olahraga

Ulama Saudi haramkan perempuan tonton sepak bola karena lihat paha pemain

"Seorang perempuan melihat lelaki asing berdosa, bagaimana kalau melihat paha dan kostum ketatnya?"

30 Mei 2015 14:19

Seorang ulama Arab Saudi tidak disebutkan namanya telah mengeluarkan fatwa haram bagi kaum hawa menonton pertandingan sepak bola. Bukan ini menghebohkan tapi alasan pengharaman menjadi kontroversi.

Dia bilang perempuan tidak peduli siapa pemenang. "Mereka hanya peduli soal melihat paha para pemain," katanya. "Seorang perempuan melihat lelaki asing berdosa, bagaimana kalau melihat paha dan kostum ketatnya?"

Para pengguna media sosial langsung mengejek alasan fatwa itu, termasuk ratusan kicauan di Twitter. Hal ini menjadi topik tersohor dengan tanda pagar #perempuan cinta sepak bola karena paha pemain.

Seorang pengguna Twitter mengunggah foto empat pemain sepak bola bercelana amat pendek di era 1970-an. Dia menulis, "Bagus para pemain tidak memakai kostum sepak bola 1970-an, kalau tidak dosa kalian bakal makin besar."

Pangeran Abdullah bin Musaad dari Arab Saudi. (Arab News)

Pangeran dari Saudi beli klub sepak bola Prancis seharga Rp 51,4 miliar

"Ini adalah negara mengingatkan masa kecil saya dan abang saya Abdurrahman diahirkan di sana (Prancis)," ujar Pangeran Abdullah bin Musaad.

Al-Ula, salah satu daerah pelesiran dijagokan Arab Saudi buat menggaet pelancong asing. (Al-Arabiya)

Ronaldo tolak tawaran Rp 101 miliar setahun buat jadi duta wisata Saudi

Olahraga menjadi alat Saudi membersihkan pamornya.

Tim reli asal Israel mengikuti Reli Dakar berlangsung di Ara  Saudi selama 3-15 Januari 2021. (Twitter)

Sembilan warga Israel berpartisipasi dalam Reli Dakar di Arab Saudi

Mereka terdiri dari dua tim dengan memakai bendera Belgia dan Amerika sebagai samaran.

Tim reli asal Israel mengikuti Reli Dakar berlangsung di Ara  Saudi selama 3-15 Januari 2021. (Twitter)

Dua pereli Israel ikut balapan mobil di Arab Saudi

Danny Pearl dan Charly Gotlib datang ke Saudi menggunakan paspor Israel buat mengikuti Reli Dakar.





comments powered by Disqus