kisah

Haji karut marut

Sampai hari ini pun belum ada pengumuman dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi soal berapa sebenarnya calon jamaah haji tahun ini: seribu atau sepuluh ribu.

20 Juli 2020 21:59

Barangkali inilah pelaksanaan haji paling karut marut sejak Arab Saudi berdiri 88 tahun lalu. Diawali dengan ketidakpastian gegara pandemi virus corona Covid-19: apakah ritual rukun Islam kelima itu jadi digelar atau tidak.

Sampai-sampai ada tujuh negara terpaksa memutuskan lebih dulu untuk membatalkan keberangkatan calon jamaah haji ke Arab Saudi, yaitu, Indonesia, Kamboja, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Inggris, dan Afrika Selatan.

Hingga akhirnya pada 22 Juni lalu, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mengumumkan haji jadi dilaksanakan tapi hanya untuk penduduk setempat, warga Saudi dan ekspatriat. Jumlahnya pun sangat terbatas, sepuluh ribu orang saja dengan alokasi 70 persen orang asing bermukim di sana dan sisanya warga Saudi.

Pengumuman itu dibuat sehari setelah pemerintah Saudi menetapkan hidup kelaziman baru mengikuti protokol kesehatan untuk Covid-19, yakni menjaga jarak minimal dua meter, selalu memakai masker ketika di luar rumah, menghindari kerumunan, dan rajin mencuci tangan.

Periode kelaziman baru itu sekaligus mengakhiri jam malam berlaku secara nasional sejak Maret. Masjid-masjid kembali dibuka, kantor-kantor pemerintah dan swasta, toko-toko, dan mal beroperasi lagi.

Ketika periode kelaziman baru itu dimulai pada 21 Juni, pengidap Covid-19 di Arab Saudi sebanyak 157.612, termasuk 1.267 orang meninggal. Angkanya hari ini membengkak menjadi 253.349 penderita, mencakup 2.523 orang telah mengembuskan napas terakhir.

Polemik muncul lantaran ada perbedaan dalam berita. Al-Arabiya menulis hanya seribu orang diizinkan berhaji tahun ini, namun Saudi Gazette melaporkan jumlah calon jamaah haji sepuluh ribu.

Ketika masa pendaftaran ditutup 10 Juli lalu, dua hari kemudian Kementerian Haji Arab Saudi cuma menyebutkan calon jamaah tahun ini berasal dari 160 negara.

Sampai hari ini pun belum ada pengumuman dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi soal berapa sebenarnya calon jamaah haji tahun ini: seribu atau sepuluh ribu. Juga belum ada penjelasan mengenai berapa banyak ekspatriat dibolehkan berhaji tahun ini, apakah benar 70 persen atau malah kurang dari itu.

Konsul Haji di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah Endang Jumali mengaku belum mengetahui berapa sebenarnya jumlah orang bakal berhaji tahun ini. Kuota warga Indonesia pun juga tidak diketahui. "Infonya belum kami terima karena kantor perwakilan tidak dilibatkan," katanya kepada Albalad.co melalui pesan WhatsApp malam ini.

Dia menambahkan pihaknya juga sudah menyurati Kementerian Luar Negeri dan Kementerian haji Arab Saudi untuk menanyakan berapa warga Indonesia dibolehkan berhaji tahun inidan terkait permintaan akses ke Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban.

Dihubungi terpisah, seorang sumber Albalad.co di Arab Saudi mengungkapkan dirinya juga bingung dengan kebijakan Arab Saudi kerap tidak terduga. "Mereka yang lolos seleksi untuk berhaji didatangi petugas ke rumah masing-masing dan diberi gelang dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi," ujarnya.

Namun dia tidak bisa memastikan apa fungsi dari gelang itu. Apaah gelang itu berisi identitas jamaah, seperti nama, nomor paspor, dan sebagainya.

Sumber ini mengeluhkan kebijakan Arab Saudi cuma di mulut saja. Alokasi 70 persen buat ekspatriat kemungkinan juga tidak terwujud. Semua yang diutamakan adalah tenaga medis: dokter, perawat, dan paramedis baik itu warga Saudi atau ekspatriat. "Tidak ada perwakilan negara asing dilibatkan, sehingga mereka tidak mengetahui jumlah warga mereka boleh berhaji," tuturnya.

Haji tahun ini memang istimewa. Jumlah jamaahnya sangat kecil ketimbang biasanya mencapai 2,5 juta orang saban tahun. Sudah begitu, mereka tidak boleh menyentuh atau mencium Kabah dan Hajar Aswad.

 

Jamaah bertawaf di kompleks Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Dua calon jamaah haji Indonesia terinfeksi Covid-19

Klaim dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi menyebut tidak ada satu pun jamaah haji tertular Covid-19.

Jamaah bertawaf di kompleks Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Haji tahun ini diikuti oleh 930 jamaah

Semua biaya pelaksanaan haji ditanggung oleh konglomerat Saudi, Syekh Sulaiman bin Abdul Aziz ar-Rajhi.

Suasana jamaah bertawaf di Kabah pada Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mimpi Wahyu berhaji kala pandemi

"Saya tidak menyangka dapat lolos seleksi peserta haji 2020."

Jamaah bertawaf di kompleks Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hanya 13 warga Indonesia berhaji tahun ini

Ada yang berprofesi sebagai perawat, guru, dan ibu rumah tangga.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

pangeran muhammad bin salman

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

14 Oktober 2020

TERSOHOR