kisah

Sepak terjang milisi bayaran bikinan Erdogan

Erdogan telah mewujudkan ideologi ekspansionis atas nama Islam sejak menyerbu wilayah timur laut Suriah Oktober tahun lalu, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

02 Oktober 2020 02:32

Seorang anggota SNA (Tentara nasional Suriah) dari Divisi Hamzah sedang bertempur bareng pasukan Azerbaijan merasa ditipu oleh Turki. "Mereka bilang kami dikirim ke sini untuk menjaga pangkalan militer Turki, tapi ternyata kami disuruh bertempur," katanya seperti dilansir Investigative Journal. "Pertempuran di Azerbaijan tidak seperti biasa saya saksikan. Seperti di sebuah film gempuran udara terus berlangsung."

Perang antara Azerbaijan dan Armenia meletup sejak Ahad pekan lalu di wilayah bergolak Nagorno Karabakh. Daerah ini secara de facto dikuasai oleh Republik Artsakh menyatakan merdeka dari Azerbaijan pada Desember 1991.

Konflik di Nagorno Karabakah bermula di awal abad ke-20 ketika pemimpin Uni Soviet Joseh Stalin menetapkan wilayah itu sebagai daerah otonomi dari Azerbaijan. Pertempuran meletup pada 1998 saat Armenia menuntut Nagorno Karabakh masuk ke dalam wilayahnya. Sengketa meningkat menjadi perang di awal 1990-an.

Palagan ini kembali menjadi bukti ideologi ekspansionis ala Islam diyakini oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Turki mengirim SNA, milisi bentukan mereka pada Desember 2017, untuk menguasai wilayah utara dan timur laut Suriah berpenduduk mayoritas Kurdi. SNA adalah organisasi membawahi semua milisi sokongan Turki. Ada milisi baru dibentuk tapi ada juga kelompok-kelompok sempalan dari Al-Qaidah dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Erdogan telah mewujudkan ideologi ekspansionis atas nama Islam sejak menyerbu wilayah timur laut Suriah Oktober tahun lalu, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Dia beralasan ingin membangun daerah penyangga buat mencegah pasukan Kurdi di negara Syam itu menyerang ke wilayahnya.

Namun tindakannya itu menjadi blunder. Serbuan Turki membikin sel-sel tidur ISIS kembali berperasi. Mereka diuntungkan oleh kekacauan dibuat Turki sehingga pasukan Kurdi kerepotan menjaga penjara-penjara dan kamp berisi anggota ISIS dan keluarga mereka. Banyak yang berhasil lari dan bahkan kamp Ain Isa sudah kosong.

Selentingan Turki bakal mengirim tentara bayarannya ke Azerbaijan sudah beredar di kalangan SNA beberapa bulan lalu. "Orang-orang itu diangkut ke Turki, dipaksa mencukur habis brewik dan jenggot mereka, kemudian dari sana dikirim ke Azerbaijan," ujar seorang anggota SNA dari Divisi Hamzah di Kota Afin, utara Suriah.

Menurut sejumlah pentolan SNA, ada seribu tentara bayaran Turki dikirim dalam dua gelombang ke Azerbaijan pada 22 dan 24 September. "Sebanyak 500 tentara Divisi Hamzah diterbangkan dari selatan Turki ke pangkalan udara Sumqayit (berjarak 30 kilometer sebelah utara Ibu Kota Baku, Azerbaijan)," kata seorang sumber dalam SNA. Dua hari kemudian 500 personel dari Divis Sultan Murad juga dikirim ke Azerbaijan.

Pasukan SNA dikirim oleh Turki ke Azerbaijan hampir semuanya beretnis Turkmaniyah memang berbahasa Turki. Saif Balud, komandan Divis Hamzah, dan Fahim Aissa, komandan Divisi Sultan Murad, juga orang Turkmaniyah.

Turki memang hanya mempercayai orang-orang Turkmaniyah untuk melaksanakan misi-misi semacam itu. "Hal ini sensitif bagi Turki secara politik dan mereka tidak percaya orang Arab Suriah," ujar sejumlah sumber di SNA.

Ini bukan kali pertama Turki mengirim milisi bentukannya. Sedari Desember tahun lalu, sebagai bagian dari perjanjian dengan pemerintahan di Ibu Kota Tripoli, diakui masyarakat internasional, Turki mengirim pasukan SNA untuk bertempur melawan pasukan LNA (Tentara nasional Libya) dipimpin oleh Khalifah Haftar.

Anteran panjang personel SNA terlihat lantaran mereka dijanjikan bayaran oleh Turki US$ 2 ribu sebulan, jauh lebih besar ketimbang berperang menghadapi pasukan Kurdi di utara Suriah, cuma digaji US$ 100 saban bulan.

