kisah

Provokasi Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Bukan sekadar berdoa, pengajian soal Torah juga sering digelar kaum Yahudi di areal Al-Aqsa.

13 Oktober 2021 08:10

Lelaki tua Yahudi berjenggot panjang itu kelihatan khusyuk berdoa. Dia mengenakan tefillin (selendang untuk bersembahyang), berkemeja lengan panjang dan berkippah putih. Mulutnya komat kamit berbisik dengan kedua pandangan mengarah ke atas. Di sebelahnya, satu polisi pria Israel memperhatikan dengan seksama.

Tidak jauh dari situ, peziarah Yahudi perempuan tekun membaca doa dia unggah di telepon selulernya, seperti tampak dalam rekaman video dilansir Maydan al-Quds Senin lalu.

Pemandangan ini saban hari lazim terlihat di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Lebih dari seratus peziarah Yahudi dengan kawalan ketat polisi Israel datang dan berdoa di sana dengan suara pelan. Fenomena ini melanggar status quo berlaku sedari Israel mencaplok Yerusalem Timur sehabis Perang Enam Hari pada 1967: kaum non-muslim dilarang berdoa atau beribadah di dalam kawasan Al-Aqsa.

Biasanya polisi Israel akan mengusir siapa saja peziarah Yahudi dicurigai sedang berdoa. Tapi sekarang mereka seolah menutup mata. Mereka biasanya datang tanpa membawa buku doa atau mengenakan tefillin atau perlengkapan ibadah lainnya agar tidak menarik warga Palestina juga hadir untuk salat atau mengaji di Al-Aqsa.

"Selama beberapa bulan terakhir, saban pagi rombongan peziarah berdoa di Bukit Kuil (sebutan orang Yahudi terhadap lokasi Masjid Al-Aqsa)," kata Yair Cherki, reporter urusan agama di stasiun televisi Channel 12.

Pegawai Badan Wakaf merupakan pengurus Al-Aqsa mengetahui praktek itu. Mereka hanya mengawasi dari jauh tapi tidak bertindak untuk mencegah atau melarang.

Bukan sekadar berdoa, Channel 12 melaporkan pengajian soal Torah juga sering digelar kaum Yahudi di areal Al-Aqsa.

Revolusi ini terjadi lantaran dua sebab utama: makin banyak peziarah Yahudi melawat ke Al-Aqsa, sebelum pandemi Covid-19 muncul tahun lalu, bisa 35 ribu orang Yahudi datang ke sana. Faktor satunya lagi adalah makin eratnya komunikasi dan koordinasi antara aktivis keagamaan Yahudi dengan polisi Israel.

20210804_164749

"Larangan terhadap para peziarah di Bukit Kuil berdasarkan keputusan pemerintah dan Pengadilan Tinggi Yerusalem berlaku selama bertahun-tahun," kata Kepolisian Israel kepada the Times of Israel.

Pezarah merujuk pada orang Yahudi dan non-muslim lainnya datang ke kompleks Al-Aqsa.

Sebagian aktivis Yahudi girang dengan perubahan itu tapi yang lain merasa masih ada batasan. "Sayangnya itu bukan ibadah seperti orang Yahudi pergi ke sinagoge atau Tembok Ratapan," ujar aktivis bernama Arnon Segal.

Selasa pekan lalu, Hakim Bilhha Yahalom dari Pengadilan Distrik Yerusalem menetapkan orang Yahudi boleh berdoa tapi dalam hati (atau setidaknya dengan suara pelan). Vonis ini keluar setelah beberapa tahun terakhir Israel membiarkan peziarah Yahudi melanggar larangan berdoa di pelataran Al-Aqsa.

Ini keputusan pertama sejak negara Zionis itu dibentuk pada 1948.

Yahalom menegaskan doa dipanjatkan oleh orang Yahudi bukanlah kejahatan. Karena itu, dia memerintahkan kepada polisi untuk mencabut larangan berdoa diberlakukan terhadap Rabbi Aryeh Lippo.

"Kunjungannya (Rabbi Lippo) ke Kuil Bukit menunjukkan betapa pentingnya tempat itu bagi dirinya," kata Yahalom dalam putusannya.

Pengadilan Tinggi Yerusalem buru-buru menganulir vonis Hakim Yahalom itu lantaran takut akan melahirkan gelombang kekerasan baru di Yerusalem.

Menteri Keamanan Masyarakat Israel Omer Bar Lev memperingatkan perubahan sattus quo di Al-Aqsa dapat membahayakan kedamaian.

Peringatan dan larangan terus disuarakan namun provokasi Yahudi terus terjadi di arela Masjid Al-Aqsa.

Peziarah Yahudi di Al-Aqsa pada 27 September 2021. (Facebook)

Israel izinkan warga Yahudi berdoa di Al-Aqsa

Ini keputusan pertama dikeluarkan oleh pengadilan negara Zionis itu.

Al-Aqsa dan Yerusalem, simbol takluknya kaum muslim dari Zionis

Sejauh ini sudah delapan negara muslim berkhianat kepada Palestina dengan membina hubungan diplomatik dengan Israel, yakni Turki (1949), Mesir (1979), Yordania (1994), Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko (2020), serta Kosovo (2021).

Pemuda Palestina di Tepi Barat memanjat tembok pemisah untuk menuju Yerusalem. (Middle East Monitor)

Pemuda Palestina panjat tembok pemisah demi salat Jumat di Al-Aqsa

Israel sudah membangun tembok pemisah di Tepi Barat sejak 2002.

Iftar di Al-Aqsa

Ratusan warga Palestina berbuka puasa di Masjid Al-Aqsa Jumat lalu, dengan makanan donasi dari masyarakat Indonesia





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menculik jenderal Iran mencari tahu jenazah pilot Israel

Mossad mengirim dua tim: mengambil sampel DNA satu mayat di Libanon dan menculik seorang jenderal Iran di Suriah.

11 Oktober 2021
Korupnya rezim Abbas
22 September 2021

TERSOHOR