kisah

Lobi rahasia Kalla gaet Taliban

Semua lobi dilakukan Jusuf Kalla untuk menggaet Taliban atas perintah dan sepengetahuan Presiden Joko Widodo.

13 September 2021 13:50

Semua bermula dari kunjungan kenegaraan Presiden Afghanistan Asyraf Ghani ke Jakarta di awal April 2017. Kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), Ghani meminta bantuan Indonesia untuk membujuk Taliban agar mau berunding.

"Pak Jokowi kemudian memerintahkan kepada Wakil Presiden Pak Jusuf Kalla (JK) untuk mulai mendekati Taliban," kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Qatar Muhammad Basri Sidehabi saat ditemui Albalad.co di sebuah restoran di kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu pekan lalu. "Karena Pak JK sudah berpengalaman menangani konflik."

Kemudian, mulai Mei 2017, Kalla melalui staf ahlinya, Iskandar Manji, meminta Sidehabi merupakan salah satu orang kepercayaannya dan waktu itu menjadi Duta Besar untuk Qatar, untuk mulai mencari kantor Biro Politik Taliban, beroperasi di Ibu Kota Doha sejak 2013.

Dari koleganya di Jerman, Sidehabi mendapatkan nomor telepon seluler juru bicara Taliban Muhammad Suhail Syahin. Tapi ketika dihubungi, Syahin berpura-pura tidak mampu berbahasa Inggris dan hanya mau berbicara dalam bahasa Arab atau Pastun. Sidehabi lalu meminta stafnya, Muhammad Hakim, untuk menghubungi Syahin dan akhirnya percakapan dimulai. Keduanya langsung akrab lantaran sama-sama lulusan Yaman.

Dari situlah, relasi mulai dibangun antara Sidehabi dengan para petinggi Taliban. Saat itu, Kepala Biro Politik Taliban adalah Sher Muhammad Abbas Stanikzai. Sedangkan Mullah Abdul Ghani Baradar masih ditahan di Pakistan sedari 2010. Dia baru dibebaskan pada 2018 dan langsung ditugaskan ke Qatar oleh Emir Taliban Mullah Hibatullah Akhundzadah menggantikan Stanikzai.

Pertemuan pertama Sidehabi dengan sejumlah petinggi Taliban terjadi secara rahasia pada Juni 2017 di Hotel Holiday Inn, Doha. Di perjumpaan perdana itulah, Sidehabi menyampaikan keinginan pemerintah Indonesia untuk ikut membantu proses perdamaian di Afghanistan.

Taliban menyambut baik keinginan Indonesia ini dan mereka ingin belajar Islam moderat dari Indonesia. Apalagi Nahdahtul Ulama sudah memiliki cabng di Afghanistan untuk menyebarkan Islam moderat itu.

Sejak itu, Sidehabi rutin mengundang petinggi Taliban untuk mengadakan pertemuan di tempat netral, biasanya hotel, untuk membahas perkembangan konflik di Afghanistan.

Sampai akhirnya pada September 2017, delegasi pertama Taliban diam-diam datang ke Jakarta untuk bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di rumah dinasnya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Rombongan petinggi Taliban ini terdiri dari delapan orang, yakni Abdussalam Hanafi (sekarang menjabat Wakil Perdana Menteri Afghanistan), Mullah Khairullah Khairuhuh (Menteri Informasi dan Kebudayaan), Qari Din Muhammad Hanif (Menteri Ekonomi), dan Sher Muhammad Abbas Stanikzai (Wakil Menteri Luar Negeri), Dr. Mazrgul Saleh, Mullah Abdul Haq Wasiq (kepala badan intelijen), Mullah Nurullah Nuri (Menteri Perbatasan dan Kesukuan), Mullah Muhammad Fazil Mazlum (Wakil Menteri Pertahanan), Mullah Khairullah Said Wali Khairuhuh (mantan Gubernur Herat), dan Maulawi Muhammad Nabi Umari (eks Menteri Komunikasi).