Tapi kenyataannya, tidak satu pun dari lusinan anggota SNA menerima upah sesuai angka dijanjikan. Rata-rata personel SNAi semua faksi dikirim ke Libya dibayar US$ 400 tiap bulan. Karena itu, mereka menjarah rumah-rumah penduduk ditinggalkan mengungsi.

Sebagian besar personel SNA dikirim tidak memahami konflik terjadi Libya. "Kami dikirim ke sini (Libya) buat melawan Rusia," ucap seorang anggota SNA. "Haftar ingin menghancurkan orang-orang Suni," tutur yang lain. Padahal mayoritas penduduk Libya berpaham Islam Sunni.

Mereka sejatinya berharap tidak terlalu terlibat dalam pertempuran berat. Awalnya harapan itu terwujud. Mereka berleha-leha di vila dan tenpat tinggal penduduk sudah kosong di seantero Tripoli. Mereka pun mengajak rekan-rekannya di Suriah untuk datang dengan bujukan: gaji besar tapi perang santai.

Hingga akhirnya pertempuran berubah sengit antara GNA dan LNA mulai memasuki wilayah pinggiran Tripoli. Sebagian faksi dalam SNA, seperti Divisi Sultan Murad, kehilangan ratusan anggotanya hanya dalam beberapa pekan.

"Pasukan Turki bilang mereka bakal bertempur barenbg kami ," kata seorang anggota Divisi Sultan Murad di Ain Zara, Libya. "Tapi mereka bohong. Kami mati sendirian. Mayat-mayat pasukan kami bergeimpangan di jalan."

Juni lalu, pasukan GNA didukung SNA, berhasil mencaplok Kota Tarhuna dari LNA. GNA segera merangsek untuk masuk ke Sirte namun gagal. Sekarang ini pertempuran sedikit mereda. Tidak banyak lagi yang bisa dilakukan milisi Suriah bikinan Turki.

Meski begitu, Turki terus mengirim pasukan SNA ke Libya. Failaq al-Majd salah satunya. Dia sudah beberapa bulan bertempur di Misrata. Dia ingin kembali ke Suriah karena Turki sudah mengirim 450 personel SNA ke Misrata sebagai pengganti. "Saya akan mempersiapkan diri dengan cepat lantaran akan dikirim ke Azerbaijan. "Kebanyakan dari kami bakal bertempur di sana."

Lucunya, mayoritas pasukan SNA, semuanya berpaham Sunni dan bahkan jebolan ISIS, tidak mengerti Azerbaijan adalah negara berpenduduk mayoritas muslim Syiah. "Kami tidak bisa bertempur bersama Syiah," ujar seorang anggota SNA. "Syiah adalah musuh kami, lebih daripada Nasrani."

Satu anggota SNA lainnya mengungkapkan banyak personel SNA ingin balik ke Suriah. "Tapi pasukan Turki memaksa kami tetap bertahan buat bertempur."

Mereka bernasib malang, cuma diperalat oleh Erdogan nan arogan.

 

 

Jenazah Brigadir Jenderal Muhsin Fakhrizadeh Mahabadi, kepala program nuklir Iran dibunuh Mossad pada 27 November 2020. (Twitter)

Cara Mossad habisi Fakhrizadeh

Misi ini dilaksanakan oleh 62 orang, termasuk 12 eksekutor di lapangan. Tim ini sangat terlatih, mirip pasukan elite.

Puteri Haya binti Husain hadir dalam sidang kasus perceraiannya dengan Emir Dubai Syekh Muhammad bin Rasyid al-Maktum, berlangsung di sebuah pengadilan di Ibu Kota London, Inggris, 9 Oktober 2019. (Sky News)

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

Poster wakil pemimpin Al-Qaidah Abu Muhammad al-Masri. Dia ditembak mati pada Agustus 2020 di jalanan di Ibu Kota Teheran, Iran. (FBI)

Duka Al-Qaidah di negara Mullah

Dalam tiga bulan, Al-Qaidah kehilangan dua pemimpin mereka, Aiman Zawahiri dan wakilnya, Abu Muhammad al-Masri.

Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak pada Ahad, 8 November 2020, mengumumkan mundur dari jabatannya. Mantu dari Presiden Turki recep Tayyip Erdogan ini mengumumkan pengunduran diri itu lewat Instagram. (Ahval)

Mantu Erdogan mundur dari jabatan menteri keuangan karena gubernur bank sentral baru

Turki dalam waktu dekat harus membayar utang luar negerinya sebesar lebih dari US$ 100 miliar.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Cara Mossad habisi Fakhrizadeh

Misi ini dilaksanakan oleh 62 orang, termasuk 12 eksekutor di lapangan. Tim ini sangat terlatih, mirip pasukan elite.

30 November 2020

TERSOHOR