kisah

Kalah air dekap Israel

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania.

26 November 2021 14:27

Protes meletup dalam beberapa hari terakhir di seantero Yordania lantaran isu jual listrik dapat air. Mahasiswa di beragam universitas berunjuk rasa menentang kesepakatan dengan Israel itu dan menuntut pemerintahan dibubarkan.

Kelompok Al-Ikhwan al-Muslimun di negara Bani Hasyim juga mengecam kerjasama dengan Israel di sektor-sektr sensisitf, seperti energi dan air. "Israel adalah musuh tidak pernah menghormati perjanjian," kata Al-Ikhwan melalui keterangan tertulisnya.

Al-Ikhwan di Yordania tadinya dicap organisasi teroris oleh pemerintah pada 2014. Tapi setelah mereka memutus hubungan Al-Ikhwan di Mesir merupakan pusatnya di dunia, status itu dicabut. Mereka diizinkan mengikuti pemilihan umum pada 2016 dan berhasil meraup 15 dari 130 kursi parlemen.

Kesepakatan kembali menggoyang stabilitas Yordania itu adalah perjanjian segitiga antara Uni Emirat Arab (UEA)-Israel-Yordania ditandatangani Senin lalu di Kota Dubai. UEA berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Yordania dan listrik dihasilkan akan dijual ke Israel. Kesepakatan kerjasama ketiga negara ini ditandatangani Senin lalu di Kota Dubai, Uni Emirat Arab.

Berdasarkan perjanjian ini, PLTS di Yordania itu bakal mengekspor listrik ke Israel 600 megawatt tiap tahun. PLTS ini dijadwalkan beroperasi pada 2026 dan empat tahun kemudian diperkirakan dapat menyuplai dua persen dari kebutuhan listrik negara Zionis itu.

Israel juga bakal membangun pabrik penyulingan air laut dan air bersih itu kemudian dijual ke Yordania sebanyak seratus juta meter kubik per tahun. Kedua negara sebelumnya meneken kesepakatan untuk menaikkan pasokan air ke Yordania sebesar seratus juta meter kubik saban tahun dari sebelumnya 50 juta meter kubik.

Alhasil, Yordania mengandalkan pasokan air bersih dari Israel, nantinya dapat memperoleh suplai 200 juta meter kubik air tiap tahun.

Kelompok-kelompok aktivis dari Gerakan Rakyat untuk Perubahan dan Konferensi Nasional Mendukung Perlawanan sehabis salat Jumat hari ini bakal berdemonstrasi besar-besaran menolak kesepakatan dengan negara Zionis itu.

Para aktivis di Twitter menyebut langkah pemerintah Yordania ini sebagai pengkhianatan. "Negara Zionis itu mencuri gas kami lalu menjual kepada kami dengan harga tidak masuk akal untuk kebutuhan pembangkit listrik kami," kata Walid al-Ulaimat. "Kemudian kami menjual listrik kepada mereka agar dapot pasokan air mereka curi dari kami."

Hisyam al-Bustani, koordinator demonstrasi menolak pembelian gas dari Israel berdasarkan kesepakatan 2016, menegaskan perjanjian segitiga itu kian menguatkan dominasi Israel di Timur Tengah melalui proyek-proyek strategis terkait energi dan air.

"Perjanjian Wadi Araba diteken pada 1994 menempatkan keamanan air Yordania di tangan Zionis," ujarnya. "Perjanjian mengimpor gas telah menjadikan keamanan energi dan listrik di Yordania berada di tangan Zionis."

Sebagai salah satu negara mengalami defisit air terbesar di dunia, penguasa Yordania tidak memiliki pilihan lain. Menurut Basyar al-Batainah, Sekrretaris Jenderal Otoritas Air merupakan unit dari Kementerian Air dan irigasi Yordania, kekurangan pasokan untuk tahun ini saja diperkirakan 40 juta meter kubik.

The Century Foundation, lembaga kajian asal Amerika Serikat, dalam laporannya Desember tahun lalu menyebut Yordania merupakan negara kedua paling sulit memperoleh air. "Kebutuhan air mereka akan lebih dari 26 persen dari sumber dimiliki pada 2025."

Untuk menutup defisit itulah, maka Yordania dan bersepakat untuk membeli air dari Israel sebanyak 50 juta meter kubik dan tambahan 50 juta meter kubik lagi, disetujui bulan lalu.

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania. Isu air ini pula mengantarkan kedua negara sepakat untuk membina hubungan diplomatik pada 1994.

Menurut juru bicara Badan Air Israel Itai Dodi, perjanjian damai itu mengharuskan Israel menjual 45 juta meter kubik air ke Yordania tiap tahun.

Israel sudah lama menawarkan air hasil penyilingan laut namun Yordania menolak.

Mantan Perdana Menteri Yordania Jawad al-Anani menjelaskan Yordania berencana mengerjakan proyek penyulingan air laut tapi masih membutuhkan waktu lama untuk diwujudkan. Padahal negara ini membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak untuk menutup kekurangan di musim panas tahun depan.

"Israel adalah tenpat terdekat untuk membeli air...dan kedua negara saling membutuhkan," tuturnya. "Terdapat efisiensi tinggi membangun pembangkit listrik tenaga surya di gurun Yordania."

Pemerintah Yordania tahun ini mengumumkan akan memulai pengerjaan proyek penyulingan air Laut Merah, diperkirakan menghabiskan fulus US$ 2 miliar. Setelah rampung, pabrik penyulingan ini akan mampu memasok 250-300 juta meter air dari Teluk Aqabah ke seluruh wilayah Yordania.

Kalah pasokan air inilah membuat Raja Muhammad terpaksa mendekap Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Berkenalan dengan generasi Arab Zionis

Muhammad Saud di Riyadh, Luai Syarif di Abu Dhabi, dan Fatimah al-Harbi di Manama berkampanye soal bersahabat dengan Israel.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menerima kunjungan para pemuka Yahudi di Ibu Kota Ankara, Turki, 22 Desember 2021. (Video screengrab)

Nihil solusi buat Palestina dan normalisasi dengan Israel

Semakin tidak ada solusi untuk kemerdekaan Palestina, kian kuat keinginan negara-negara muslim menormalisasi hubungan dengan Israel.

Menteri Energi Israel Karin Elharrar, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) Mariam al-Muhairi, dan Menteri Air Yordania Muhammad an-Najjar pada 22 November 2021 di Dubai, UEA, menandatangani kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Yordania. (Courtesy)

UEA akan bangun PLTS di Yordania dan listriknya bakal dijual ke Israel

PLTS itu akan menghasilkan 600 megawatt listrik untuk Israel dan Yordania bakal mendapat tambahan pasokan air seratus juta meter kubik.

Saif al-Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, pada 14 November 2021 mendaftar sebagai calon presiden di Kota Sabha. Pemilihan presiden Libya akan digelar pada 24 Desember 2021. (Al-Marshad)

Relasi Libya-Israel

Selentingan beredar lama di kalangan rakyat Libya menyebutkan ibu dari Qaddafi adalah orang Yahudi telah masuk Islam.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Awak asal Indonesia dalam tahanan Al-Hutiyun

Di hari bersamaan Al-Hutiyun menyerang Abu Dhabi dan Dubai, ketua juru rundingnya, Muhammad Abdussalam, mengadakan pembicaraan dengan Presiden Iran Ibrahim Raisi di Teheran.

21 Januari 2022
Bom jelang reli, aib Saudi
07 Januari 2022

TERSOHOR