kisah

Covid-19 dan kengerian di negara Kabah

Riyadh, Jeddah, Makkah, dan Madinah masih menjadi empat kota dengan jumlah pengidap Covid-19 terbanyak di Arab Saudi.

15 Juli 2020 09:27

Di negara otoriter seperti Arab Saudi, di mana hukum dan keputusan akhir berada di tangan raja atau sekarang pemimpin de facto Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, kestabilan adalah hal mutlak. Semua sektor kehidupan penduduk harus dalam keadaan terkontrol: politik, ekonomi, agama, kesehatan, pendidikan, sosial dan budaya, serta pertahanan dan keamanan.

Tapi kini wabah virus corona Covid-19 membekap Saudi sejak awal Maret lalu telah menimbulkan kengerian. Hingga kemarin, menurut data Kementerian Kesehatan Arab Saudi, penderita Covid-19 di negara Kabah itu 237.803 orang, termasuk 2.283 meninggal.

Sejatinya, awal April lalu, Menteri Kesehatan Arab Saudi Taufiq ar-Rabiah telah memperingatkan kalau masyarakat tidak mau mematuhi protokol kesehatan untuk Covid-19 - memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan rajin mencuci tangan - dalam beberapa pekan saja korban terjangkit bisa mencapai 10 sampai 200 ribu orang.

Sila baca: Menteri kesehatan Saudi peringatkan penderita Covid-19 bisa sampai 200 ribu dalam beberapa pekan

Prediksi Taufiq terbukti. Tidak sampai 12 minggu, pengidap Covid-19 di negara berpenduduk hampir 34 juta jiwa ini tembus 200 ribu orang.

Sila baca: Ketambahan 4.193 kasus baru, jumlah penderita Covid-19 di Saudi tembus 200 ribu orang

Kengerian kian terasa lantaran Covid-19 juga menginfeksi keluarga kerajaan. Surat kabar the New York Times awal April lalu melaporkan 150 pangeran terjangkit Covid-19. Seorang sumber dekat dengan lingkungan istana mengungkapkan Raja Salman bin Abdul Aziz sudah mengisolasi diri di sebuah istana di tepi Laut Merah, tidak jauh dari Kota Jeddah.

Sedangkan anaknya, Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman merupakan pemimpin de facto telah membawa banyak menterinya untuk mengasingkan diri di istana juga di pinggir Laut Merah.

Para pejabat Rumah Sakit Raja Faisal di Ibu Kota Riyadh telah mengeluarkan perintah siaga tingkat tinggi dan mempersiapkan 500 tempat tidur untuk merawat anggota keluarga kerajaan Saudi mengidap Covid-19.

Sila baca: Sudah 150 anggota keluarga kerajaan Saudi terinfeksi Covid-19

Sumber Albalad.co dalam lingkungan istana juga bilang sejak Maret lalu sudah 14 pangeran terineksi Covid-19. Sembilan pangeran dirawat di rumah sakit khusus di Ibu Kota Riyadh dan lima pangeran dibawa ke rumah sakit di Jeddah. "Sebagian dari pangeran itu terjangkit Covid-19 sepulang dari Australia," katanya.

Dia menambahkan Raja Salman dirawat tim dokter ahli Covid-19 dari Cina selama menjalani isolasi. Karena rumah-rumah sakit sudah penuh, pemerintah Saudi sampai menyewa dua hotel untuk merawat pasien Covid-19, termasuk Hotel Movenpick.

Mengerikannya wabah Covid-19 juga tergambar dari hasil analisa Kedutaan besar Amerika Serikat di Ibu Kota Riyadh, beredar di kalangan terbatas di Riyadh dan Washington DC. Mereka menggambarkan keadaannya mirip New York ketika kasus Covid-19 bakal meledak.

"Respon pemerintah Saudi tidak cukup, bahkan rumah-rumah sakit sudah penuh dan banyak tenaga medis terkena Covid-19," kata seorang sumber dekat dengan Gedung Putih, seperti dilansir the New York Times awal bulan ini.

Sejumlah pejabat Amerika mengatakan paling tidak seorang warga Amerika terjangkit Covid-19 di Saudi ditolak ketika akan berobat ke rumah sakit karena sudah tidak ada tempat dan fasilitas medisnya tidak memadai.

