkan kerap menjadi simbol memalukan dari perpecahan dalam agama Nasrani, secara periodik meletup menjadi ketegangan. Pada 2008, biarawan dan rahib berantem dekat kubur Yesus.

Namun beberapa pekan belakangan, telah berdiri sebuah struktur sementara untuk menyangga bangunan itu. Sebuah kesepakatan jarang dicapai di kalangan aliran Nasrani untuk menyelamatkan kubur Yesus.

Perjanjian pada 22 Maret 2016 ini menyerukan renovasi senilai US$ 3,4 juta bakal dimulai bulan depan, setelah perayaan Paskah Kristen Orthodoks. Tiap aliran akan menyumbang sepertiga dari total anggaran diperlukan dan sebuah bank di Yunani telah mendonasikan US$ 57 ribu buat struktur penyangga itu.

Gagasannya adalah menyelamatkan sejarah tempat suci penganut Nasrani itu. Cukup sederhana tapi tertunda berpuluh-puluh tahun karena aturan dan tradisi rumit disebut status quo soal cara mengatur tempat-tempat suci di Yerusalem.

"Salah satu persoalan paling serius dalam Gereja Makam Yesus adalah status quo menguasai segala pertimbangan dan itu bukan hal bagus," ujar Athanius Macora, rahib beraliran Fransiskan. "Persatuan lebih penting ketimbang perang."

Pemicu dari persatuan ini adalah mereka sama-sama bakal kehilangan tempat suci itu. Cemas oleh beragam laporan menyebutkan kubah kubur Yesus terancam runtuh, polisi Israel mengepung lokasi itu beberapa jam pada 17 februari 2015. Rahib-rahib penjaga diusir dan para peziarah dilarang masuk.

Pesannya jelas: perbaiki atau lainnya.

Setelah setahun penelitian dan perundingan, para ahli pemeliharaan monumen berencana untuk memindahkan kandang besi itu pertama kali, dibangun oleh penjajah Inggris pada 1947, untuk mencegah Aedikula dari keruntuhan, setelah gempa 1927 dan hujan deras mengakibatkan bangunan itu retak, ubin-ubin marmernya mengelupas. Mereka akan mencopot lempengan marmer itu satu-satu.

Aedikula dibangun oleh Helena, ibu dari Kaisar Konstantin dari Romawi. Bangunan ini dihancurkan pada 1009 oleh penguasa Mesir beraliran Syiah, Al-Hakim.

Terakhir pekerja akan membetulkan retakan-retakan pualam di kubur Yesus.  

Antonia Moropoulou, ahli konservasi memimpin proyek renovasi kubur Yesus, mengatakan tempat suci ini tetap dibuka bagi peziarah selama proses membutuhkan ketelatenan itu berlangsung.

Baru-baru ini ratusan peziarah Katolik menunggu untuk masuk ke ruang tempat kubur Yesus berada. Mereka akan menggelar misa dekat Aedikula. Tempat suci ini ditutupi kubah besar berwarna abu-abu, dihiasi emas, ikon, tiang-tiang, lilin, lampu-lampu perunggu berukuran besar, prasasti, dan sebuah lukisan Yesus berukuran gede.

"Ini pengalaman spiritual saya paling super," tutur Anil Macwan, 30 tahun, pastor Katolik dari India. "Dunia tidak bisa memberikan perasaan saya peroleh dari kuburan ini. Ini adalah tempat amat suci."

Renovasi besar terakhir berlangsung pada 1950-an, ketika pemerintah Yordania waktu itu menguasai Yerusalem Timur mendesak perwakilan komunitas Kristen di sana membikin sebuah biro teknik untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa pada 1927. Tapi, menurut Pastor Macora, proses itu berhenti satu dasawarsa kemudian.

Setelah bentrokan memalukan pada 2008 tersebar luas melalui YouTube, aliran-aliran bersaing mulai memperbaiki hubungan. Renovasi toilet di kompleks Gereja Makam Yesus adalah contoh dari kerja sama di antara mereka. Pada 2014, pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus bertemu pemimpin Kristen Orthodoks Bartholomew I di Aedikula untuk mempromosikan persatuan di kalangan pengikut Yesus.

"Bila pemerintah Israel tidak terlibat, tak seorang pun bakal melakukan sesuatu (untuk menyelamatkan kubur Yesus)," kata Pastor Samuel Aghoyan dari Kristen Armenia Orthodoks.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR