kisah

Eksekusi sunyi Zaini

Dua ekspatriat asal Majalengka terancam dieksekusi kapan saja.

19 Maret 2018 23:55

Kumandang azan zuhur dari Masjid Al-Haram di Makkah, Arab Saudi, masih sejam lagi. Kemarin saat paling mendebarkan bagi lelaki asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, itu. Dalam keadaan berlutut dengan kepala tertunduk, dia terpaksa pasrah menungggu ayunan pedang sang algojo.

Kehebohan langsung meruap di tanah air. Zaini Misrin bin Muhammad Arsyad menjadi warga negara Indonesia ketiga dieksekusi mati di Arab Saudi setelah Ruyati dan Siti Zainab dalam tujuh tahun terakhir. Banyak pihak kian kaget lantaran pemerintah Arab Saudi tidak memberitahu keluarga Zaini melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Riyadh atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah.

Dalam jumpa pers di kantornya hari ini, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengakui pemerintah kaget karena tidak mendapat pemberitahuan. Dia menyebutkan pelaksanaan hukuman mati terhadap Zaini tersebut diperkirakan berlangsung pada pukul 11.30 waktu Makkah atau jam 15.30 waktu Jakarta.

Iqbal didampingi wakil dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga kerja Indonesia (BNP2TKI), wakil dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bangkalan, dan kepala desa setempat telah mengunjungi kediaman keluarga mendiang Zaini untuk menyampaikan ucapan belasungkawa dari pemerintah. Dia mengklaim kerabat Zaini sudah mengikhlaskan eksekusi Zaini itu.

Menurut Iqbal, pemerintah Indonesia bisa memahami dalam aturan Arab Saudi tidak mewajibkan untuk memberitahu kepada perwakilan asing tentang jadwal eksekusi. Meski begitu, dia menekankan sebagai negara bersahabat, pemerintah Saudi mestinya memberi notifikasi soal jadwal eksekusi Zaini.

Apalagi, lanjut Iqbal, setelah eksekusi atas Siti Zainab pada 2015, tercipta kesepahaman agar pihak Saudi memberitahu kepada pihak keluarga melalui KBRI Riyadh atau KJRI Jeddah kalau ada warga Indonesia akan dieksekusi.

Dia menjelaskan pada 29 Januari 2018, pengacara Zaini telah menyampaikan permohonan peninjauan kembali untuk kedua kalinya. Permohonan peninjauan kembali pertama, diajukan awal tahun lalu sudah ditolak.

Pada 20 Februari 2018, KBRI Riyadh menerima nota diplomatik dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. Isinya Jaksa Agung Arab Saudi Saud al-Mujib mempersilakan pengacara Zaini untuk menyampaikan permohonan kepada pengadilan di Makkah buat memanggil dan meminta kesaksian dari Abdul Aziz, penerjemah mendampingi Zaini saat menjalani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pada 2004.

Ada harapan kesaksian Abdul Aziz akan menjadi bukti baru bakal memperkuat permohonan peninjauan kembali atas kasus Zaini. Pada 6 Maret 2018, pengacara sudah menyampaikan surat permohonan kepada pengadilan untuk memanggil dan mendengarkan kesaksian Abdul Aziz.

"Pemerintah menyayangkan eksekusi itu dilakukan pada saat proses PK (peninjauan kembali) kedua baru dimulai," kata Iqbal. "Jadi belum ada kesimpulan resmi terhadap PK kedua diajukan."

Zaini pertama kali berangkat ke Arab Saudi pada 1992 untuk bekerja menjadi sopir pribadi. Dia kembali ke Indonesia dan pada 1996 berangkat lagi untuk bekerja kepada majikan sama sebagai sopir pribadi, sampai terjadi peristiwa pembunuhan terhadap majikannya pada 13 Juli 2004.

Di hari itu pula, Zaini ditangkap Kepolisian Makkah atas laporan anak kandung korban. Dia dituduh membunuh majikannya bernama Abdullah bin Umar.

Pada November 2008, Mahkamah Umum Makkah memvonis Zaini dengan hukuman mati. Setelah menerima putusan ini, pengacara Zaini mengajukan banding dan dilanjutkan dengan kasasi. Namun pengadilan banding dan kasasi menguatkan vonis mati atas Zaini itu.

Iqbal menegaskan sejak kasus ini muncul pada 2004, pemerintah sudah melakukan hampir semua upaya untuk membebaskan Zaini. Tim perlindungan warga Indonesia di KJRI Jeddah dan KBRI Riyadh sudah 40 kali menengok Zaini di penjara.

Sejak 2011, pemerintah sudah menunjuk dua pengacara untuk mendampingi Zaini. Pengacara pertama disewa selama 2011-2016 dan pengacara kedua masih bertugas hingga Zaini dieksekusi.

Pemerintah juga sudah tiga kali memfasilitasi keluarga untuk menemui ahli waris majikan, yakni satu kali di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dua kali saat Presiden Joko Widodo berkuasa. Namun hingga detik terakhir menjelang eksekusi, ahli waris menolak memberi maaf kepada Zaini.

Sejak Zaini ditangkap, KJRI Jeddah dan KBRI Riyadh sudah mengirim 42 nota diplomatik. Duta besar Indonesia di Riyadh juga menyurati tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat tinggi Saudi dalam upaya membebaskan Zaini dari hukuman mati.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono satu kali menyurati Raja Abdullah bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo dua kali menyurati Raja Salman bin Abdul Aziz. Keduanya meminta supaya Zaini dibebaskan dari hukuman pancung.

Iqbal menekankan pemerintah Indonesia hari ini sudah menyampaikan nota protes kepada pemerintah Arab Saudi. Kementerian Luar Negeri juga sudah memanggil Duta Besar Saudi untuk Indonesia Usamah bin Muhammad Abdullah buat meminta penjelasan mengenai eksekusi Zaini.

Anis Hidayah, peneliti di Migrant Care, menyayangkan karena pemerintah terlambat memberikan pendampingan terhadap Zaini sejak ditangkap. Dia menilai boleh jadi kalau didampingi sejak awal, dia bisa dibebaskan.

Anis melihat ada proses hukum yang tidak jujur terhadap Zaini. "Zaini Misrin menjalani proses hukum pertama pada 2004-2008 tanpa pendampingan dari KBRI dan tidak ada pengacara, sehingga ada pemaksaan dalam pemberian keterangan selama BAP (Berita Acara Pemeriksaan) berlangsung. Dia tidak membunuh tetapi dipaksa memberikan keterangan dia membunuh," tuturnya.

Data Kementerian Luar Negeri menyebutkan selama 2011-2018 terdapat 102 warga Indonesia terancam hukuman mati. Dari jumlah ini, 79 orang berhasil dibebaskan, tiga orang dieksekusi termasuk Zaini, dan 20 lainnya masih dalam penanganan.

Dari 20 warga Indonesia masih terancam hukuman mati di Arab Saudi, 15 orang atas dakwaan pembunuhan dan lima lainnya perkara sihir. Dua warga Indonesia dalam posisi kritis dan bisa dieksekusi kapan saja adalah Tuti Susilawati dan Eti Thoyyib, ekspatriat perempuan asal Majalengka, Jawa Barat.

Semoga nasib mereka tidak seperti Zaini. Dieksekusi  tanpa kerabat sebagai saksi.  

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."





comments powered by Disqus