kisah

Kokohnya hubungan diplomatik Turki-Israel

Para anggota Mossad bebas keluar masuk Turki dengan peralatan kerja mereka tanpa pemeriksaan keamanan dan paspor di perbatasan. 

04 Januari 2021 21:14

Turki menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim pertama mengakui berdirinya Israel sekaligus membina hubungan diplomatik dengan negara Zionis itu. Turki mengakui eksistensi Israel pada 1949, setahun setelah negara Bintang Daud itu dibentuk, dan membuka kedutaannya di Ibu Kota Tel Aviv pada 7 Januari 1950. Kepala perwakilan pertama Turki untuk Israel adalah Seyfullah Esin.

Laiknya sebuah relasi, kemesraan dan ketegangan bergantian muncul. Setelah terjadi Krisis Suez pada 1956, Turki menarik kepala perwakilannya dan hanya menempatkan kuasa usaha di Tel Aviv, seperti dilansir dari Jewish Virtual Library.

Dua tahun kemudian, Perdana Menteri Israel David Ben Gurion dan Perdana Menteri Turki Adnan Menderes bertemu secara rahasia membahas sejumlah isu, termasuk tukar menukar informasi intelijen dan dukungan militer. Pertemuan diam-diam ini berujung pada dinaikkannya kembali hubungan kedua negara ke level kedutaan.

Sejak itu pula kerjasama intelijen kedua negara berlangsung dan mencapai puncaknya di awal 1990-an, ketika badan intelijen Turki (MIT) dan Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) menandatangani perjanjian. 

Berdasarkan kesepakatan ini, Mossad menggunakan Turki sebagai wilayah penyangga untuk memastikan agen-agennya selamat dan aman sepulang dalam menjalankan misi di negara sasaran. Para anggota Mossad juga bebas keluar masuk Turki dengan peralatan kerja mereka tanpa pemeriksaan keamanan dan paspor di perbatasan. 

Pada 1967, Turki bergabung dengan negara-negara Arab mengecam Israel setelah berakhirnya Perang Enam Hari 1967. Turki ikut mendesak Israel segera mundur dari wilayah Palestina mereka kuasai sehabis perang itu, yakni Jalur Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

Tapi Turki abstain dalam pemungutan suara terhadap resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut Israel sebagai negara agresor. Pada pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Ibu Kota Rabat, Maroko, Turki menolak resolusi menyerukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel.

Hubungan Turki dengan Israel kembali naik ke tingkat kedutaan besar pada 1980. Di Maret 1992, relasi kedua negara naik ke level duta besar dan duta besar Turki menyerahkan surat tugasnya kepada Presiden Israel Chaim Herzog di Ibu Kota Tel Aviv.

Sedangkan israel tetap mempertahankan dua kantor perwakilan diplomatiknya di Turki, yaitu kedutaan besar di Ibu Kota Ankara dan konsulat jenderal di Kota Istanbul.

Pada 2005, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan melawat ke Israel dan bertemu Perdana Menteri Ariel Sharon serta Presiden Moshe Katsav. Di negara Zionis itu, Erdogan meletakkan karangan bunga di Yad Vashem (Museum Peringatan Holocaust). Dia juga bilang kepada Sharon, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dia pimpin menyatakan sikap anti-Yahudi merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Di awal 2006, Kementerian Luar Negeri Israel menyebut relasi Israel-Turki dalam keadaan sempurna. Dalam kunjungannya ke Turki pada November 2007, Presiden Israel Shimon Peres bertemu Presiden Turki Abdullah Gul. Dia juga berpidato di parlemen Turki.

Hubungan Turki-Israel tegang lagi setelah Perang Gaza Desember 2008-Januari 2009. Di Forum Ekonomi Dunia di Davod, Swiss, awal 2009, Erdogan mengkritik keras kebiadaban Israel terhadap Gaza di depan Presiden Shimon Peres. "Sangat sedih melihat orang-orang bertepuk tangan kepada Anda (Peres) padah Anda telah membunuh banyak orang (rakyat Gaza)," kata Erdogan.

Pada 2010, Turki dan Israel saling menarik duta besarnya setelah pasukan elite Israel menyerbu kapal Mavi Marmara - tengah berlayar untuk misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Insiden ini menewaskan sembilan aktivis kemanusiaan.

Hubungan Turki-Israel balik menjadi mesra lagi dan menempatkan kembali duta besarnya masing-masing di Ibu Kota Ankara dan Tel Aviv pada 2016, setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada keluarga sembilan aktivis meninggal.

Perseteruan meletup kembali setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump di awal Desember 2017 mengajui Yerusalem ibu kota Israel, diikuti dengan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Turki dan Israel lagi-lagi menarik duta besarnya pada 2018.

Bulan lalu, Turki menunjuk duta besar barunya untuk Israel. Erdogan secara terbuka mengumumkan ingin hubungan kedua negara lebih baik lagi.

Sila baca:

Turki tunjuk duta besar baru buat Israel

Erdogan: Kami ingin hubungan lebih baik dengan Israel

 

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Al-Arabiya)

Tiga isyarat Biden agar Bin Salman lakukan kudeta

Kalau mau dianggap selevel dengan Biden, dia mesti buru-buru naik takhta dan tentu harus menyingkirkan ayahnya dari singgasana.

Syekha Latifah dan sahabatnya, Tiina Jauhiainen saat dalam pelarian pada 2018. (Detained in Dubai buat Albalad.co)

Duka Syekha Latifah noda emir

Ketika Syekh Muhammad bin Rasyid mengirim astronot dan pesawat ruang angkasa ke Mars, di sisi lain dia malah mengirim putrinya sendiri ke penjara.

Muhsin Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir Iran dibunuh pada 27 November 2020 di Absar, kota kecil berjarak sekitar 40 kilometer sebelah timur Ibu Kota Teheran, Iran. (Courtesy)

Satu ton senjata Mossad dan ajal Fakhrizadeh

Fakhrizadeh tewas diterjang 13 peluru di kepala. Sedangkan istri dan 12 pengawalnya tidak cedera dalam serangan menggunakan sebuah senjata otomatis superakurat dikendalikan dari jarak jauh.

Rombongan tokoh Kristen Evangelis asal Amerika Serikat dipimpin oleh Joel Rosenberg bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, Oktober 2018. (Twitter/@JoelCRosenberg)

Gereja perdana di negara Kabah

"Tidak ada satu gereja pun di sini," kata seorang penganut Nasrani telah menetap di Saudi selama usia dewasa.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Tiga isyarat Biden agar Bin Salman lakukan kudeta

Kalau mau dianggap selevel dengan Biden, dia mesti buru-buru naik takhta dan tentu harus menyingkirkan ayahnya dari singgasana.

03 Maret 2021

TERSOHOR