kisah

Penjual teh di kota Nabi

Lewat Visi 2030, negara Kabah itu akan mendorong tumbuhnya sektor swasta dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi warga negara Saudi.

23 November 2016 10:04

Tempatnya berjualan sederhana sekali. Hanya sebuah meja dan dua teko dengan tumpukan gelas plastik sekali pakai. Lokasinya di pinggir Jalan Raja Abdul Aziz di Kota Madinah, Arab Saudi.

Di kota Nabi itulah Jumana Makki berjualan teh dan kopi saban hari. Meski masih terbilang tabu bagi kaum perempuan di Saudi bekerja, namun ibu ini rela menjalani pekerjaan itu demi mendongkrak kehidupan keluarganya. Apalagi anak-anak perempuannya sedang kuliah.

"Saya melontarkan gagasan itu ketika mengobrol dengan putri-putri saya soal bagaimana meningkatkan kehidupan kami," kata Jumana kepada surat kabar Al-Madinah. "Terutama karena biaya hidup naik dan sukarnya mencari pekerjaan kantor."

Nasib orang-orang mirip Jumana memang menjadi prioritas dalam Visi 2030 diluncurkan Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman beberapa bulan lalu. Lewat Visi 2030, negara Kabah itu akan mendorong tumbuhnya sektor swasta dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi warga negara Saudi.

Data dari Departemen Statistik dan Informasi Arab Saudi menyebutkan pengangguran di negara ini berjumlah 5,6 persen dari total angkatan kerja.

Jumana menegaskan perlu bagi dirinya mengambil keputusan secara tegas tanpa ragu untuk menjadi penjual teh dan kopi pinggir jalan. Dia menggunakan kayu buat memasak karena harganya lebih murah ketimbang memakai gas.

Mulanya, pihak keluarga dan teman-teman menentang rencananya itu. "Saya tidak melihat hal keliru dengan pekerjaan ini karena saya mencari nafkah agar kami bisa hidup terhormat dan bermartabat," ujar Jumana.

Dia berkukuh mewujudkan hal itu. Seiring berjalannya waktu, para pengkritik bungkam dan mulai memberi dukungan atas kerja kerasnya. "Anak-anak perempuan saya tengah kuliah membantu saya menjual teh dan kopi ke orang-orang lewat dan sedang berpiknik," tuturnya. "Itu tidak membikin mereka terhina lantaran ini pekerjaan terhormat."

Jumana bilang dia mulai membuka kios tehnya sehabis salat asar hingga tengah malam. "Para pelanggan saya mulai menyadari saya benar-benar serius melakoni pekerjaan ini. Tidak ada lagi yang mengganggu saya."  

Kehangatan penduduk Madinah kian terasa seiring nikmatnya mereguk teh atau kopi hangat bikinan Jumana.

Amir Muhamnad Abdurrahman al-Mauli as-Salbi, pemimpin baru ISIS. (Courtesy)

Berkenalan dengan pemimpin baru ISIS

Muhammad al-Mauli bergelar sarjana syariah lulusan dari Universitas Mosul. Dia memiliki satu putra. Dia bertemu Baghdadi ketika pada 2004 mendekam dalam tahanan Amerika di Kamp Bucca, Irak.

Bendera Amerika Serikat dan Israrl dijadikan keset di pintu masuk sebuah masjid di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran. (Twitter)

Benci Khamenei, muak Mullah

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim.

Gambar ilustrasi Imam Husain, syahid di Karbala, tengah memeluk mendiang komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di surga. Sulaimani tewas akibat serangan udara Amerika Serikat di Baghdad, 3 Januari 2020. (Khamenei.ir)

Maut jemput syuhada hidup

Mencari tahu lokasi Sulaimani telah lama menjadi prioritas bagi intelijen dan militer Amerika serta Israel, terutama saat dia sedang berada di Irak.

Foto dan nama 15 warga Arab Saudi diduga terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi. (Sabah)

Mahkamah sandiwara bagi mendiang Khashoggi

Saudi mulanya berbohong. Mereka membantah Khashoggi dibunuh. Setelah banyak bukti diungkap oleh Turki, Riyadh mengakui Khashoggi tewas karena berkelahi. Lalu mereka mengoreksi Khashoggi memang dibunuh secara keji dan terencana.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Berkenalan dengan pemimpin baru ISIS

Muhammad al-Mauli bergelar sarjana syariah lulusan dari Universitas Mosul. Dia memiliki satu putra. Dia bertemu Baghdadi ketika pada 2004 mendekam dalam tahanan Amerika di Kamp Bucca, Irak.

22 Januari 2020

TERSOHOR