kisah

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018 17:35

Perang di Yaman mengahadpi kelompok Al-Hutiyun tidak sekadar melibatkan pasukan koalisi Arab dipimpin Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Banyak tentara bayaran menyerbu kota pelabuah Hudaidah dilatih di Israel oleh tentara negara Zionis itu.

Fakta ini kian membuka  peran rahasia Israel dalam perang di Yaman. Menurut para pejabat Amerika Serikat mengetahui hal itu, ratusan serdadu bayaran dari beragam negara bertempur atas nama UEA di Yaman baru-baru ini menjalani latihan militer di sebuah kamp di Gurun Negev, selatan Israel. Pelatihan tentara bayaran ini dilaksanakan atas kesepakatan antara UEA dan Israel.

Serdadu-serdadu sewaan ini dididik langsung oleh pasukan Israel. Penasihat keamanan nasional UEA Muhammad Dahlan langsung mengawasi perekrutan prajurit bayaran itu, kebanyakan dari Kolombia atau Nepal.

Dahlan, orang Palestina, adalah tokoh sentral dalam rencana Amerika atas biaya UEA untuk mempersenjatai dan melatih milisi-milisi untuk menumbangkan Hamas setelah mereka menang dalam pemilihan umum pada 2006. Dahlan kemudian kabur ke UEA dan menjalin hubungan baik dengan keluarga kerajaan hingga akhirnya diangkat menjadi salah satu penasihat keamanan. Dia juga akrab dengan Avigdor Lieberman, baru saja mundur dari jabatan menteri pertahanan Israel.

Dahlan bahkan langsung meninjau kamp pelatihan militer tentara bayaran di Israel lebih dari sekali. Sejumlah sumber Al-Khaleej Online mengungkapkan Dahlan sendiri memilih Gurun Negev sebagai tempat pelatihan lantaran iklim, lingkungan, dan struktur kesukuan mirip dengan Yaman.

Tentu saja terbongkarnya kamp pelatihan tentara bayaran di Israel didanai oleh UEA bukan bukti pertama menunjukkan keterlibatan Israel dalam Perang Yaman. Sejak perang dimulai tiga tahun lalu, pasukan koalisi dikomandoi oleh Arab Saudi dan UEA kerap menggunakan persenjataan bikinan negara Bintang Daud itu.

Pada 2015, terungkap pula rencana Amerika untuk membangun sebuah pangkalan militer di dekat Selat Bab al-Mandab buat memastikan keamanan Israel. Rencana inilah membuat Amerika dan Israel menyokong pasukan koalisi dipimpin Saudi dan UEA untuk memerangi milisi Al-Hutiyun sokongan Iran.

Al-Khaleej Online sebelumnya melaporkan Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Walau perang Israel dalam Perang Yaman masih ditutupi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bulan lalu bilang dirinya mempertimbangkan untuk mengirim pasukan Israel ke Yaman untuk berperang bareng pasukan koalisi Arab, kalau milisi Al-Hutiyun berhasil menguasai Selat Bab al-Mandab, menjadi pintu keluar masuk ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah.

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Ratusan tentara Saudi tewas di Jizan dalam pertempuran dengan milisi Al-Hutiyun

Bin Salman telah mengisyaratkan menyerah dalam Perang Yaman.





comments powered by Disqus