kisah

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

09 Oktober 2017 18:45

Rida as-Sabaai tengah menunggu kereta di sebuah stasiun di Ibu Kota Kairo untuk menuju sebuah kota di delta Sungai Nil, ketika bertemu sekelompok ulama tengah memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan diajukan beberapa orang.

Pegawai negeri berumur 45 tahun ini memang sudah beberapa pekan mencari jawaban soal bagaimana berbagi harta warisan dengan sejumlah saudara kandung perempuannya. Dia ingin pembagian harta waris berlaku adil tapi dia tidak mau menghubungi kantor ulama dan memilih menunggu hingga memperoleh jawaban.

Suatu hari di Juli lalu, dia sudah berdri dalam antrean di depan sebuah kios dibangun di salh satu stasiun kereta bawah tanah di Kairo. Sepuluh menit kemudian, dia telah memperoleh jawaban.

Fatwa biasanya menyangkut persoalan besar dalam ajaran Islam. Pandangan keagamaan ini biasanya juga memberi petunjuk atas masalah kehidupan saban hari, termasuk tentang mulai membuka toko grosir atau bisnis lainnya, siapa boleh dinikahi, atau apakah Islam menghalalkan bunga bank.

Kios fatwa di stasiun kereta Asy-Syuhada di Kairo tersebut dibangun awal Juli lalu oleh Al-Azhar, lembaga pendidikan Sunni paling bergengsi sejagat. Kios fatwa ini dibikin untuk mempermudah kaum muslim mencari jawaban atas segala persoalan hidup menurut ajaran Islam.

Kedai fatwa di stasiun Asy-Syuhada itu merupakan yang pertama. Kios-kios fatwa lainnya bakal dibangun di berbagai stasiun kereta.

Gagasannya adalah untuk mengoreksi kesalahpahaman mengenai ajaran Islam melahirkan beragam pemikiran radikal.

"Itu benar-benar ide bagus. Keberadaan kios fatwa ini menghemat waktu dan usaha bagi banyak orang," kata Rida saat memasuki kios fatwa dijaga tiga ulama Al-Azhar bersorban putih itu.   

Pemikiran Al-Azhar untuk mendirikan kios-kios fatwa mengundang kontroversi, termasuk di media sosial. Para pengkritik menilai tidak mungkin memberantas ideologi ekstremis di stasiun-stasiun kereta bawah tanah. Banyak yang mengecam Al-Azhar mendirikan kios-kios fatwa di tempat umum dipakai semua kalangan agama untuk menyebarluaskan ajaran Islam.

"Stasiun kereta bukan lokasi pas buat kios fatwa," ujar Beshoy Mikhail, penganut Kristen Koptik berusia 24 tahun. "Saya benar-benar menolak ide ini."

Mikhail menekankan kalau para ulama boleh membangun kios-kios fatwa di stasiun kereta, maka para pendeta Koptik mestinya diizinkan melakoni hal serupa.

Beberapa aktivis hak asasi manusia berpendapat pendirian kios fatwa oleh Al-Azhar sebagai bentuk diskriminasi terhadap pemeluk agama lain. "Kami melihat pemerintah mulai mencekoki pendidikan agama dan mencampuri urusan agama dalam kehidupan sehari-hari," tutur Syarif Azir.

Presiden Mesir Abdil Fattah as-Sisi memang sangat gusar dengan maraknya ideolog-ideologi radikal mengatasnamakan Islam, tapi membolehkan membunuh kaum non-muslim, termasuk warga Kristen Koptik, dan aparat keamanan pemerintah. Sebab itu, dia menunjuk Al-Azhar untuk menyebarluaskan pemahaman Islam moderat.

Kementerian Wakaf sudah mengambil sejumlah langkah, termasuk mewajibkan para imam dan ulama membaca panduan dalam memberikan khotbah Jumat. Beberapa masjid kecil di seantero negara Nil ditutup dan sejumlah ulama dicap radikal dilarang berceramah.

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

Amr Izzat dari the Egyptian Intiative for Personal Rights menegaskan kios-kios fatwa di stasiun kereta tidak akan mampu menghapus ideologi ekstremis lantaran kaum militan tidak mungkin menemui ulama Al-Azhar karena tidak sepaham. "Negara sedang memperlakukan agama seperti layanan umum," tuturnya.

Sekretaris Jenderal Al-Azhar Muhiddin Afifi mengatakan rencana mendirikan kios-kios fatwa bakal berlanjut. "Kios-kios fatwa tersebut akan ada di mana-mana, bukan hanya di stasiun kereta," katanya.

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."





comments powered by Disqus