kisah

Konsorsium milisi Syiah di Irak

Beberapa milisi Syiah meraup fulus lebih dari US$ 100 ribu saban hari dari satu pos pemeriksaan di jalan menghubungkan Baghdad dan provinsi-provinsi di selatan Irak lewat pungutan liar.

05 Oktober 2020 13:49

Ia kokoh, berpengaruh luas dalam berbagai sendi kehidupan: politik, ekonomi, agama, sosial, dan militer. Seperti sebuah konsorsium, Al-Hasyd asy-Sya'bi (Pasukan Mobilisai Rakyat) terdiri dari 40 milisi, mayoritas muslim Syiah tapi ada juga kelompok bersenjata muslim Sunni, Nasrani, dan Yazidi.

Al-Hasyd dibentuk oleh pemerintah Irak pada 15 Juni 2014, dua hari setelah pemimpin Syiah Irak Ayatullah Ali as-Sistani mengeluarkan fatwa berjihad kepada semua rakyat negara Dua Sungai itu untuk mempertahankan kota-kota di Irak, terutama Ibu Kota Baghdad, dari caplokan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Fatwa Sistani itu terbit setelah ISIS menguasai Mosul tiga hari sebelumnya. Mulanya Al-Hasyd terdiri dari tujuh milisi Syiah beroperasi sejak awal 2014 dan disokong oleh Perdana Menteri Nuri al-Maliki. Ketujuhnya adalah Organisasi Badr, Ashaib Ahlul Haq (Liga Kebenaran), Kataib Hizbullah, Kataib Sayyid asy-Syuhada, Harakat Hizbullah an-Nujaba, Kataib Al-Imam Ali, dan Kataib Jundul Imam.

Menurut mendiang Husyam al-Hasyimi, ahli ISIS asal Irak, terdapat dua jenis milisi Syiah tergabung dalam Al-Hasyd, yakni mereka loyal kepada Sistani dan yang setia serta disokong oleh Iran, termasuk Ashaib Ahlul Haq dan Kataib Hizbullah - keduanya diduga bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap Husyam pada 6 Juli lalu, seperti dilansir majalan Newlines.

Husyam - semasa hidupnya juga penasihat bagi pemerintah Irak, telah menyerukan kepada pemerintah untuk menerapkan Undang-undang Kontraterorisme Nomor 4 Tahun 2005 terhadap milisi-milisi terlibat dalam penyerangan terhadap kedutaan -kedutaan besar asing di Baghdad. Beleid ini awalnya ditujukan bagi para pemberontak Sunni.

Dia menjelaskan milisi-milisi Syiah muncul setelah tumbangnya rezim Saddam Husain sedikit demi sedikit telah sangat berkuasa atas presmi rekonstruksi dan rekonsiliasi setelah perang meletup di Irak sehabis invasi Amerika Serikat pada 2003.

Di satu sisi, milisi-milisi Syiah itu menjadi kompor bagi konflik sektarian, di abgian lain merupakan pengambilalihan negara dan bentuk kejhatan terorganisir, dan secara keseluruhan semacam hegemoni Iran di Irak.

Husyam menyebut kehadiran milisi-milisi Syiah itu telah membuat Irak menjadi seperti Libanon, kini negara gagal. Kebijakan luar negerinya pro-Barat dan Amerika namun Libanon dijalankan oleh agen-agen Teheran.

Kalau Libanon mempunyai satu Hizbullah (milisi Syiah dukungan Iran), sedangkan Irak memiliki lusinan Hizbullah. Mereka bukan sekadar boneka Iran tapi lebih dari itu. Milisi-milisi Syiah di Irak cukup mampu untuk bertindak apa yang semestinya harus mereka lalukan dari perspektif Iran.

Menurut koleganya, penelitian Husyam - berisi informasi dan analisa setebal lebih dari seratus halaman - untuk membantu Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kazhimi dalam membuat rencana untuk melemahkan milisi-milisi Syiah disebut oleh Husyam sebagai "walaiya", mereka loyal kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khaemeni ketimbang pimpinan Syiah di Irak.

