tajuk

Pengakuan semu buat negara palsu

Pengakuan telah diberikan lebih dari 130 negara tidak mampu mewujudkan negara Palestina merdeka dan berdaulat dalam arti sebenarnya.

05 Januari 2015 08:01

Dua bulan terakhir menjelang pergantian tahun, isu Palestina menjadi pergunjingan dunia. Bukan lantaran Israel kembali membombardir Jalur Gaza, tapi yang muncul adalah kabar gembira.

Parlemen sejumlah negara Eropa - Inggris, Irlandia, Spanyol, Portugal, dan Prancis - memberi pengakuan simbolik terhadap kemerdekaan Palestina. Tapi perlu diingat resolusi itu tidak mengikat pemerintah mereka masing-masing. Hanya pemerintah Swedia menjadi satu-satunya negara Uni Eropa mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Namun jangan dulu keburu senang. Itu sekadar pengakuan. Palestina sejatinya bukan sebuah negara. Pada kenyataannya Palestina belum merdeka dan berdaulat. Bangsa Palestina masih dijajah Israel.

Israel masih bebas melakukan operasi militer di Tepi Barat dengan alasan mencari teroris - istilah lain buat pejuang Palestina. Mereka juga tetap melanjutkan pembangunan Tembok Pemisah, mirip Tembok Berlin telah dihancurkan di awal 1990-an. Negara Zionis itu terus mengurung 1,6 juta warga Gaza dengan memblokade wilayah darat, laut, dan udara mereka.

Kalau Hamas, berkuasa penuh di Gaza sejak 2007, dianggap keterlaluan, Israel tidak segan menjadikan wilayah seluas 360 kilometer persegi itu menjadi ladang pembantaian. Sejak Israel mundur dari sana hampir satu dasawarsa lalu, negara Bintang Daud ini telah tiga kali menggempur Gaza 2008-2009, 2012, 2014).

Sebenarnya pengakuan bukan sekadar simbolik sudah jauh-jauh hari diberikan negara-negara Arab dan muslim. Tapi ya itu tadi, sekadar pengakuan. Mereka bukan hanya tidak berdaya menghadapi arogansi Israel. Bahkan lebih sering menutup mata dan telinga.

Sebagai contoh, hanya Iran dan Suriah mengakuai kemenangan Hamas dalam pemilihan umum Januari 2006. Mereka mematahkan dominasi Fatah selama empat dekade. Padahal, hasil itu dicapai lewat pemilihan bebas dan independen serta dihadiri para pemantau asing, termasuk Carter Foundation bikinan mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter.

Bahkan negara-negara katanya sudah mengakui Palestina sebagai negara tidak pernah mampu menghentikan - apalagi mencegah - kekejaman Israel. Bantuan baru datang setelah rakyat Palestina menjadi bangkai, properti mereka hancur, dan kenangan mereka lenyap.

Sokongan pengakuan dari sejumlah parlemen Eropa itu pun tidak mampu menolong resolusi diajukan Presiden Palestina Mahmud Abbas. Draf resolusi itu meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakhiri penjajahan Israel paling lambat dalam tiga tahun mendatang. Seeperti sudah dipastikan banyak pihak, konsep resolusi itu terganjal Amerika Serikat, sekutu istimewa Israel, melalui veto di pekan terakhir tahun lalu.

Kalau sudah begini, pengakuan sudah diberikan lebih dari 130 negara itu cuma pengakuan semu atas negara palsu. Pengakuan ini tidak mampu mewujudkan Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat dalam arti sebenarnya.

Dunia tanpa Israel

Negara-negara Arab dan Islam tidak bisa bersatu lantaran kepentingan nasional masing-masing berada di bawah pengaruh Amerika Serikat, sekutu abadi Israel.

Salah kaprah soal Perang Gaza

Sebagai bangsa terjajah, rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat berhak dan wajib melawan penjajah Israel dengan cara apa saja.

Sergah Palestina rangkul Israel

Bagi rezim militer di Mesir, bersahabat dengan Israel lebih menguntungkan ketimbang menolong Palestina.

Pelatihan militer buar remaja Gaza. (www.dailymail.co.uk)

15 ribu remaja Gaza ikuti pelatihan militer

Ini pelatihan militer pertama berlangsung di markas Brigade Izzudin al-Qassam.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

De-facto the Palestinian natives are annexed to Israel

The de-facto annexation created a de-facto Jewish apartheid. De-jure annexation provides Israel with legal tools to confiscate Palestinian land and expand settlements.

27 Juni 2020

TERSOHOR