kisah

Mossad dan pengkhianatan di negara Mullah

Mantan Direktur Mossad Yossi Cohen untuk pertama kali bercerita bagaimana para agennya berhasil mencuri berton-ton dokumen nuklir Iran dari gudang penyimpanan di Teheran.

14 Juni 2021 13:04

Satu dasawarsa terakhir menjadi penanda jebolnya sistem intelijen dan keamanan Iran: ilmuwan dibunuh, fasilitas nuklir disabotase, dan dokumen rahaisa program dicuri. Teheran tegas menuding Israel dalang dari semua itu.

Sila baca: Lika-liku Mossad di Teheran

Pengakuan terang-terangan tentang keterlibatan negara Zionis itu dilontarkan oleh mantan Direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) Yossi Cohen, baru pensiun 1 Juni lalu, dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Channel 12 Kamis pekan lalu. Dia bercerita soal bagaimana para agennya mencuri berton-ton dokumen rahasia program nuklir Iran pada hari terakhir di Januari 2018.

Cohen duduk dalam pusat kendali di markas Mossad di Ibu Kota Tel Aviv, dengan semangat menunggu laporan dari tim di lapangan. Waktu itu, pasukan Mossad terdiri dari sekitar 20 agen bersiap menembus kompleks penyimpanan arsip rahasia itu di Shorabad, pinggiran selatan Ibu Kota Teheran.

Ini kali pertama Cohen menjelaskan secara rinci mengenai operasi berbahaya sekaligus bergengsi itu.

Pada suatu malam di 2016, tim Mossad di Teheran memperoleh lokasi dan detail bangunan penyimpanan arsip program nuklir Iran. Tidak ada satu pun orang Israel dalam tim itu.

Kemudian dibuatlah maket sesuai peta bangunan tempat penyimpanan dokumen rahasia itu. Pasukan Mossad berlatih menggunakan maket mereka buat tentang bagaimana cara menerobos ke dalam, membobol kontainer penyimpanan arsip, hingga keluar tanpa ketahuan.

"Kami memahami betul seluk beluk bagian dalam bangunan itu dan di mana kontainer arsip berada," kata Cohen.

Setelah benar-benar merasa siap, akhirnya tim Mossad ini menentukan Rabu, 31 Januari 2018, jam sepuluh malam, operasi pencurian berisiko tinggi itu bakal dilakoni. Misi ini harus rampung paling telat pukul lima subuh.

"Kami memiliki waktu tujuh jam buat menyelesaikan operasi," ujar Cohen. Sebab paginya, truk, penjaga, dan pekerja berseliweran."

Namun beberapa saat sebelum misi dijalankan, Cohen mendapat laporan ada perkembangan baru bisa saja menggagalkan keluruhan operasi. Tapi Cohen mantap dan memutuskan misi tidak boleh dibatalkan.

Dari pusat komando di markas Mossad, Cohen melihat dan mendengar secara langsung pelaksanaan misi pencurian itu. Sekitar 20 agen ini bekerja bekejaran dengan waktu. Mereka segera menyalin dan memotret semua dokumen.

Cohn baru menelepon Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah semua agen meninggalkan gudang penyimpanan arsip program nuklir Iran itu. "Saya memberitahu dia bagian pertama dari operasi sudah selesai, sekarang kami akan membawa pulang dokumen-dokumen itu," tuturnya.

Para agen Mossad ini mengirim semua dokumen secara digital ketika mereka dalam perjalanan buat kabur dari Iran. Seluruhnya berhasil terkirim ke markas Mossad namun butuh waktu bagi mereka untuk melintasi perbatasan.

"Mereka semua dalam keadaan sehata sekarang dan semuanya masih hidup," kata Cohen. Dia menambahkan beberapa agen terlibat dalam misi rahasia itu terpaksa harus dievakuasi dari Iran karena nyawa mereka terancam.

Tiga bulan berselang, pada 20 April 2018, Netanyahu menggelar jumpa pers menunjukkan hasil kerja Mossad itu. Dia memperlihatkan kepada seluruh dunia seratus kepingan cakram mengandung puluhan ribu file rahasia dan lusinan bundel dokumen berisi program nuklir rahasia Iran.

PM-Netanyahu-640x400

Chen tidak mengetahui ide siapa sehingga Netanyahu mengumumkan prestasi Mossad itu. Menurut Cohen, semua pejabat tinggi di Mossad dan kabinet keamanan menolak jika keberhasilan Mossad mencuri dokumen rahasia program nuklir Iran dilansir ke publik.

Meski begitu, Cohen membela bosnya itu. Dia bilang apa yang disampaikan Netanyahu adalah informasi intelijen dan bukan bagaimana misi pencurian itu dilakukan.