Riset Husyam itu menggambarkan secara rinci tentang pos-pos pemeriksaan milisi-milisi Syiah di sepanjang jalan lintas provinsi dan jalan-jalan masuk di seanter Irak, termasuk baghdad, wilayah Kurdi dan Sunni di tengah dan utara Irak. Hasil kerja Husyam ini juga menjelaskan soal bagaimana milisi-milisi Syiah itu memperoleh fulus dan usaha mereka buat mendominasi hampir semua aspek kehidupan masyarakat dan individu di Irak.

Hingga tahun ini, Al-Hasyd memiliki 29 pos pemeriksaan di seantero Irak, termasuk Tikrit, Daquq, Fallujah, Ramadi, dan Samarra. Dari pos-pos pemeriksaan ini, Al-Hasyd meraup pendapatan US$ 75-900 juta saban tahun.

Dari semua provinsi, proyek Husyam paling banyak mendokumentasikan kegiatan milisi Syiah di Prvinsi Ninawa. Di provinsi inilah milisi-milisi Syiah paling aktif selain di basis mereka di selatan Irak lantaran untuk membebaskan Mosul dari cengkeraman ISIS.

Provinsi Ninawa juga menjadi salah satu wilayah terluas di Irak subur akan kaum militan karena ketiadaan kekuasaan dan tidak aman. Mereka berusaha mengubah demografi Ninawa tadinya mayoritas berpenduduk mayoritas Sunni menjadi dihuni sebagian besar orang Syiah.

Untuk tujuan itu, para anggota milisi Syiah diizinkan tinggal dan memiliki tanah dan usaha di Ninawa. Penduduk asli sudah lari mengungsi dilarang kembali.

Ninawa juga salah satu provinsi paling majemuk dalam hal etnis dan agama. Mengubahnya menjadi wilayah mayritas Syiah merupakan proyek terbesar kedua setelah Baghdad selama perang pada 2006-2007.

Husyam menemukan beberapa contoh orang-orang dituduh terlibat ISIS malah bekerja untuk milisi-milisi Syiah. "Bahkan Husyam menekankan wiulayah konsentrasi ISIS beradad di sebagian wilayah di mana milisi-milisi Syiah paling aktif beroperasi," tulis Newlines.

Al-Hasyd asy-Sya'bi kian berkuasa dan berpengaruh di Irak setelah Presiden Irak Fuad Maksum pada 19 Desember 2016 menandatangani undang-undang telah disahkan parlemen, menyatakan Al-Hasyd bagian dari angkatan bersenjata negara itu. Baru setahun kemudian, Al-Hasyd benar-benar terintegrasi ke dalam militer Irak sehabis ada seruan dari Ali Sistani.

Alhasil, Al-Hasyd asy-Sya'bi bisa menguasaisumber-sumber milik negara termasuk properti, kepemilikannya dipindahtangankan secara ilegal kepada pihak ketiga. Milisi-milisi Syiah mendapatkan akses kee darah-daerah telah dibebaskan dari ISIS sehingga keuntungan ekonomi ini membiayai operasional mereka.

Para pejabat korup bahkan memberikan istana-istana peninggalan mendiang Saddam Husain untuk dijadikan barak mereka, menyediakan barak bagi anggota-anggota miisi Syiah dari provinsi lain.

Husyam menjelaskan Abu Mahdi al-Muhandis, mantan pemimpin de facto Al-Hasyd asy-Sya'bi, adalah orang mempekerjakan atau memecat banyak pejabat di posisi-posisi kunci baik di pemerintah federal atau lokal.

Muhandis, berayah orang Irak dan beribu perempuan Iran, terlibat dalam serangan terhadap Kedutaan Prancis dan Amerika di Irak pada 1983. Dia tewas bareng komanda Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani akibat serangan pesawat nirawak Amerika di luar Bandar Udara Baghdad, awal Januari lalu.

Husyam menyebutkan milisi-milisi Syiah menguasai begitu banyak sumber ekonomi di Irak: mulai pajak bandar udara, proyek konstruksi, ladang-ladang minyak, limbah, air, jalan tol, perguruan tinggi, properti pemerintah dan swasta, tempat-tempat pelesiran, istana-istana presiden.

Milisi-milisi Syiah juga menerapkan pungutan liar terhadap restoran, kafe, truk kargo, nelayan, petani, kelurga pengungsi.

Husyam mencontohkan serang pejabat Irak terkait Al-Hasyd asy-Sya'bi pernah bertanggung jawab atas dana hibah dari luar negeri untuk membangun rumah sakit, jalan, jembatan, dan sekolah. Namun kesepakatan mengenai hibah itu tidak akanterwujud tanpa tanda tangannya.

Beberapa milisi Syiah meraup fulus lebih dari US$ 100 ribu saban hari dari satu pos pemeriksaan di jalan menghubungkan Baghdad dan provinsi-provinsi di selatan Irak lewat pungutan liar. Milisi-milisi Syiah juga membangun pos-pos pemeriksaan di jalan menghubungkan Baghdad dengan provinsi lainnya, juga pendapatan tiap pos pemeriksaan lebih dari US$ 100 ribu sehari.

Milisi Ashaib Ahlul Haq memperleh US$ 30 ribu per hari dari sebuah pos pemeriksaan mereka bangun di jalan antara utara Baghdad dan Salahuddin sejak 2016. Warga muslim Sunni mesti membayar US$ 10 tiap orang kalau mau menyeberang ke Baghdad dan US$ 100 bagi tiap truk.

Setelah berhasil membebaskan Mosul dan wilayah lain di Ninawa dari ISIS, milisi-milisi Syiah mendapat jatah lahan dari pemerintah. Desa-desa di pinggiran Mosul tadinya didomonasi penduduk Nasrani sebelum ISIS datang, diambil alih oleh faksi-faksi dalam Al-Hasy asy-Sya'bi. Mereka merampas tanah di Bartella, Hamdaniya, dan daerah lainnya, serta melarang pengungsi Kristen pulang ke kampung halaman mereka itu.

Milisi-milisi Syiah juga mengambil alih lebih dari 72 ladang minyak di Qayyarah, selatan Mosul, sebelumnya dicaplok ISIS. Mereka mengangkut sekitar seratus truk tangki minyak saban hari.

Al-Hasyd asy-Sya'bi memberlakukan uang keamanan US$ 1 ribu hingga US$ 3 ribu saban bulan kepada restoran-restoran besar. Pemilik menolak membayar maka restorannya akan diledakkan dan ISIS atau tentara Irak bakal dituduh sebagai pelaku.

Meski sudah tergabung dalam angkatan bersenjata Irak, Al-Hasyd asy-Sya'bi memiliki kamp pelatihan sendiri, berjumlah 21 dan paling banyak berada di Provinsi Diyala.

Seperti dalam bisnis, milisi-milisi Syiah di Irak sudah mirip konsorsium menguasai segala bidang.

Faisal Assegaf/Newlines

Jenazah Brigadir Jenderal Muhsin Fakhrizadeh Mahabadi, kepala program nuklir Iran dibunuh Mossad pada 27 November 2020. (Twitter)

Cara Mossad habisi Fakhrizadeh

Misi ini dilaksanakan oleh 62 orang, termasuk 12 eksekutor di lapangan. Tim ini sangat terlatih, mirip pasukan elite.

Puteri Haya binti Husain hadir dalam sidang kasus perceraiannya dengan Emir Dubai Syekh Muhammad bin Rasyid al-Maktum, berlangsung di sebuah pengadilan di Ibu Kota London, Inggris, 9 Oktober 2019. (Sky News)

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

Poster wakil pemimpin Al-Qaidah Abu Muhammad al-Masri. Dia ditembak mati pada Agustus 2020 di jalanan di Ibu Kota Teheran, Iran. (FBI)

Duka Al-Qaidah di negara Mullah

Dalam tiga bulan, Al-Qaidah kehilangan dua pemimpin mereka, Aiman Zawahiri dan wakilnya, Abu Muhammad al-Masri.

Sinagoge Jobar di Harit al-Yahud, Ibu Kota Damaskus, Suriah. (Christy Sherman)

Melawat ke kawasan Yahudi di Damaskus

Di awal abad ke-20, terdapat 12 yeshiva dan sepuluh sinagoge di Damaskus, paling tersohor adalah Sinagoge Pasar Jumat.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Cara Mossad habisi Fakhrizadeh

Misi ini dilaksanakan oleh 62 orang, termasuk 12 eksekutor di lapangan. Tim ini sangat terlatih, mirip pasukan elite.

30 November 2020

TERSOHOR