Lelaki asal Sudan menjadi sopir pribadi Duta Besar Amerika untuk Arab Saudi John P. Abizaid sudah mengembuskan napas terakhir gegara Covid-19. Lebih dari 20 staf Kedutaan Amerika dikarantina setelah menghadiri pesta makan daging panggang lantaran dikhawatirkan terinfeksi virus asal Kota Wuhan, Cina, itu.

Karena begitu mencemaskan, sebagian orang di Kedutaan Amerika tanpa melalui jalur resmi melapor ke Kongres. Mereka beralasan Departemen Luar negeri dan Duta Besar Abizaid tidak bertindak serius buat mencegah Covid-19 tersebar di kalangan staf, dioplomat, dan keluarga mereka.

Departemen Luar Negeri Amerika Maret lalu memang sudah mengeluarkan instruksi pemulangan sukarela untuk diplomat dan keluarganya bertugas di Kedutaan Amerika di Riyadh dan dua konsulat lainnya di Saudi. Namun beberapa pejabat senior kedutaan menilai langkah itu tidak cukup. Sebagian besar dari 400 hingga 500 warga Amerika bekerja di tiga kantor perwakilan diplomatik itu harus segera dievakuasi dari Saudi.

Kedutaan Amerika di Riyadh adalah salah satu pos diplomatik terpenting Amerika di Timur Tengah dan salah satu kantor CIA (dinas rahasia luar negeri) terbesar di kawasan itu.

Kengerian ini juga terihat dari beragam kebijakan dikeluarkan pemerintah Saudi sebelum menetapkan kelaziman baru sejak 21 Juni lalu. Jam malam berlaku secara nasional dan semua kota dikunci. Bahkan Makkah dan Madinah pernah mengalami jam malam 24 jam saban hari.

Semua masjid ditutup, kecuali Masjid Al-Haram di Kota Makkah dan Masjid Nabawi di Kota Madinah. Meski begitu, hanya pengurus, petugas kebersihan, dan petugas keamanan di dua masjid itu bleh bersalat jamaah lima waktu, termasuk salat Jumat.

Umrah ditutup bagi warga asing sedari 27 Februari hingga waktu belum ditentukan. Sampai-sampai haji tahun ini hanya boleh dilakukan oleh penduduk setempat, baik warga Saudi atau asing. Jumlahnhya pun sangat dibatasi, cuma sepuluh ribu jamaah dari biasanya 2,5 juta orang.

Riyadh, Jeddah, Makkah, dan Madinah masih menjadi empat kota dengan jumlah pengidap Covid-19 terbanyak di Arab Saudi.

Wabah Covid-19 di negeri Dua Kota Suci itu memang masih mengerikan lantaran saban hari ketambahan dua ribuan penderita baru.

 

 

 

 

Jalan di sekitar Masjid Al-Haram, Kota Makkah, lengang dari kendaraan sejak Arab Saudi memberlakukan jam malam pada 23 Maret 2020. (Haramain Info)

Ketambahan 1.372 kasus baru, jumlah penderita Covid-19 di Saudi jadi 299.914 orang

Pengidap Covid-19 di Makkah naik menjadi 30.083 orang, termasuk 605 meninggal.

Suasana di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, setelah Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz memerintahkan isolasi terhadap kota Makkah, Madinah, Riyadh pada 25 Maret 2020. (Haramain Info)

Jumlah pengidap Covid-19 di Makkah tembus 30 ribu orang

Riyadh, Jeddah, Makkah, dan Dammam merupakan empat kota dengan jumlah penderita Covid-19 terbanyak di Arab Saudi.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (alriyadh.com)

Ketambahan 1.383 kasus baru, jumlah penderita Covid-19 di Saudi jadi 295.902 orang

Pengidap Covid-19 di Makkah melonjak menjadi 29.898 orang, termasuk 584 meninggal.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Ketambahan 1.482 kasus baru, jumlah pengidap Covid-19 di Saudi jadi 294.519 orang

Penderita Covid-19 di Makkah meningkat menjadi 29.817 orang, termasuk 577 meninggal.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

pangeran muhammad bin salman

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

14 Oktober 2020

TERSOHOR