kisah

Tawa Israel air mata Palestina

Usai penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dengan UEA dan Bahrain, Trump bilang ada 7-9 negara lagi siap berdamai. Arab Saudi, Oman, dan Sudan masuk dalam antrean.

16 September 2020 09:24

Keempat tokoh itu duduk sebaris di the South Lawn, salah satu teras Gedung Putih di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat, kemarin siang waktu setempat atau dini hari ini waktu Jakarta. Ketika akan menandatangani dokumen kesepakatan, salah satunya dalam bahasa Ibrani, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Abdullah bin Zayid an-Nahyan bertanya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memastikan apa isi dokumen itu. Netanyahu berkomentar balik, "Anda juga harus memberitahu saya apa isinya dalam bahasa Arab."

Dalam momen bersejarah itu, terdapat tiga dokumen kesepakatan dalam tiga bahasa - Arab, Inggris, dan Ibrani - ditandatangani Presiden Amerika Donald Trump, Netanyahu, Syekh Abdullah bin Zayid, dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdul Latif bin Rasyid az-Zayani, yakni Perjanjian Ibrahim, Perjanjian Damai UEA-Israel, dan Deklarasi Damai Bahrain-Israel.

Perjanjian Ibrahim merujuk pada berdamainya Yahudi dan Arab, dua anak keturunan Nabi Ibrahim. Nabi Ismail menurunkan bangsa Arab dan Nabi Ishak melahirkan kaum Yahudi.

Dalam pidatonya sebelum penandatanganan ketiga dokumen bersejarah ini, Syekh Abdullah bin Zayid dan Abdul Latif sama menekankan perjanjian untuk membina hubungan diplomatik dengan negara Zionis itu juga dalam kerangka untuk memperjuangkan Palestina menjadi negara merdeka dan berdaulat. Sedangkan pidato Netanyahu dan Trump tidak secara khusus menyebut solusi damai bagi konflik Palestina-Israel.

Teks dalam perjanjian damai UEA-Israel menyebutkan, "Israel dan UEA berkomitmen untuk mengupayakan tercapainya sebuah penyelesaian adil, menyeluruh, realistis, dan abadi terhadap konflik Israel-Palestina."

Sebagian besar rakyat Israel dan kaum Yahudi di seluruh dunia bersorak menyambut momen bersejarah itu. Sebaliknya, bangsa Palestina kembali berduka. Ketika penandatangan dokumen kesepakatan damai itu berlangsung, Hamas menumpahkan murka mereka dengan menembakkan sejumlah roket ke Ashdod dan Ashkelon, dua kota di selatan Israel, menyebabkan setidaknya sepuluh warga Israel cedera.

Israel sudah lama tertawa dan Palestina sudah puluhan tahun berurai air mata. Tawa Israel kian terbahak dan air mata Palestina makin deras menetes di era kepemimpinan Trump. Presiden dari Partai Republik itu paling sukses memperjuangkan kepentingan Israel: mulai dari pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, memindahkan Kedutaan Besar Amerika dari Ibu Kota Tel Aviv ke Yerusalem, menyatakan permukiman yahudi di Tepi Barat tidak ilegal, hingga menetapkan Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah kedaulatan negara Bintang Daud itu.

UEA dan Bahrain seolah tidak belajar dari pengalaman Mesir pada 1979 dan Yordania di 1994. Kairo berdamai dengan Israel demi mendapatkan kembali Semenanjung Sinai dan Amman melakoni hal serupa untuk memelihara status eksklusifnya sebagai pengelola situs agama dan bersejarah di Yerusalem Timur. Sampai saat ini, kedua negara itu belum berhasil memerdekakan Palestina.

Tapi pengalaman Mesir dan Yordania telah menyadarkan UEA dan Bahrain: menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tidak akan membuat mereka dibenci dan dikucilkan kaum muslim sejagat.

Negara-negara Arab dan berpenduduk mayoritas muslim lainnya tentu akan belajar dari jejak UEA dan Bahrain. Seperti kata Trump kepada wartawan usai acara penandatangan kesepakatan normalisasi itu, ada 7-9 negara siap berdamai dengan Israel, termasuk Arab Saudi.

Angka itu lebih ketimbang yang disebut Trump saat mengadakan pertemuan dengan Netanyahu paginya, cuma 5-6 negara akan menyusul UEA dan Bahrain. "Mereka ingin berdamai. Mereka adalah negara-negara pernah memerangi Israel tapi mereka sudah lelah," kata Trump. "Sebagian besar negara di Timur Tengah ingin meneken perjanjian damai (dengan Israel)."

Boleh jadi Oman, Sudan, dan Chad termasuk 7-9 negara bakal menandatangani kesepakatan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan israel. Sebab di acara penandatanganan perjanjian normalisasi Israel dengan UEA dan Bahrain, kedua negara Arab itu mengirimkan utusannya: wakil duta besar Sudan untuk Amerika dan duta besar Oman buat Amerika hadir di sana.

Apalagi Netanyahu pernah bertemu Ketua Dewan Transisi Sudan Jenderal Abdil Fattah al-Burhan di Uganda Februari lalu dan tahun lalu berkunjung ke Oman. Dua tahun lalu, Netanyahu juga melawat ke Chad. 

Israel juga sudah merasa tidak terisolasi di Timur Tengah. "Israel sama sekali tidak merasa terasing. Israel menikmati kemenangan besar dalam sejarah diplomasinya," ujar Netanyahu. "Mereka merasa terisolasi adalah para tiran di Teheran."

Kalau omongan Trump soal 7-9 negara Arab dan muslim siap berdamai dengan Israel menjadi kenyataan, tawa Israel makin membahana dan air mata Palestina kian deras mengalir.

 

Sinagoge di Ibu Kota Manama, Bahrain, satu-satunya rumah ibadah Yahudi di negara Arab Teluk tersebut. (Al-Arabiya)

Bahrain dan Israel hari ini akan teken kesepakatan untuk bina hubungan diplomatik

Komunike bersama itu akan menjadi payung bagi semua perjanjian bilateral akan ditandatangani beberapa bulan mendatang.

Seorang pramugari tengah memeriksa kabin barang dalam pesawat Etihad Airways rute Jakarta-Abu Dhabi di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Sabtu, 25 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Untuk pertama kali, pesawat UEA dari Milan menuju Abu Dhabi terbang melintasi Israel

Pesawat kargo Etihad pada Mei dan Juni lalu terbang ke Ibu Kota Tel Aviv, Israel, mengangkut bantuan kemanusiaan bagi Palestina untuk menangani wabah virus corona Covid-19.

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

pangeran muhammad bin salman

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

14 Oktober 2020

TERSOHOR