kisah

Benci Khamenei, muak Mullah

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim.

17 Januari 2020 09:30

Pengakuan itu seolah bensin membakar bara. Setelah Presiden Iran Hasan Rouhani dan panglima Korps Garda Revolusi Iran bilang pesawat Ukraine International Airlines jatuh karena tidak sengaja ditembak peluru kendali, unjuk rasa kembali meletup. Apalagi dari 176 orang tewas dalam pesawat itu, paling banyak warga Iran, yakni 82 penumpang.

Rouhani bahkan sampai menyebut kesalahan tidak sengaja itu tidak dapat dimaafkan. Dia  menekankan pihak-pihak bertanggung jawab akan diadili dan mendapat hukum setimpal. 

Demonstrasi sporadis meletup di sejumlah kota, termasuk Ibu Kota Teheran. Slogan mereka serempak: "Mati Khamenei" dan "Mundurlah Khamenei."

Kebencian terhadap rezim Mullah - telah berumur empat dasawarsa - itu sudah ditunjukkan sebagian rakyat Iran November tahun lalu. Protes terjadi di 170 kota menuntut penguasa dan sistem diganti karena gagal menyejahterakan rakyat, meski penderitaan ini tidak sepenuhnya kesalahan rezim. Sanksi ekonomi dari Barat karena mencurigai Iran memprduksi senjata nuklir juga berkontribusi atas kesulitan ekonomi di negara Persia itu.

Para pengunjuk rasa mengutuk penguasa menghamburkan fulus demi mendanai banyak milisi di Palestina, Libanon, Suriah, dan Yaman, demi menancapkan pengaruh Iran di Timur Tengah ketimbang untuk membangun negara. 

Pasukan keamanan Iran, termasuk milisi Basij, bertindak keras dan mendapat restu dari pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei. Ratusan orang tewas dan ribuan demonstran luka. Sumber-sumber antipemerintah bahkan menyebut korban terbunuh mencapai 1.500.

Khamenei menegaskan unjuk rasa itu didalangi pihak asing. Amerika Serikat dan Israel adalah dua negara erap membikin gaduh Iran.

Ketegangan Iran dan Amerika pun tengah meningkat drastis sehabis pesawat nirawak Amerika menewaskan komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di sekitar Bandar Udara baghdad, Irak, 3 Januari lalu. Dia adalah orang kesayangan Khamenei dan Sulaimani hanya mendengar perintah dari dia.

Presiden Amerika Donald Trump mendukung gelombang protes kecil-kecilan sedang meletup di Iran sekarang. "Jangan bunuh pengunjuk rasa," kata Trump memberi peringatan.

Rekaman-rekaman video beredar di media sosial memperlihatkan warga Iran merobek sekaligus menurunkan poster Khamenei dan Sulaimani, dipuja sebagai pahlawan dan salat jenazahnya dihadiri jutaan orang: mulai dari Baghdad, Karbala, dan Najaf di Irak, hingga Ahvaz, Masyhad, Teheran, dan kampung halamannya, Kerman, di Iran.

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim. Seperti terlihat di sebuah masjid di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran. Di luar pintu masuk masjid itu terdapat bendera Amerika dan Israel untuk dijadikan keset. Tapi hanya sepasang sepatu ratusan pasang diletakkan di atas simbol kedua negara itu.

Di sebuah tangga di halaman kampus Universitas Kurdistan, penguasa menggambar bendera Israel dan Amerika di anak tangga itu. Namun tidak seorang pun mahasiswa mau berjalan melewati tangga itu. Mereka memilih melangkah di atas rumput.

Umur Republik Islam Iran, dibuat oleh mendiang Ayatullah Khomeini, baru empat dasawarsa, dua tahun lebih tua ketimbang rezim Syah Reza Pahlevi digulingkan pada Februari 1979, tapi sebagian rakyatnya sudah benci Khamenei dan muak terhadap rezim Mullah.

Tinggal keseriusan sokongan Barat, terutama Amerika, untuk meletupkan kembali Revolusi Iran jilid kedua.

Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Isa, ulama asal Arab Saudi sekaligus Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim, memimpin salat dan doa bagi arwah kaum Yahudi dibantai pasukan Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua saat melawat ke Kamp Auschwitz di Polandia, 23 Januari 2020. (Twitter)

Malu-malu terhadap Israel, buka diri kepada Yahudi

Fenomena teranyar, Imam Masjid Al-Haram Syekh Abdurrahman as-Sudais dalam khotbah di Jumat perdana bulan ini memberi isyarat merestui Saudi berbaikan dengan Israel.

Pendiri sekaligus Chairman Al-Habtoor Group, Khalaf Ahmad al-Habtur. (habtoor.com)

Denyut bisnis UEA-Israel

Para investor Israel bakal lebih mempertimbangkan untuk membeli properti di UEA ketimbang London atau New York, terutama karena faktor kedekatan wilayah.

Kereta cepat Haramain menghubungkan Makkah dan Madinah di Arab Saudi beroperasi mulai 24 September 2018. (Saudi Gazette)

Suap proyek kereta dua kota suci

Eks Raja Spanyol Juan Carlos menerima uang suap US$ 100 juta dari mendiang Raja Abdullah terkait proyek kereta cepat Makkah-Madinah.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz tiba di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, 1 Maret 2017. Dia bersama rombongan berjumlah 1.500 orang akan berada di Indonesia selama 1-12 Maret. (Dokumentasi Albalad.co)

Tawa Israel air mata Palestina

Usai penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dengan UEA dan Bahrain, Trump bilang ada 7-9 negara lagi siap berdamai. Arab Saudi, Oman, dan Sudan masuk dalam antrean.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Malu-malu terhadap Israel, buka diri kepada Yahudi

Fenomena teranyar, Imam Masjid Al-Haram Syekh Abdurrahman as-Sudais dalam khotbah di Jumat perdana bulan ini memberi isyarat merestui Saudi berbaikan dengan Israel.

25 September 2020
Denyut bisnis UEA-Israel
21 September 2020

TERSOHOR