kisah

Darah Mina tunggakan Saudi

Atas nama takdir, pemerintah Arab Saudi gengsi mengaku bersalah, apalagi meminta maaf.

28 Agustus 2017 00:02

Kamis pagi, 24 September 2015. Jalan 407 merupakan jalur menuju lokasi pelemparan jumrah sudah dipenuhi jamaah haji sejak pagi-pagi sekali. Jumlah mereka ribuan. Bahkan, menurut informasi, dalam sejam ada 300 ribu jamaah melintas.  

Sumber Albalad.co waktu itu tengah berada di dekat Jumratul Ula. Sekitar pukul delapan pagi, sehabis salat duha, dia menuju apartemen tempat menginap para jenderal tengah berhaji.

"Saya melihat ada hiruk pikuk dan teriakan bersahutan...dan saat saya lari ke Jalan 407 massa sudah saling dorong berlawanan arah, didominasi orang Arab, Pakistan, dan Bangladesh," katanya kepada Albalad.co awal bulan ini. "Saya hanya melihat beberapa orang Indonesia sempat saya tarik keluar."

Sejak saat itu, dia mengaku bekerja siang malam selama hari 20 hari mencari jenazah warga Indonesia di rumah-rumah sakit dan kamar mayat di Kota Mina.

"Kami kerja pagi, siang, dan malam mengidentifikasi mayat asal Indonesia satu demi satu di antara ribuan mayat sudah bau dan berair," ujarnya. "Hampir tiga minggu saya kerja seperti itu, sudah nggak takut lagi sama setan."

Sumber Albalad.co lainnya membenarkan tabrakan aru jamaah haji di jalan menuju lokasi pelemparan jumrah itu dipicu oleh 300 jamaah haji Iran berbalik arah karena ada jalan yang ditutup. Namun tidak ada penjelasan apa penyebab mereka melawan arus sehingga terjadi tabrakan dengan jamaah lainnya.

Surat kabar terbitan Libanon, Ad-Diyar, memunculkan laporan kehadiran rombongan Wakil Putera Mahkota Muhammad bin Salman, juga anak dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz, sebagai penyebab tragedi Mina. Konvoi dikawal 200 tentara dan 150 polisi ini telah menutup jalan sehingga memaksa jamaah berbalik arah.

Bahkan, tulis Ad-Diyar dan kantor berita Fars, sehari setelah kejadian Saudi diam-diam memancung 28 petugas haji dinyatakan bersalah atas musibah itu. Lagi-lagi Saudi membantah informasi ini.

Sumber Albalad.co tersebut membenarkan pemerintah Arab Saudi berusaha keras menutupi penyebab dan bagaimana tragedi paling memilukan sepanjang sejarah haji itu bisa terjadi. "Tidak ada wartawan Saudi berani memberitakan. Semua pemberitaan ditutup," tuturnya.

Cerita beredar tabrakan terjadi karena ada rombongan jamaah diminta memutar balik sebab semua jalan ditutup, seperti dilansir the Guardian. "Polisi menutup semua pintu masuk dan keluar ke kamp para jamaah, cuma menyisakan satu jalan," tutur Ahmad Abu Bakar, 45 tahun, jamaah haji asal Libya bareng ibunya selamat dari tragedi.

Kala itu, cuma Iran negara muslim berani menuntut Saudi untuk bertanggung jawab. Mereka bahkan berencana menggugat sejumlah pejabat Saudi berwenang dalam penyelenggaraan ibadah haji ke pengadilan internasional.

"Masalah ini tidak akan dilupakan dan negara-negara Islam akan serius mempertanyakan hal itu," kata pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei lewat situs resminya leader.ir. "Bukan menuding ini dan itu, Arab Saudi harusnya menerima tanggung jawab dan meminta maaf kepada kaum muslim dan keluarga korban."

Iran memang pantas murka. Korban meninggal paling banyak adalah jamaah haji mereka, yakni 400-an orang. "Kematian lebih dari seribu orang bukan persoalan kecil. Negara-negara muslim harus memusatkan perhatian pada hal ini," kata Khamenei.

Raja Salman langsung memerintahkan pembentukan komite investigasi. Meski korban meninggal dan luka dari beragam negara, Arab Saudi menolak mengajak perwakilan dari negara-negara yang jamaah hajinya menjadi korban masuk dalam tim penyelidikan.

Dalam hitungan hari, komite ini merilis jumlah korban tewas 734 orang dan yang cedera 900-an. Namun sejak itu tidak pernah ada perkembangan penyelidikan diumumkan.  

Padahal, hasil investigasi kantor berita Assciated Press dan Reuters menyebutkan korban tewas dalam Tragedi Mina itu berjumlah lebih dari 2.4400 orang. Itu pun baru data resmi dari 30 negara. Padahal ada 180 negara mengirim jamaah haji.

Atas nama takdir, pemerintah Arab Saudi gengsi mengaku bersalah, apalagi meminta maaf. Padahal Petaka Mina ini muncul dua pekan setelah sebuah derek raksasa jatuh di Masjid Al-Haram, Kota Makkah,  Insiden ini menewaskan 111 jamaah haji dan melukai 200-an lainnya.

Seperti kata Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz asy-Syekh, para pejabat negara Kabah itu tidak pantas disalahkan atas tragedi Mina. "Kalian tidak bersalah atas apa yang telah terjadi. Ketika segalanya tidak bisa dikontrol oleh manusia, kalian tidak boleh dituding,” kata Syekh Abdul Aziz dalam pidatonya disiarkan lewat televisi. “Takdir tidak mungkin dihindari."

Sayangnya, kini tidak ada lagi satu negara muslim pun berani menuntut Arab Saudi bertanggung jawab. Ketika Raja Salman melawat ke Indonesia Maret lalu, Presiden Joko Widodo juga tidak bernyali menagih. Padahal darah Mina adalah tunggakan mereka.

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."





comments powered by Disqus