Bahkan pengumuman Netanyahu ini memberi tiga pesan mesti disadari rezim Mullah di Iran. "Pertama, kalian itu rapuh. Kedua, kami bisa melihat kalian. Ketiga, waktu untuk bersembunyi dan berbohong sudah habis," ujar Cohen.

Dia juga mengisyaratkan Mossad terlibat dalam dua ledaan terjadi di fasilitas nuklir penting Iran di natanz, yakni pada Juli 2020 dan April tahun ini. "Cellellar itu sekarang tidak bisa lagi digunakan," tutur Cohen.

Cellar merujuk pada ruang bawah tanah dalam reaktor nuklir Natanz tempat ribuan sentrifugal berputar.

Berkaitan pembunuhan terhadap kepala program nuklir Iran Muhsin Fakhrizadeh pada November tahun lalu, Mossad juga terlibat. Menurut Cohen, pihaknya memang menawarkan kepada para ahli nuklir negeri Persia itu untuk meninggalkan proyek ini. "Kalau mereka ingin mengubah karier dan tidak menyakiti kami lagi, kami memmang memberi penawaran semacam itu," tuturnya. "Jika mereka menolak, mereka tahu apa yang akan terjadi."

Sila baca: 

Cara Mossad habisi Fakhrizadeh

Satu ton senjata Mossad dan ajal Fakhrizadeh

Mantan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, gagal dalam pencalonan untuk pemilihan presiden pada 18 Juni mendatang, Jumat pekan lalu mengungkapkan telah terjadi pengkhianatan dilakukan oleh pejabat tertinggi di dalam badan intelijen negaranya. Pengkhianat itu adalah orang bertanggung jawab untuk menghadapi mata-mata Israel di Iran.

Tapi Ahmadinejad menolak memberi tahu nama pejabat dimaksud dan kapan dia menjabat. Secara implisit, dia mengakui Mossad terlibat dalam dua serangan terhadap reaktor nuklir Natanz dan pembunuhan Fakhrizadeh.

Dia menekankan pejabat bekerjasama dengan Israel itu tidak bekerja sendirian. "Sebuah geng korup dalam level tinggi di badan intelijen Iran harus menngungkap perannya pada pembunuhan ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran dan dua ledakan di pusat pengayaan uranium Natanz.

Ahmadinejad menambahkan para pengkhianat negara Mullah itu juga bekerjasama dalam pencurian dokumen-dokumen rahasia program nuklir. "Ada beberapa minibus membawa arsip-arsip sangat penting itu. Bagaimana mungkin sejumlah van mengangkut dokumen rahasia nuklir Iran bisa keluar dari semua perlintasan di negara ini," kata Ahmadinejad

Dia membongkar pula tentang pencurian dokumen rahasia dalam kotak penyimpanan milik kepala Badan Ruang Angkasa Iran. "Para agen itu melubangi atap bangunan kemudian masuk ke dalam, membuka kotak penyimpanan dan mengambil semua dokumennya," ujar Ahmadinejad.

Dia mengkritik pemerintah Iran tidak serius mengusut tuntas para pengkhianat membocorkan lokasi penyimpanan dokumen-dokumen rahasia negara itu.

Gegara pengkhianatan dalam rezim itulah, Mossad leluasa beroperasi di negara Mullah itu.

Ron Arad, pilot pesawat tempur Israel hilang dalam misi di Libanon pada 1986. (Israel Air Force)

Menculik jenderal Iran mencari tahu jenazah pilot Israel

Mossad mengirim dua tim: mengambil sampel DNA satu mayat di Libanon dan menculik seorang jenderal Iran di Suriah.

Kiri ke kanan: mantan Direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel), bos baru Mossad David Barnea, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam acara pelantikan Barnea pada 1 Juni 2021. (Koby Gideon/GPO)

Bos baru Mossad akan lanjutkan misi bunuh ilmuwan dan serang fasilitas nuklir Iran

"Ancaman terbesar terhadap kami adalah ancaman nyata dari upaya Iran untuk mempersenjatai dirinya dengan senjata nuklir," ujar Netanyahu. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Direktur Mossad Yossi Cohen. (Chaim Tzach/GPO)

Biden bertemu direktur Mossad di Washington DC

Pertemuan itu dirahasiakan dan Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan.

Jenazah Brigadir Jenderal Muhsin Fakhrizadeh Mahabadi, kepala program nuklir Iran dibunuh Mossad pada 27 November 2020. (Twitter)

Iran akui Israel telah mencuri dokumen rahasia nuklir mereka

Pencurian itu dilakukan oleh Mossad pada 2018.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Provokasi Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Bukan sekadar berdoa, pengajian soal Torah juga sering digelar kaum Yahudi di areal Al-Aqsa.

13 Oktober 2021
Korupnya rezim Abbas
22 September 2021

TERSOHOR