tajuk

Pencabutan sanksi dan konflik Saudi-Iran

Pastinya, kedua negara bakal saling memprovokasi untuk menjatuhkan posisi masing-masing di mata masyarakat internasional.

19 Januari 2016 11:16

Kekhawatiran Arab Saudi akhirnya menjadi kenyataan Sabtu pekan lalu. Sanksi ekonomi atas Iran dicabut setelah IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) memastikan dalam laporannya negara Mullah itu sudah menghilangkan semua upaya untuk membikin senjata nuklir.

Iran kini boleh mengekspor minyak, sesuatu dilarang selama satu dasawarsa sanksi berlaku. Bank-bank Iran juga bakal terhubung kembali dengan sistem keuangan internasional. Pastinya perekonomian bakal bergairah lagi dan tumbuh mengejar ketertinggalan.

Dan Iran sudah melakukan semua persiapan jauh-jauh hari sebelum pencabutan sanksi diumumkan. Teheran sudah mengumpulkan ratusan produsen minyak dan gas dari seluruh dunia dan menawarkan kontrak lebih menggiurkan.

Maklum saja, Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia. NIOC, perusahaan minyak milik pemerintah Iran, menguasai 156,53 miliar barel cadangan minyak dan 33,79 triliun meter kubik stok gas alam. Iran siap menggenjot produksinya untuk meraup pendapatan hilang selama sepuluh tahun belakangan.

Inilah yang dikhawatirkan Arab Saudi. Pendapatan dan cadangan devisa Iran akan menggelembung sehingga cukup buat melanjutkan perang kepentingan dalam merebut pengaruh di Timur Tengah. Dan sejak permulaan tahun ini, konflik Saudi-Iran bakal lebih sengit karena Iran tidak lagi terkena sanksi ekonomi.

Mirip Israel, Saudi sebenarnya sudah merasakan kecemasan itu sejak tercapainya kesepakatan nuklir Juli tahun lalu. Riyadh takut dengan kembali Teheran ke dalam arena perekonomian global.

Saudi mengkhawatirkan aliran dana dari Iran kepada kelompok atau milisi Syiah akan makin besar. Suntikan bantuan keuangan buat mempengaruhi negara-negara di Timur tengah juga makin leluasa. Sejauh ini Iran sudah membentuk satu blok, yakni Teheran-Damaskus, Baghdad, dan Beirut.

Iran sejatinya juga berupaya menguasai politik Bahrain karena mayoritas rakyatnya Syiah dan Yaman. Kedua negara ini berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Alhasil, wajar saja negara Kabah itu melakukan intervensi militer langsung buat mengamankan halaman belakangnya itu.

Saudi berubah menjadi agresif setelah Raja Salman bin Abdul Aziz naik takhta Januari tahun lalu. Dia lantas mengangkat putra kesayangannya, Pangeran Muhammad bin Salman, sebagai wakil putera mahkota sekaligus menteri pertahanan, penggagas Perang Yaman.

Konflik Saudi-Iran kian terbuka setelah setelah pecah pemberontakan di Suriah. Untuk menghapus pengaruh Iran di negeri Syam itu, Riyadh mendukung para pemberontak. Teheran pun sama terlibat langsung di medan tempur buat mengamankan rezim Presiden Basyar al-Assad.

Tapi jangan khawatir, konflik kedua musuh bebuyutan ini tidak akan sampai pada pecah perang terbuka. Karena Riyadh dan Teheran sama-sama sadar itu hanya akan menggerus keuangan negara dan memberi peluang kepada kelompok antirezim di kedua negara buat melancarkan pemberontakan.

Pastinya, kedua negara bakal saling memprovokasi untuk menjatuhkan posisi masing-masing di mata masyarakat internasional.

Sayangnya, konflik Saudi-Iran ini meluber ke banyak negara muslim, termasuk Indonesia. Sebab Saudi merupakan pusat Wahabi dan Iran menjadi kiblat Syiah memang dua aliran saling bermusuhan.

Toleh Israel lupa Palestina

Mesir dan Yordania menjadi contoh membina hubungan diplomatik dengan Israel menguntungkan terutama terkait relasi dengan Amerika.               

Revolusi tidak serius di Iran

Bagi Amerika,  sokongan serius bagi revolusi di Iran adalah sebuah dilema.

Wajah ganda Islam terhadap Erdogan

Islam harus selaras dengan kemanusiaan. Ketika Erdogan dengan pongah masuk ke Suriah tanpa izin untuk membantai dan mengusir warga Kurdi, dia tidak pantas mengklaim atau dicap sebagai pemimpin Islam teladan.

Arogansi Erdogan dan karut marut Suriah

Serbuan Turki ini kian membuktikan karut marut di Suriah sejak pemberontakan meletup delapan tahun lalu memang akibat campur tangan asing.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR