kisah

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

14 Oktober 2020 03:58

Tidak seperti dua negara tetangganya, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, Arab Saudi sampai saat ini memang belum sepakat buat menormalisasi hubungan dengan Israel. Tapi negara Kabah itu diam-diam sudah menjalin kontak, bertemu secara rahasia.

Pada pertengahan Februari 2019, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Ibu Kota Warsawa, Polandia, menghadiri pertemuan tingkat tinggi tidak lazim. Berkat bantuan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, pemimpin dari Partai Likud itu bisa mengadakan pertemuan dengan menteri luar negeri dari Arab Saudi, UEA, dan dua negara Arab Teluk lainnya. Keempat negara Arab supertajir ini tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel.

Agenda utama pembicaraan Netanyahu dengan keempat menteri luar negeri negara Arab teluk itu adalah bagaimana menghadapi perluasan pengaruh Iran di Timur Tengah. Tidak ada wakil dari Palestina hadir dalam pertemuan tertutup ini. Tapi keempat menteri Arab itu dibikin malu lantaran kantor Netanyahu membocorkan rekaman video pertemuan itu.

Pembicaraan di Warsawa tahun lalu ini membuktikan Israel kian diterima di kalangan negara-negara Arab superkaya di kawasan Teluk Persia, meski prospek penyelesaian masalah Palestina masih sangat kecil. Negara-negara Arab Teluk itu mau berbaikan dengan Israel demi menghadapi Iran dianggap musuh bersama dan terobosan diplomasi dilakoni Presiden Amerika Donald Trump.

Netanyahu dan Trump sudah berhasil menggaet UEA dan Bahrain meneken perjanjian buat membina hubungan diplomatik pada 15 September di gedung Putih, Ibu KOta Washington DC, Amerika. Tapi kedua pemimpin itu ngotot memburu Saudi.

Peluang itu ada karena pemimpin de facto Saudi, Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman terang-terangan tidak mendukung Palestina lagi. Dua tahun terakhir, Saudi menangkapi warga Palestina dan Yordania menetap di sana karena mendukung perjuangan Hamas. Saudi telah menetapkan Hamas dan kelompok Al-Ikhwan al-Muslimun sebagai organisasi teroris.

Pertemuan antara pejabat Saudi dengan petinggi Israel sejatinya tidak normal telah menjadi sebuah kelaziman. Bin Salman setidaknya dua kali menggelar pembicaraan dengan Netanyahu.

Menurut sumber Albalad.co dalam lingkungan istana, Bin Salman pada September 2017 - tiga tahun setelah diangkat sebagai putera mahkota - memimpin rombongan ke Ibu Kota Tel Aviv, Israel. Mereka bertemu sejumlah pejabat, termasuk Netanyahu.

Pertemuan kedua berlangsung pada Juni 2018 di istana raja Abdullah bin Husain di Ibu Kota Amman, Yordania.

Sila baca:

Anak Raja Salman temui Netanyahu bulan lalu

Anak Raja Salman bertemu Netanyahu di Amman

Mestinya ada pertemuan ketiga antara Bin Salman dan Netanyahu, dijadwalkan awal September lalu di Washington DC.

Sila baca:

Bin Salman batalkan rencana pertemuan dengan Netanyahu di Washington DC

Bintang Daud dalam dekapan Bin Salman

Diplomasi rahasia antara Israel dan negara-negara Arab pro-Barat terus meningkat, termasuk dengan Arab Saudi. Pertengahan September 2006, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert melawat ke Ibu Kota Amman buat bertemu Pangeran Bandar bin Sultan, mantan Duta Besar Saudi untuk Amerika dan bekas penasihat keamanan nasional di era Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Pulang ke Riyadh, para petinggi negeri Dua Kota Suci itu murka lantaran Israel membocorkan pertemuan rahasia itu.

Masih di 2006, Pangeran Bandar kembali bertemu pejabat tinggi Israel. Kali ini dengan Direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) Meir Dagan dan kepala badan intelijen Yordania di Aqabah. Pembicaraan ketiga tokoh ini sial bagaimana memabngun kerjasama dan saling bertukar informasi intelijen mengenai ancaman Iran.

Saudi juga menutup mata terhadap jet-jet tempur Israel terbang melintasi wilayah udaranya untuk menyerang fasilitas-fasilitas nuklir Iran.

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

Apalagi prospek ekonominya sangat menjanjikan. Menurut sebuah riset dibikin oleh Tony Blair Institute Global Change pada 2018, nilai perdagangan antara Israel dan negara-negara Arab teluk berkisar US$ 1 miliar saban tahun. Angka ini berpotensi melonjak sampai US$ 25 miliar tiap tahun kalau melibatkan sektor teknologi, keamanan siber, irigasi, peralatan medis, dan industri berlian.

Mirip UEA, Saudi juga diam-diam bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan Israel, khususnya di bidang keamanan. Satu perusahaan Israel menjadi subkontraktor dari EADS, perusahaan raksasa asal Eropa, dibayar untuk membangun tembok perbatasan dengan Irak pada 2014.

Pada 2012, ketika sistem komputer Saudi Aramco dibobol, pemerintah Saudi memanggil perusahaan Israel untuk mengatasi kejadian itu.

Israel dikabarkan menjual pesawat-pesawat nirawak kepada Saudi lewat Afrika Selatan. Namun Tel Aviv membantah menjual sistem pertahanan antipeluru kendali Kubah Besi kepada Saudi buat menghadapi serangan dari milisi Al-Hutiyun di Yaman.

Seorang juru bicara tiak resmi Saudi membenarkan kerjasama negaranya dengan israel hanya untuk menghadapi Iran dan kontra terorisme. Di akhir 2017, pejabat militer Israel secara terbuka menawarkan pertukaran informasi intelijen dengan Saudi mengenai Iran.

Lagi-lagi Pangeran Bandar. Pada 2013, dia mengadakan jamuan malam dengan bos Mossad Tamir Pardo di sebuah hotel di kawasan Knightsbridge, London. "Sebuah cara makan malam panjang dan memabukkan," ujar seorang pejabat senior Inggris.

Setelah Raja Salman bin Abdul Aziz naikh takhta pada 2015 dan Bin Salman menjadi putera mahkota, hubungan dengan Israel kian mesra. Pada 2016, Israel memberikan lampu hijau kepada Mesir untuk menyerahkan kepada Saudi dua pulau tidak berpenghuni di Laut Merah, yakni Tiran dan Sanafir.

Pelobi Saudi, Salman Ansari, menyeruka kerjasama dengan Israel untuk menyukseskan Visi 2030 digagas oleh Bin Salman untuk reformasi dan diversifikasi ekonomi. "Kedua negara menghadapi ancaman konstan dari kelompok-kelompok ekstremis didukung oleh pemerintah Iran," katanya beralasan.

Proyek Neom, kota raksasa impian Bin Salman, berlokasi dekat dengan perbatasan Yordania, Mesir, dan Israel, juga menarik minat para investor asal Israel.

Keinginan berbaikan dengan Israel terlihat saat Bin Salman melawat ke Amerika selama tiga pekan pada 2018. Dia bilang kepada the Atlantic, Palestina harus menerima priposal damai versi Trump atau berhenti mengeluh.

Posisi sejati Saudi dalam konflik Palestina-Israel akhirnya terkuak lewat wawancara khusus Pangeran Bandar bin Sultan dengan stasiun televisi Al-Arabiya, disiarkan selama Senin-Rabu pekan lalu. Dia menekankan kepemimpinan Palestina telah gagal memperjuangkan nasib bangsanya.

Pangeran Bandar juga mengecam para pejabat Palestina lantaran mengutuk kesepakatan damai UEA dan Bahrain dengan Israel. Dia bilang pemimpin Palestina tidak bisa dipercaya.

Tentu Pangeran Bandar tidak mungkin berbicara seperti itu kalau tidak ada izin dari Raja Salman atau Bin Salman. Memang bukan hal aneh melihat pernyataan-pernyataan Pangeran Bandar karena dia kerap bertemu para pejabat Israel.

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman enggan dukung usulan Netanyahu soal serang Iran

Pompeo juga tidak antusias menanggapi ide Netanyahu itu.

Mahyor Jenderal Abdul Aziz Badah al-Fagham, pengawal prubadi Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Courtesy: Bandar al-Galud)

Netanyahu dan Bin Salman sepakat Raja Salman penghalang normalisasi hubungan Saudi-Israel

Kerjasama Saudi-Israel untuk menghadapi Iran dan di bidang perdagangan bakal meningkat.

Jet pribadi mengangkut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) Yossi Cohen terbang ke Kota Neom, Arab Saudi, untuk mengadakan pertemuan dengan Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman pada 22 November 2020. (Twitter)

Netanyahu terbang ke Arab Saudi temui Bin Salman

Pertemuan kemarin menjadi yang ketiga antara Bin Salman dan Netanyahu setelah 2017 dan 2018. 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman: Saya bisa dibunuh kalau berbaikan dengan Israel

Ketakutan itu dia sampaikan kepada Haim Saban, konglomerat Yahudi berkewarganegaraan Israel dan Amerika, ketika keduanya bertemu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Cara Mossad habisi Fakhrizadeh

Misi ini dilaksanakan oleh 62 orang, termasuk 12 eksekutor di lapangan. Tim ini sangat terlatih, mirip pasukan elite.

30 November 2020

TERSOHOR