kisah

Intimidasi demi Sisi

Pejabat keamanan memaksa para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang memajang spanduk menyokong referendum.

26 April 2019 20:25

Presiden Mesir Abdil Fattah as-Sisi akhirnya menang dalam referendum digelar sepanjang Sabtu hingga Senin lalu. Rakyat Mesir akhirnya menyetujui perubahan konstitusi.

Amandemen itu termasuk pasal 241 memberikan waktu dua tahun lagi bagi Presiden Abdil Fattah as-Sisi untuk mengakhiri masa jabatannya menjadi 2024. Dia juga boleh ikut pemilihan presiden lagi untuk periode enam tahun berikutnya. Pasal lainnya memberikan kewenangan kepada Sisi untuk menunjuk satu atau lebih wakil presiden, hakim-hakim senior, jaksa agung dan ketua Mahkamah Konstitusi.

Seperti penguasa lainnya, Sisi melakoni beragam cara untuk tetap langgeng, termasuk intimidasi dan politik uang.

Seperti dialami Ahmad pemilik kios menjual rokok, makanan dan minuman ringan di Ain Syamas, Ibu Kota Kairo. Selama tujuh tahun dalam tokonya tergantung foto putranya, Muhammad. Polisi menembak mati Muhammad saat berunjuk rasa pada Januari 2011.

Tapi awal bulan ini, sebelum plebisit digelar, Ahmad mendapat telepon dari kantor polisi setempat. Dia harus mengganti foto putranya dengan spanduk menyatakan dirinya mendukung perubahan konstitusi.

Ahmad mengaku tidak memahami soal amandemen undang-undang dasar. "Polisi datang ke kios dan memaksa saya memberikan fulus 1.500 pound Mesir (US$ 87) sebagai ongkos memasang spanduk berukuran besar," katanya.

Pemerintah Mesir juga sudah memblokir 34 ribu situs untuk mencegah kaum pembangkang mengkampanyekan penolakan terhadap perubahan konstitusi.

Seperti Ahmad, para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang bilang kepada Middle East Eye, pejabat keamanan memaksa mereka memajang spanduk menyokong referendum. Itu pun mereka harus membayar.

Sebagian mengungkapkan polisi mengancam membuka kasus lama atau mencabut izin usaha kalau menolak memasang spanduk pro-amandemen, dengan biaya US$ 30 per spanduk.

Jumlah spanduk mesti dipasang bergantung jenis usaja. Jika pemilik kios rokok cuma disuruh memajang dua spanduk tapi pengusaha restoran bisa sampai lima.

Spanduk-spanduk mendukung perubahan konstitusi itu bikinan Partai Masa Depan Bangsa, berafiliasi dengan badan intelijen dan dibentuk menjelang kudeta pada 2013. Partai ini sekarang menguasai kursi terbesar kedua di parlemen.

Menurut seorang sumber di badan intelijen, intimidasi itu dilakukan lantaran pemerintah mencemaskan rakyat Mesir bakal menolak amandemen.

Muhammad, pemilik sebuah kafe di kawasan Heliopolis, Kairo, dipaksa membayar seribu pound Mesir (US$ 58) untuk menggantung dua poster. "Bila menolak mereka akan membuat kasus palsu untuk menangkap saya dan bakal menutup kafe," ujarnya.

Hasan, pemilik restoran di Nasr City, terpaksa membayar lima ribu pound Mesir (US$ 290) buat memasang lima spanduk. Kalau tidak mau, polisi mengancam membuka kembali perkara hukumnya.

Di hari pencoblosan, aparat keamanan memobilisasi massa pergi ke tempat-tempat pemungutan suara. Kendaraan disediakan dan sehabis memilih pro-amandemen, mereka kebagian jatah paket makanan.

Sopir minibus bernama Ahmad mengungkapkan mereka dipaksa mengangkut para pemilih dengan bayaran 300 pound Mesir (US$ 17). Sedangkan tiap pemilih kebagian 150 pound. Ahmad mengangkut 14 pemilih, kebanyakan perempuan, dari pinggiran Kairo.

Seorang lelaki berumur 34 tahun menolak memilih. "Saya orang terhormat dan tidak akan menjual suara saya hanya demi sedikit makanan," tuturnya. "Tapi saya tidak menyalahkan orang-orang mau memilih karena diberi fulus dan makanan."     

Intimidasi itu pun mujarab. Sisi berseri lantaran rakyat Mesir menyokong amandemen konstitusi.  

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR