kisah

Pikat fulus Saudi

Hubungan dagang dan investasi Indonesia dan Arab Saudi terbilang kecil bila dilihat dari sudah lamanya kedua negara membina hubungan.

09 Mei 2016 23:55

Pelan-pelan Ahmad Hamid al-Qahtani menyeruput segelas kecil kopi Arabika. Pengusaha restoran asal Kota Makkah, Arab Saudi, ini ingin merasakan nikmatnya kopi asli produksi Bali itu.

Apalagi dia melihat sendiri saat penjaga gerai kopi Arabika  - terletak di pojokan auditorium di kompleks Kementerian Perdagangan di Jakarta - Kamis pekan lalu meracik minuman hangat itu. Biji kopi diblender hingga halus, baru kemudian dicampur air mendidih.

Ini kunjungan kedua Qahtani ke Jakarta. Kali ini dia datang bareng 30-an pengusaha tergabung dalam Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Makkah. "Saya ingin membuka sebuah restoran di Jakarta," kata Qahtani kepada Albalad.co. Dia mengaku sudah memiliki enam restoran di negara asalnya. "Tapi bukan restoran Arab. Saya akan membuka restoran Asia."

Rencana Qahtani seolah mengamini tekad disampaikan Maher Saleh Jamal, Chairman Dewan Direktur di Kadin Makkah. Ketika menyampaikan sambutan di saat berkunjung ke Kementerian Perdagangan hari itu dan Senin sebelumnya di kantor BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Maher bilang ingin menggandakan nilai perdagangan Arab Saudi dan Indonesia, kini di angka US$ 8 miliar setahun.

"Dalam dua atau tiga tahun, kita bisa menaikkan dua kali lipat atau lebih dari nilai sekarang," kata Maher. Dia yakin nilai perdagangan kedua negara bisa melonjak 15 persen saban tahun.

Maher memastikan nilai investasi negara Kabah itu di Indonesia juga bakal terus bertambah. "Tentu saja, karena pemerintah kami mendorong kami untuk menanam modal di Indonesia," ujarnya. Meski begitu, dia mengakui investor Saudi biasa berinvestasi di sektor properti.

Selama 2010-2015, realisasi investasi Arab Saudi di Indonesia senilai 415 miliar dan terdiri dari 47 proyek. Tahun lalu, komitmen investasi negeri Dua Kota Suci ini sebesar Rp 1,6 triliun.

Saat presentasi, sejumlah pejabat BKPM menawarkan kemudahan dalam mengurus izin. Mereka menjanjikan dalam tiga jam, calon investor sudah memperoleh izin prinsip. Pada kesempatan itu, BKPM juga menampilkan sepuluh otensi wisata alam bisa digarap investor Saudi, termasuk Pantai Mandalika di Lombok, Danau Toba di Sumatera Utara, dan Pantai Tanjung Lesung di Banten.

Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan Negara-negara OKI (Organisasi Konferensi islam) Alwi Syihab mengakui nilai perdagangan dan investasi kedua negara terbilang kecil bila melihat sudah begitu lamanya hubungan terjalin.

Dia menjelaskan Indonesia sudah menjalin kontak dengan Arab Saudi sejak lebih dari 200 tahun lalu. Pendiri Nahdhatul Ulama Kiai Hasyim Asyari dan pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan pernah belajar di Makkah.

Dua pendiri organisasi massa terbesar di Indonesia ini, kata dia, merupakan bukti betapa dalamnya hubungan antara Arab Saudi, khususnya Makkah, dan Indonesia. "Bahkan banyak keturunan keluarga dari Aceh, Bugis, Palembang, dan Jawa dulunya pergi dan tinggal di Makkah kini sudah menjadi warga negara Arab Saudi," kata Alwi.

Alwi menambahkan saat berkunjung ke Arab Saudi tahun lalu, Presiden Joko Widodo dan Raja Salman bin Abdul Aziz sepakat hubungan istimewa kedua negara seharusnya tidak terbatas pada hubungan budaya dan sejenisnya, tapi juga diperluas hingga ke sektor ekonomi dan investasi.

Dia mengatakan kunjungan delegasi Kadin Makkah ini bisa dikatakan sebagai manifestasi dari komitmen dua kepala negara untuk memperkuat hubungan ekonomi dan investasi. "Kami akan melakoni segala upaya untuk memfasilitasi Anda sebagai grup pebisnis untuk berbisnis di Indonesia," kata Alwi dalam sambutannya di BKPM. "Kami akan memfasilitasi keinginan Anda buat berbisnis serta memperkuat hubungan ekonomi dan investasi antara kedua negara."

Antusiasme terlihat dari beragam pertanyaan dari para pebisnis Saudi itu soal bagaimana berinvestasi di Indonesia. Mereka juga meminta jaminan agar usaha mereka di Indonesia nantinya bisa aman dan lancar.

Tapi Abu Bakar Bamakruf, pengusaha asal Jeddah belum mau terlalu serius memikirkan hal itu. "Kami ingin berlibur dulu ke Bali empat hari," ucapnya saat ikut menemani Qahtani menyeruput Arabika asli Bali.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Isyarat Bin Salman menyerah terhadap Iran

Kurang pengalaman dan kalah strategi membikin Saudi kedodoran dalam palagan di Suriah dan Yaman. 

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

11 Oktober 2019

TERSOHOR