kisah

Diplomasi jomplang dengan Saudi

"Kalau kita kasih, kita harus dapat. Selama ini diplomasi jomplang," kata Agus Maftuh.

27 April 2016 15:59

Tengoklah arogansi Arab Saudi saat kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Ketika mendarat di Ibu Kota Riyadh Rabu pekan lalu, dia mendapat sambutan dingin.

Hanya Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar as-Saud menunggu kedatangannya di bawah tangga pesawat kepresidenan Air Force One, seperti dilansir the Guardian. Bahkan tidak ada siaran langsung di Saudi TV, lazimnya saban kali kepala negara atau kepala pemerintahan datang ke negara Kabah itu.

Padahal sebelumnya di hari sama, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz menyambut langsung para pemimpin dari lima negara Arab Teluk - Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman - mendarat di bandar udara Riyadh. Mereka bakal menghadiri konferensi tingkat tinggi GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) besoknya.

Sambutan dingin terhadap Obama itu lantaran munculnya rancangan undang-undang bisa mengadili para pejabat Arab Saudi diduga terlibat dalam serangan 11 September 2001 di New York dan Washington. Riyadh mengancam bakal menjual semua asetnya di Amerika senilai US$ 750 miliar bila Kongres mengesahkan beleid itu.

Kepada negara adikuasa saja Arab Saudi berani arogan, apalagi menghadapi Indonesia, selama ini dkenal banyak mengirim pembantu rumah tangga dan sopir bekerja di negeri Dua Kota Suci itu. Banyak pihak menilai Arab Saudi semena-mena karena menganggap Indonesia bangsa babu.

Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Saleh P. Daulay pun mengakui betapa lemahnya posisi Indonesia di mata Arab Saudi. Dia menilai pemerintah Indonesia tidak berdaya menghadapi arogansi Arab Saudi.

"Harus kita akui diplomasi Indonesia untuk memberi perlindungan bagi warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya Arab Saudi dan terutama lagi waktu melaksanakan ibadah haji, masih sangat lemah," katanya dalam rapatantara Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Duta Besar Indonesia buat Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel dengan Komisi VIII Urusan Agama Dewan Perwakilan Rakyat berakhir semalam di gedung parlemen.  

Saleh mencontohkan saat tim dari Komisi VIII meninjau pelaksanaan haji ketika musibah Mina terjadi, mereka kesulitan masuk ke rumah sakit untuk menjenguk warga Indonesia menjadi korban.

Meski 128 jamaah termasuk dalam dua ribu lebih korban meninggal akibat tragedi Mina itu, Jakarta sungkan menuntut Riyadh meminta maaf. Apalagi mendesak Arab Saudi membei santunan bagi keluarga korban.

Santunan bagi keluarga korban wafat dalam musibah jatuhnya sebuah derek raksasa di Masjidd Al-Haram, dua pekan sebelum Tragedi Mina, hingga kini belum diterima. Padahal Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz sendiri mengumumkan bakal memberi santunan satu juta riyal bagi keluarga korban meninggal dan 500 ribu riyal kepada keluarga korban cacat tetap.

Menurut Lukman Hakim, tertundanya pemberian santunan bagi keluarga korban lantaran masih ada satu dua negara belum menyerahkan daftar nama korban. "Arab Saudi memiliki kebijakan pemberian santunan akan dilakukan serentak kepada seluruh keluarga korban di semua negara," katanya. "Indonesia sejak beberapa bulan lalu sudah menyerahkan nama-nama korban tentu harus menunggu bersama yang lain."

Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, baru bertugas bulan lalu, pun mengakui posisi Indonesia lemah di mata Arab Saudi. "Selama ini antara Indonesia dan Arab Saudi adalah diplomasi tidak berimbang sehingga dampaknya bisa kemana-mana," tuturnya. "Haji sudah kita persiapkan bagus di tanah air, tiba-tiba di sana pejabat kita di sana tidak mendapat tempat atau penghormatan layak sebagaimana delegasi-delegasi lain."

Dalam berdiplomasi dengan Arab Saudi, Agus Maftuh memperkenalkan istilah Poros Saunesia (Saudi-Indonesia) untuk menciptakan hubungan berimbang dan timbal balik. "Kalau kita kasih, kita harus dapat. Selama ini diplomasi jomplang."

Dia juga melakoni terobosan dengan melakukan diplomasi langsung bertemu dengan pangeran. Meski baru menjabat, usahanya berhasil. Dia mampu meyakinkan Pangeran Al-Walid bin Talal, orang Arab paling tajir sejagat, untuk melawat dan berinvestasi di Indonesia.

"Insya Allah bulan depan, tanggal 20 atau 22 Mei, Pangeran Al-Walid bin Talal akan berkunjung ke Indonesia," ujar Agus. "Dia akan berinvestasi di Indonesia."

Namun masih banyak mesti dibenahi agar diplomasi Indonesia mampu mengimbangi Saudi.

Pemandangan pada Selasa sore, 31 Mei 2016, di pusat belanja Lale di Ibu Kota Teheran, Iran. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Eksodus kaum jenius dari negara Mullah

Sebanyak 43 persen atlet olimpiade, 30 persen profesor di berbagai disiplin ilmu, seperti mekanik dan komputer di sejumlah universitas, dan tiga ribu dokter sudah dan siap keluar dari Iran.

Menteri Energi Israel Karin Elharrar, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) Mariam al-Muhairi, dan Menteri Air Yordania Muhammad an-Najjar pada 22 November 2021 di Dubai, UEA, menandatangani kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Yordania. (Courtesy)

Kalah air dekap Israel

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania.

Mordy dan Natali Oknin ( keduanya duduk) didampingi dua pejabat konsuler Kementerian Luar Negeri Israel di dalam pesawat pribadi akan mengantar mereka pulang ke Israel setelah dibebaskan dqri penjara. (Israel's Ministry of Foreign Affairs)

Natali dan azan di Istanbul

Penahanan keduanya menjadi ujian terberat bagi pemerintahan Bennett. Pemimpin dari Partai Yamina ini sudah bertekad untuk membebaskan empat warga Israel masih dalam tawanan Hamas di Jalur Gaza.

Saif al-Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, pada 14 November 2021 mendaftar sebagai calon presiden di Kota Sabha. Pemilihan presiden Libya akan digelar pada 24 Desember 2021. (Al-Marshad)

Relasi Libya-Israel

Selentingan beredar lama di kalangan rakyat Libya menyebutkan ibu dari Qaddafi adalah orang Yahudi telah masuk Islam.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Eksodus kaum jenius dari negara Mullah

Sebanyak 43 persen atlet olimpiade, 30 persen profesor di berbagai disiplin ilmu, seperti mekanik dan komputer di sejumlah universitas, dan tiga ribu dokter sudah dan siap keluar dari Iran.

29 November 2021
Kalah air dekap Israel
26 November 2021
Natali dan azan di Istanbul
19 November 2021
Relasi Libya-Israel
15 November 2021

TERSOHOR