kisah

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.

13 April 2018 23:55

Setelah bermobil sekitar 1,5 jam, rombongan UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir akhirnya tiba di sebuah kamp pengungsi Suriah di Distrik Zahla, Lembah Bekaa, Libanon. Wilayah ini memang berbatasan langsung dengan Suriah dan Israel.

Rabu pagi lalu adalah kali pertama bagi Dato Tahir mengunjungi kamp pengungsi Suriah itu. Namun bukan kamp resmi bikinan UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi).

Berbeda dengan kamp pengungsi Suriah di Azraq, Yordania, kamp di Lembah Bekaa itu mirip perkampungan kumuh di Jakarta. Jalan tanah hanya cukup satu mobil dan tenda-tenda seadanya berdiri berdesak-desakan, seperti dilaporkan wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Lembah Bekaa.

Menurut Hibah Faris, External Relations Associate UNHCR di Libanon, terdapat 432 pengungsi berasal dari 87 keluarga tinggal dalam 67 tenda berada di kamp itu. "Sebagian besar berasal dari Aleppo," katanya. Dia menambahkan tiap keluarga mendapat jatah US$ 175 saban bulan dari UNHCR.

Setibanya di sana, Dato Tahir sehari sebelumnya merayakan pesta ulang tahunnya ke-66 dengan anak-anak pengungsi Suriah di kamp Azraq, diajak mengunjungi keluarga Mustafa. Lelaki 35 tahun ini tinggal bersama istrinya, Aisyah (25 tahun) dan ketiga anaknya, termasuk putri sulungnya Hanan (4 tahun) mengalami cacat mental, serta ibunya berumur 70 tahun dalam keadaan sakit. Mustafa bilang mereka sekeluarga sudah tinggal di kamp itu sejak 2011.   

Aisyah berharap ketiga anaknya memiliki masa depan lebih baik ketimbang orang tuanya. "Saya berharap anak-anak saya tidak lagi melihat darah dan perang," ujarnya. "Saya berharap keamanan dan perdamaian tercipta di Suriah sehingga kami bisa pulang."

Konglomerat berharta US$ 35 miliar (Rp 48 triliun) versi majalah Forbes 2018 ini mengaku tidak habis pikir bagaimana mungkin Mustafa sekeluarga tinggal di tenda berukuran 4x3 meter persegi itu. Seraya menengok ke atas, dia tidak dapat membayangkan bagaimana ketiga anak Mustafa masih kecil itu bisa menahan angin musim dingin menusuk tulang.

Iba dengan kondisi ibu dari Mustafa, Dato Tahir menyanggupi untuk membiayai perawatannya di rumah sakit setempat. Dia juga memberikan uang tunai bagi keluarga Mustafa.

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah. "Tuhan berkati kehidupan mereka di mana saja. Tuhan, pandulah mereka dalam menjalani kehidupan dan berkati mereka."

Dato Tahir dan rombongan lalu melanjutkan kunjungan ke keluarga Abdul Sattar. Keadaannya lebih baik ketimbang keluarga Mustafa. Pengungsi asal Idlib itu tinggal bersama istri dan lima anaknya di sebuah rumah susun di daerah Qab Ilyas, Lembah Bekaa. Ada tujuh keluarga pengungsi Suriah tinggal di sana.

Menurut Hibah Faris, UNHCR berhasil berkompromi dengan orang Libanon merupakan pemilik rumah susun itu untuk menggratiskan uang sewa selama setahun asal membantu memperbagus kondisi bangunan tadinya rusak. Komitmen dicapai adalah tujuh keluarga pengungsi Suriah itu boleh tinggal di sana selama lima tahun.

Tahun kedua hingga tahun kelima, Abdul Sattar harus membayar uang sewa US$ 200 saban bulan. Buat hal itu dan menafkahi keluarganya, dia bekerja serabutan sebagai tukang bangunan.

Kepada Abdul Sattar, Dato Tahir meminta mereka tidak kaget. "Saya berasal dari keluarga miskin. Jadi biasa saja bagi saya datang ke tempat seperti ini," tutur pendiri sekaligus Chairman Mayapada Group itu. "Saya senang karena ini adalah habitat saya."

Sabriyah dan putrinya tidak kuasa menahan haru setelah menerima amplop berisi uang tunai dari Dato Tahir. Amplop berisi uang juga diberikan kepada keluarga Abdul Sattar.

Selepas pukul 12 siang, rombongan Dato Tahir meninggalkan Lembah Bekaa. Di sanalah dia bertemu Mustafa, satu dari jutaan pengungsi Suriah menjadi korban keganasan perang masih membekap negeri asalnya.            

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Dato Tahir: Membantu pengungsi membuat saya makin bersyukur

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujar Dato Tahir. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir saat berbincang dengan keluarga pengungsi asal Suriah di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tiru Dato Tahir, para taipan Indonesia diajak bantu pengungsi Palestina

Dato Tahir juga menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu sekaligus mengunjungi kamp pengungsi Suriah, dilakoni sejak 2016.





comments powered by Disqus