kisah

Diplomat rahasia Israel di Arab Teluk

Ada yang sampai melahirkan bayi lelaki di UEA.

18 Desember 2020 23:55

Mereka sudah berada di kawasan Arab Teluk sejak 1990-an. Di wilayah ini terdapat enam negara Arab supertajir, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

Jumlah diplomat Israel lelaki dan perempuan ditempatkan di kawasan itu sekitar 20-an orang. Mereka bekerja diam-diam untuk negara Zionis itu. Sebagian besar menyamar sebagai pengusaha dan wara wiri di beragam kota di Arab Teluk.

Merekalah yang berjasa hingga satu-satu negara Arab Teluk itu jatuh ke dalam pelukan Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu seolah tidak peduli kontribusi para diplomat bekerja secara rahasia di sana. Namun Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi Kamis pekan lalu memberikan penghargaan kepada mereka.

Bahkan seorang diplomat Israel beberapa tahun lalu melahirkan bayi lelakinya di UEA. Dia mungkin warga Israel pertama dilahirkan di negara itu. "Meski kami dibayar dengan gaji tidak terlalu tinggi, tapi melihat hasil kerja kami sekarang, kami merasa bangga," katanya kepada surat kabar Yediot Ahronot.

Diplomat perempuan ini bertugas di kawasan Arab Teluk dua kali, pada 2007-2009 dan 2012-2014.

"Perdamaian terwujud saat ini dibangun atas hubungan pribadi kami jalani bertahun-tahun," ujar seorang diplomat Israel tidak disebutkan namanya, dalam keterangan tertulis diterima the Times of Israel.

Kementerian Luar Negeri Israel memang menutup rapat-rapat identitas mereka demi masalah keamanan. Kisah rahasia mereka selama ditempatkan di Arab Teluk tidak boleh beredar di media. Karena itu semua permohonan wawancara ditolak.

Ashkenazi berharap tidak lama lagi pengalaman para diplomat rahasia Israel ini bisa diungkap ke publik untuk memberitahu betapa penting peran dan tugas mereka waktu itu. "Anda semua adalah pelopor diplomasi Israel," tuturnya.

Seorang diplomat lainnya mengakui saat ini sulit membayangkan apa yang mereka lakukan di Arab Teluk waktu itu. "Itu adalah misi paling menarik pernah ditawarkan Kemengterian Luar Negeri," sambung diplomat Israel satunya lagi.

Diplomat perempuan lainnya mengaku menemukan cintanya ketika ditempatkan di Arab Teluk. "Di tempat paling tidak disukai, di mana Anda bisa menghitung jumlah orang Israel dengan satu tangan, kami bertemu," kenangnya. "Di sanalah keluarga kami terbentuk."

Sekitar seperempat abad para diplomat Israel itu bekerja diam-diam untuk merekatkan hubungan negara mereka dengan negara-negara Arab Teluk itu. Hasilnya terlihat sejak Agustus lalu, sudah empat negara Arab sepakat membina hubungan diplomatik dengan Israel. Dimulai oleh UEA kemudian diikuti Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Muhammad Saud, wartawan asal Arab Saudi, berpose di gedung Knesset (parlemen Israel) di Yerusalem. (Screengrab)

Netanyahu telepon penggemarnya di Arab Saudi

Muhammad Saud menjadi satu-satunya warga Saudi secara terbuka lewat Twitter menyatakan menyukai Netanyahu dan Israel. Dia mengunjungi Israel pada 2019 bareng lima wartawan dari dua negara Arab lainnya.

Pesawat Airbus A220 milik EgyptAir, maskapai kepunyaan pemerintah Mesir. (Airbus.com)

Mesir berencana buka penerbangan langsung ke Tel Aviv

Selama beberapa dasawarsa terakhir, rute ke Israel dioperasikan oleh Air Sinai dengan syarat tidak boleh ada bendera Mesir di tubuh pesawat. 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Keluarga kerajaan Saudi berharap Netanyahu terpilih lagi

Netanyahu mengunjungi Saudi untuk pertama kali pada November tahun lalu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Al-Arabiya)

Tiga isyarat Biden agar Bin Salman lakukan kudeta

Kalau mau dianggap selevel dengan Biden, dia mesti buru-buru naik takhta dan tentu harus menyingkirkan ayahnya dari singgasana.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Tiga isyarat Biden agar Bin Salman lakukan kudeta

Kalau mau dianggap selevel dengan Biden, dia mesti buru-buru naik takhta dan tentu harus menyingkirkan ayahnya dari singgasana.

03 Maret 2021

TERSOHOR