Lawatan berlanjut dua kali di 2018 dan baru pada Juli 2019 rombongan lebih besar dipimpin Kepala Biro Politik Mullah Abdul Ghani Baradar datang lagi. Di kunjungan keempat itu, selain bertemu Kalla, delegasi Taliban juga mengadakan pertemuan dengan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama dan pimpinan Majelis Ulama Indonesia. Di empat lawatannya ke Jakarta, rombongan Taliban selalu menginap di Hotel Sahid, kawasan Sudirman.

"Semua lawatan Taliban ke Jakarta atas sepengetahuan Presiden Jokowi dan Kementerian Luar Negeri," ujar Sidehabi. "Jadi semua lobi Pak JK terhadap Taliban atas perintah dan sepengetahuan Presiden Jokowi."

Sidehabi menjelaskan selama dua dasawarsa terakhir, ketika pasukan NATO dipimpin Amerika Serikat masih menjajah Afghanistan, Taliban sudah getol berdiplomasi. "Mereka sedari awal tidak mau berperang dengan sesama rakyat Afghanistan. Taliban cuma mau mengusir pasukan asing dari negaranya," tutur Sidehabi.

Hingga kemudian dicapai kesepakatan Doha pada Februari 2020. Isinya antara lain Amerika setuju untuk menarik pasukannya dari Afghanistan. Proses pemulangan itu dimulai awal Mei 2021 dan rampung akhir bulan lalu. Hanya menteri luar negeri dari lima negara, merupakan pendukung utama proses perdamaian Afghanistan, diundang dalam penandatanganan Perjanjian Dha antara Taliban dan Afghanistan itu, termasuk Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Taliban akhirnyamenjadi penguasa baru Afghanistan setelah merebut Kabul tanpa pertumpahan darah pada 15 Agustus lalu. Awal bulan ini, Taliban mengumumkan pemerintahan sementara dipimpin oleh Perdana Menteri Mullah Muhammad Hasan Akhund. Afghanistan sekarang bernama resmi Emirat Islam Afghanistan dipimpin oleh Emir Mullah Hibatullah Akhundzadah, merupakan pemimpin Taliban.

Namun sampai kini belum ada satu negara secara resmi mengakui pemerintahan Taliban belum dilantik itu. Indonesia juga masih melihat perkembangan. Namun Sidehabi berpesan jangan sampai pemerintah terlambat karena banyak peluang ekonomi di negara Asia Tengah itu.

Sidehabi membantah Kalla akan mengirim timnya ke Afghanistan bulan depan untuk melihat peluang kerjasama ekonomi dengan pemerintahan baru. "Pak JK tidak mau mendahului pemerintah," kata Sidehabi.

Peziarah Yahudi sedang berdoa dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina. (Albalad.co/Supplied)

Provokasi Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Bukan sekadar berdoa, pengajian soal Torah juga sering digelar kaum Yahudi di areal Al-Aqsa.

Ron Arad, pilot pesawat tempur Israel hilang dalam misi di Libanon pada 1986. (Israel Air Force)

Menculik jenderal Iran mencari tahu jenazah pilot Israel

Mossad mengirim dua tim: mengambil sampel DNA satu mayat di Libanon dan menculik seorang jenderal Iran di Suriah.

Rumah mewah milik Raja Yordania Abdullah bin Husain berlokasi di Malibu, California, Amerika Serikat. (BBC Panorama)

Harta rahasia penguasa negara Bani Hasyim

Properti milik Raja Abdullah di Malibu, London, Ascot, dan Georgetown senilai lebih dari Rp 1,3 triliun.

Rula Ghani, istri dari mantan Presiden Asyraf Ghani, sedang berbelanja di sebuah toko di Bandar Udara Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, sebelum terbang ke Amerika Serikat pada 29 September 2021. (Albalad.co/Supplied)

Istri eks Presiden Afghanistan Asyraf Ghani tinggalkan Abu Dhabi menuju Amerika

Asyraf Ghani lari bareng istri dan 50 kerabatnya ke UEA setelah Taliban merebut Kabul.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Provokasi Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Bukan sekadar berdoa, pengajian soal Torah juga sering digelar kaum Yahudi di areal Al-Aqsa.

13 Oktober 2021
Korupnya rezim Abbas
22 September 2021

TERSOHOR