kisah

Pemuja Yesus pengajar Quran

Iyad, penganut Kristen Koptik, mengajarkan Quran bagi anak-anak muslim dan Alkitab untuk bocah Nasrani.

23 Januari 2017 23:13

Kisahnya mengejutkan bermula pada 1948, ketika seorang anak datang kepada dia dan meminta diajari membaca Al-Quran. Tapi bocah ini bukan belajar kepada seorang syekh atau ulama, tapi dia mendatangi Iyad Syakir Hana.

Iyad adalah pemeluk Kristen Koptik. Waktu itu, seingat dia, hanya tiga orang termasuk dirinya, bisa membaca dan menulis. Dia tinggal di sebuah desa di luar Kota Minya, utara Mesir.

Iyad pun mengiyakan permintaan bocah itu. Dia mengajari anak tersebut untuk membaca, menghapal, dan memahami ayat-ayat Al-Quran. Apa yang dilakoni Iyad menarik minat keluarga muslim dan Nasrani di desa tempat tinggalnya. Para orang tua, baik penganut Islam atau pemeluk Kristen, mengirim anak-anak mereka untuk belajar kepada Iyad.

Iyad adalah lulusan sekolah menengah atas jurusan bahasa Inggris. Dia sejatinya ditugaskan menjadi guru di sebuah sekolah di kota jauh dari desa tempat tinggalnya. Karena ayahnya sakit parah, dia memutuskan tetap tinggal di kampung halamannya.

Selain mengajar Al-Quran kepada bocah muslim dan Alkitab kepada anak Kristen, Iyad juga mendidik mereka dengan pelajaran lainnya, mulai matematika hingga bahasa Arab.

Awalnya dia hanya mengajar 20-30 anak muslim dan lima atau enam bocah Kristen. Kini, lelaki 86 tahun itu memiliki 70 atau 80 murid muslim dan 30-40 pelajar Kristen. "Saya sudah mengajar lebih dari setengah abad. Murid-murid saya sudah dewa, menikah, dan membawa anak-anak mereka untuk belajar kepada saya," kata Iyad.

Dia hanya mematok ongkos sepuluh sen pound untuk tiap murid. Kalautidak mampu juga, dia tidak memaksa. "Saya lebih baik dibayar sepuluh pound dengan cinta ketimbang seratus pound dengan kemarahan," ujarnya.

Bukan sekadar mengajarkan ilmu, Iyad juga mendidik murid-muridnya untuk hidup saling menghormati dan menyayangi meski berbeda agama. "Karena kita semua adalah satu," ucapnya.    

Ajaran hidup toleran ini amat penting lantaran Mesir diwarnai konflik agama antara Islam dan Kristen kian meningkat.

Baca juga:

Sekeruh air pembaptisan Yesus

Menurut sebuah laporan dilansir the Egyptian Initiative for Personal Rights (EIPR), terdapat sepuluh insiden ketegangan atau bentrok sektarian di Minya selama Maret-Oktober 2016, atau 77 kejadian sejak Januari 2011.

Dalam pertemuan dengan Paus Tawadros II, pemimpin Kristen Koptik Mesir, Presiden Abdil Fattah as-Sisi menyatakan semua rakyat Mesir memiliki hak dan kewajiban sama menurut konstitusi. Dia bilang insiden-insiden menyangkut individu mestinya tidak mengganggu hubungan antara kaum muslim dan umat Nasrani.

Menariknya lagi dari perjalanan hidup Iyad, dia bahkan mengajari anak-anak perempuan dari Ahmad al-Gargawi, ulama ditunjuk menjadi imam masjid di desanya. Gargawi tadinya enggan mengirim semua putrinya belajar membaca Quran kepada Iyad.

Tapi pandangannya berubah setelah dia mendapati para putrinya itu sudah mampu menghapal Quran. Dia lantas menghadiahi Iyad sebuah Quran dia beli sewaktu berhaji ke Makkah.

Bendera Amerika Serikat dan Israrl dijadikan keset di pintu masuk sebuah masjid di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran. (Twitter)

Benci Khamenei, muak Mullah

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim.

Gambar ilustrasi Imam Husain, syahid di Karbala, tengah memeluk mendiang komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di surga. Sulaimani tewas akibat serangan udara Amerika Serikat di Baghdad, 3 Januari 2020. (Khamenei.ir)

Maut jemput syuhada hidup

Mencari tahu lokasi Sulaimani telah lama menjadi prioritas bagi intelijen dan militer Amerika serta Israel, terutama saat dia sedang berada di Irak.

Foto dan nama 15 warga Arab Saudi diduga terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi. (Sabah)

Mahkamah sandiwara bagi mendiang Khashoggi

Saudi mulanya berbohong. Mereka membantah Khashoggi dibunuh. Setelah banyak bukti diungkap oleh Turki, Riyadh mengakui Khashoggi tewas karena berkelahi. Lalu mereka mengoreksi Khashoggi memang dibunuh secara keji dan terencana.

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Benci Khamenei, muak Mullah

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim.

17 Januari 2020

TERSOHOR